SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Januari 2020   -HARI INI-
  Kamis, 23 Januari 2020
  Rabu, 22 Januari 2020
  Selasa, 21 Januari 2020
  Senin, 20 Januari 2020
  Minggu, 19 Januari 2020
  Sabtu, 18 Januari 2020
POKOK RENUNGAN
Serasikan agenda pribadimu dengan agenda Allah, Itulah persiapan natal terbaik dalam hidupmu.
DITULIS OLEH
Ibu Debora Fong
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  ’Melepaskan Agenda Pribadi, Beralih Kepada Tujuan Allah’
’Melepaskan Agenda Pribadi, Beralih Kepada Tujuan Allah’
Sabtu, 14 Desember 2019
’Melepaskan Agenda Pribadi, Beralih Kepada Tujuan Allah’
Matius 1:18-25

AGENDA PRIBADI dalam hidup Yusuf berencana menceraikan Maria dengan diam-diam karena tidak mau mempermalukan Maria yang sudah mengandung di muka umum. Namun belum sempat niat itu dilaksanakan, malaikat menjumpainya melalui mimpi untuk menyatakan maksud Allah. Injil Matius 1:20-2, menuliskan demikian: Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: ’Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.’ Yusuf pun mengikuti pesan malaikat Gabriel dan membatalkan agenda pribadinya diganti agenda Allah.

MEMAHAMI MAKSUD TUHAN MELALUI MASALAH merupakan bagian hidup orang Kristen yang tak terelakkan. Mungkin pada saat itu kita belum mengerti maksud Tuhan seperti Yusuf ketika hendak menceraikan Maria. Dalam kehidupan kita selalu ada masalah yang diperhadapkan. Satu hal penting yang menjadi teladan Yusuf bagi kita: “Niat baik menyelesaikan masalah janga...selengkapnya »
Akhir tahun 2019 sudah menghadang di depan mata. Dua belas bulan hampir genap terlampaui di tahun ini. Jika kita menoleh ke belakang, pengalaman-pengalaman apa sajakah yang paling menancap di benak kita? Apakah harapan-harapan yang mengembang di awal tahun 2019 telah terwujud di akhir tahun ini? Atau justru hal-hal tak diinginkan yang banyak terjadi? Sebagaimana manusia pada umumnya, kita selalu mengharapkan hal-hal yang baik dan menyenangkan terjadi dalam hidup ini. Kita berdoa untuk kebahagiaan, kesehatan, kesejahteraan, perlindungan dan masih banyak lagi. Tetapi dalam perjalanan sepanjang dua belas bulan ini, pasti ada kalanya kita mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, bahkan menyesakkan. Ada yang jatuh sakit, tertimpa musibah bencana alam, terbelit sengketa finansial, terlibat perseteruan tak terduga, terbebani masalah keluarga, dan lainnya. Sebagian orang tak habis pikir dan bertanya-tanya, “Mengapa???” Firman Tuhan yang tertulis di dalam Mazmur 119:71 menjawab kegundahan kita, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Ternyata pengalaman-pengalaman yang menyesakkan itu memberi manfaat yang baik. Memang terasa sulit untuk diterima, namun itu membantu manusia belajar tentang ketetapan-ketetapan Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan mengizinkannya terjadi meskipun manusia tak menghendaki. Jika kita mengingat kembali, harus diakui bahwa banyak pelajaran berharga yang berasal dari pengalaman-pengalaman masa lalu yang menyesakkan. Kalau bisa memilih, tentu kita tak mau mengalami hal-hal yang tidak enak. Namun tak dapat dipungkiri, kondisi yang berat itu telah membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijak daripada sebelumnya, dan lebih sanggup berserah kepada Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita terima setiap pengalaman yang hadir dalam hidup ini dengan tangan terbuka. Mari percaya bahwa Tuhan bermaksud baik dengan menolong kita belajar perintah-perintah dan hukum-hukum-Nya yang adil. Mari tetap berharap pada Firman Tuhan, sebab dalam keadaan yang paling menyesakkan pun Tuhan tetap setia. Kasih setia-Nya menjadi penghiburan kita, sesuai dengan janji yang diucapkan-Nya kepada kita. Tuhan beserta kita.
Natal telah tiba, dunia menyambut gembira, pesta pora bersama. Adakah kita termasuk di dalamnya??? Pastinya tidak karena bagi kita umat percaya, Natal bukanlah pesta pora tetapi ucapan syukur karena Dia Sang putra Allah mau lahir untuk mati buat tebus dosa kita. Dan yang tidak boleh kita lupakan adalah kedatanganNya yang ke dua yang tak seorangpun tahu, malaikat-malaikat di Surga juga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri [Mat 24:36]. Dari Matius 25:1-13 kita membaca sebuah perumpamaan yang menceriterakan bagaimana persiapan yang dilakukan oleh gadis-gadis bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh saat akan menyongsong mempelai laki-laki. Pada saat perumpamaan ini disampaikan, merupakan kebiasaan bagi seorang pengantin wanita Yahudi ditemani oleh sepuluh pengiring yang sepertinya adalah teman-teman dekat dan seumur dengan pengantin wanita. Juga merupakan adat kebiasaan, mempelai laki-laki datang malam hari dengan tidak ada kepastian jam/waktunya. Itulah sebabnya para gadis pengiring tentu harus membawa pelita saat menyongsong mempelai laki-laki. Karena jam/waktunya tidak diketahui seharusnya gadis-gadis pengiring membawa persediaan minyak. Ternyata yang membawa hanya 5 orang. Di akhir perumpamaan ini tragis bagi 5 gadis yang tidak membawa persediaan minyak dan mereka tidak diperkenankan masuk ruang pesta perkawinan. Bagaimana dengan diri kita ? Karena kedatangan-Nya yang kedua tidak bisa diprediksi, satu-satunya yang harus kita lakukan adalah selalu siap tidak boleh lengah walau sekejap. Mari kita bersikap bijaksana seperti lima gadis yang siap membawa minyak sehingga saat mempelai datang pelita masih bisa dinyalakan. Jangan sampai kita kehabisan minyak yaitu api Roh Kudus seperti lima gadis yang bodoh.Amin.
Ketika saya masih usia anak-anak, pamanku kerja di Jakarta. Dia pulang ke Salatiga 1 tahun sekali. Kebiasaan pamanku saat akan pulang, selalu mengirim surat kepada orang tuaku. Peristiwa inilah yang aku nantikan. Karena kepulangan paman ke rumah berati akan membawa barang ataupun oleh-oleh buat aku. Orang tuaku menjadi sibuk ketika menjelang kedatangan paman. Kami membersihkan rumah dan kamar buat pamanku. Sukacita sangat terasa di keluargaku menjelang sampai kedatangan pamanku. Minggu ini kita dan gereja pada umumnya di sibukkan dengan riuhnya sukacita Natal. Hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu hari penyelamatan Allah yang dinubuatkan oleh nabi Zefanya: Allah berkenan memaafkan kesalahan umat-Nya dan berkenan tinggal di antara umat-Nya. Bersorak-sorailah, bersukacita dan beria-rialah dengan segenap hati sebab Tuhan ada di antara kita, kata nabi Zefanya. Lalu, apa yang harus kita persiapkan untuk menyambut kedatangan Yesus? Yohanes Pembaptis memberikan jawaban, yaitu Pertama, berlaku adil dan jujur sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita, serta berbagi kelebihan kepada mereka yang berkekurangan [Lukas 3:10-18]. Selain kebaikan hati yang dinampakkan dalam perbuatan hidup sehari-hari, Ke dua, Rasul Paulus juga meminta kita untuk tetap mengandalkan Tuhan dan bersyukur selalu [Filipi 4:4-7]. Hal konkrit inilah yang mesti kita buat selama masa penantian. Inilah yang menjadi persiapan kita untuk menyambut Tuhan yang mau tinggal di antara kita. Saudara yang terkasih, janji keselamatan Allah yang dinubuatkan oleh nabi Zefanya terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Ketika bangsa Israel mendengar janji keselamatan ini, mereka begitu bahagia dan bersorak-sorai. Jika saja bangsa Israel yang menerima janji itu masih hidup hingga saat ini, tentu mereka akan sangat bergembira ria. Mendengar janji itu saja, mereka menjadi girang gembira, apalagi jika janji itu terpenuhi? Tentu kegirangan mereka akan berlipat-lipat. Betapa beruntungnya kita. Bangsa Israel menerima janji keselamatan itu, tetapi yang mengalaminya adalah kita. Allah tidak hanya tinggal di antara kita tetapi tinggal dalam diri kita secara pribadi, yaitu saat kita menerima komuni kudus. Karena itu kegembiraan dan sorak-sorai kita seharusnya melebihi bangsa Israel. Syukur kita seharusnya lebih hebat dari Israel. Dan apa yang dimintakan Yohanes Pembaptis dan Rasul Paulus untuk kita buat dalam menyambut Tuhan yang berkenan datang dan tinggal di antara kita, seharusnya kita buat dengan lebih sungguh-sungguh. Selamat mempersiapkan diri menyambut Natal.
Ada banyak orang Kristen tidak tertarik dan ’merasa jengah’ jika mendengar khotbah tentang ketaatan. Karena banyak yang berpikir, ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan. Misal, tidak boleh ini tidak boleh itu, pantang melanggar, jika melanggar ada sanksi atau konsekuensinya yang akan di tanggungnya. Seperti tertulis: ’maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dengan pukulan-pukulan.[ayat 32]. Karena itu tidaklah mengherankan jika orang lebih tertarik mendengar khotbah tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat dan sebagainya. Yang harus dipahami adalah bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat adalah dampak atau upah ’bukan identik’ dari ketaatan seseorang dalam melakukan perintah Tuhan. Yang harus dipahami adalah ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu. Tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang semestinya dimiliki setiap orang percaya. Ketika ketaatan sudah menjadi gaya hidup dalam diri kita, maka melakukan ketetapan-ketetapan Tuhan bukan lagi menjadi suatu beban atau hal yang memberatkan. Melainkan menjadi sebuah kesukaan. Tuhan Yesus telah memberikan keteladanan dalam ketaatan-Nya kepada Bapa sebagai gaya hidup di sepanjang hidup-Nya. Hal itu tersirat dari pernyataan-Nya, ’Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.’ Perintah Tuhan bukan bertujuan untuk membebani, namun sesungguhnya untuk kebaikan kita. Tuhan menghendaki agar kita mengalami kebaikan, kasih setia, kebenaran, kemurahanNya. Sehingga rencana-Nya tergenapi, yaitu kehidupan berkelimpahan dan masa depan penuh harapan. Namun sayang, banyak orang memilih untuk tidak taat mengikuti jalan Tuhan. Padahal ’Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian dan peringatan-peringatan-Nya.’ [Mazmur 25:10]. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadikan ketetapan-ketetapan-Nya menjadi gaya hidup kita? Seharusnya !!??
FOLLOW OUR INSTAGRAM
RENUNGAN HARIAN
Ketika Kita Tertindas
28 Desember '19
Kemarin, Hari ini dan Esok Tuhan Menolong
29 Desember '19
Eben Haezer1
27 Desember '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang