SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Tuhan tidak pernah tertidur, Dia melihat kita. Lakukan kehendak-Nya agar kita berkenan di hati-Nya.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bertobat Dengan Merubah Hidup
Bertobat Dengan Merubah Hidup
Senin, 04 September 2017
Bertobat Dengan Merubah Hidup
Matius 24:37-44

Peristiwa air bah pada zaman Nuh menjadi salah satu nasihat yang Tuhan Yesus pernah sampaikan untuk menggambarkan tentang kedatangan-Nya. Dalam peristiwa air bah, Allah sudah memperingatkan mereka melalui Nuh yang ditugaskan untuk membangun bahtera dan menyerukan kepada mereka untuk segera bertobat karena air bah akan segera melanda bumi. Namun reaksi orang-orang pada waktu itu acuh tak acuh, mencemooh dan bahkan mentertawakan Nuh. Bukannya bertobat, tapi mereka justru semakin lama malah semakin jahat. Firman Tuhan dalam Kejadian 6:5 menyatakan: ‘Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.’

Bukankah sikap mereka itu tak jauh berbeda dengan keadaan orang-orang di zaman sekarang ini? Kini banyak orang bersikap acuh dan tidak peduli terhadap perkara-perkara rohani, di mana yang mereka pikirkan adalah ‘Sampai sekarang pun Tuhan tidak datang juga, dan sepertinya semua yang tertulis dalam Alkitab itu tidak betul.” Saat ini ada banyak sekali orang-orang yang mungkin berfikiran seperti itu, sehingga akhirnya mereka tida...selengkapnya »
Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas tong sampah di depan sebuah rumah. Melihat pintu terbuka, seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas keluar menuju pintu masuk. Namun ternyata pintu kaca itu telah tertutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangan seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu. Dengan tak kenal menyerah dia mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan. Esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai. Tak jauh darinya, tampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarang untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuhnya hingga mati. mereka pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu ke sarang. Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, “Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?” “Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha. Dia telah berusaha keras keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.” Semut kecil itu manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi, “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?” Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, “Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.” Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kalian akan seperti lalat ini.” Seringkali kehidupan kita sebagai orang percaya ingin mencapai pertumbuhan menjadi serupa dengan Kristus. Kita ingin sekali keluar dari kebiasaan rutin kita dan terkadang bosan dengan kehidupan kekristenan kita saat ini, sehingga kita mengupayakan segala sesuatunya dengan cara kita sendiri. Tapi sayang ujung-ujungnya adalah hal yang sama dan membosankan. Dampak inilah yang mengakibatkan kita mulai mundur teratur dengan meninggalkan persekutuan dan ibadah. Dan itu banyak kita jumpai. Namun Yesus mengajarkan kita untuk melekat kepada-Nya. Hanya itu “ tinggal di dalam” Dia. Tujuannya adalah kita banyak belajar dan mengikuti apa yang menjadi maksud-Nya, bukan maksud kita. Dan hanya itu yang membuat kita dinamis dan menghasilkan.
“Kekristenan kita telah termakan usia”, kata Sambey, “seperti seorang lanjut usia yang letih dan tak tahu harus berbuat apa lagi selain menunggu panggilan-Nya.” Pdt. Itong yang berada di sampingnya terusik oleh perkataan itu dan berkomentar, “Kata-katamu sangat pesimis, Sam! Tak tepat diucapkan oleh seorang muda sepertimu.” Sambey merespon dengan memandang pendeta pembinanya itu dengan tatapan penuh arti. Seolah-olah Sambey mau mengatakan bahwa Pdt. Itong telah gagal paham terhadap maksud perkataannya itu. Lagi pula mendewakan rasa optimis juga sama salah kaprahnya jika keoptimisan itu hanya tinggal diam sebagai romantisme belaka. “Sebenarnya apa yang kamu maksudkan dengan perkataanmu itu, Sam?” tanya Pdt. Itong seolah-olah telah menyadari gagal pahamnya. Sambey menghela nafas panjang. “Aku ingin menyampaikan bahwa setiap orang percaya dipanggil bukan sekedar untuk menghabiskan usia. Apalagi menghabiskannya dalam rangkulan dosa yang terus dipelihara. Dalam hal ini Tuhan memakai hamba-hamba-Nya untuk melayani dan memperlengkapi jemaat. Tidak pada tempatnyalah jika jemaat hanya dinina-bobokan dengan janji-janji romantis yang tidak menjawab kerasnya tantangan hidup dan pelayanan yang sangat membutuhkan kekudusan dan kedewasaan rohani.” Pdt. Itong gantian merespon Sambey dengan tatapan sayunya. Jemaat yang terkasih, bangsa Yehuda telah lama menjadi umat Allah, namun perjalanan iman mereka terus diwarnai dengan pengalaman jatuh bangun. Dan pada zaman Nabi Yeremia, dosa mereka telah sangat parah. Kemerosotan hidup bangsa Yehuda tidak lepas dari andil para nabi dan imam yang gemar mendayu-mayu umat dengan janji-janji indah. Melalui nubuat mereka berkata bahwa bangsa Yehuda tidak akan mengalami perang dan kelaparan, tetapi damai sejahtera yang akan mereka alami [ayat 13]. Allah menyebut nabi dan imam seperti ini sebagai nabi dan imam yang bernubuat palsu. Karena janji-janji indah itu tidak selaras dengan hidup sehari-hari bangsa Yehuda yang telah bobrok dalam genangan lumpur dosa. Syukur kepada Allah. Dalam situasi yang demikian ini, Allah tidak tinggal diam dalam murka-Nya. Melalui Nabi Yeremia, Allah kembali menyatakan rahmat pemulihan-Nya setelah proses pertobatan dialami bangsa ini. Yaitu janji bahwa masa depan masih ada. Dan Allah sendiri merancangkan damai sejahtera yang menjadikan secercah harapan itu masih ada. Jemaat yang terkasih, jika dari tahun ke tahun hidup kekristenan kita tidak bertumbuh; pelayanan kita tidak berdampak; maka menjadi risaulah. Ini lebih baik daripada mengharapkan janji-janji romantisme kosong dari balik mimbar nan suci sekalipun. Inilah saat bagi kita untuk melihat diri dan membiarkan Roh Tuhan memulihkan dan membaharui kita. Relakanlah diri kita untuk menerima teguran dan nasihat yang membangun dari saudara-saudara seiman dan para hamba Tuhan. Niscaya damai sejahtera dari Tuhan akan menggairahkan hidup dan pelayanan kita kembali. Selamat mengalami secercah harapan.
Seorang ibu dengan tubuh lemah terbaring di atas tempat tidur. Ia sudah seminggu lebih menjalani rawat inap di sebuah rumah sakit. Kondisi sakitnya bisa dibilang lumayan parah. Bahkan karena sulit bernafas, maka dokter harus memasang alat dengan membuat lubang di pangkal lehernya. Tetapi kesan sedih tidak terpancar dari wajahnya. Setiap kali sahabat, kerabat, dan kenalan datang menjenguknya, senyuman selalu terlihat mengembang di bibirnya. Ketika mengalami kesulitan berbicara, ia selalu mengangkat dan menggerakkan kedua jari telunjuknya ke atas dan kemudian mengacungkan kedua jempol tangannya seolah-olah ingin berkata, “Tuhan selalu baik.” Ia begitu tabah hati menghadapi sakitnya. Untuk tabah bukanlah perkara yang mudah. Tabah bukan sekedar sabar, tetapi jauh lebih dari itu. Ada sisi panjang sabar di dalamnya. Karena ketabahan berarti ketahanan [daya tahan] untuk bersabar dalam menghadapi penderitaan, kesukaran, pergumulan, dsb. Bisa dibilang ketabahan adalah ketekunan untuk terus menerus bersabar. Sikap itulah yang dinasihatkan oleh Paulus kepada para penumpang dan crew kapal yang ditumpanginya menuju Roma ketika mereka diombang-ambingkan oleh angin badai yang besar di tengah lautan. Berhari-hari mereka harus berjuang dan bertahan hidup mengatasi ganasnya gelombang. Tidak bisa tidur dengan nyenyak, tidak bisa makan dengan enak. Selalu kuatir karena nyawa yang terancam. Putus asa karena berbagai cara diusahakan untuk menyelamatkan diri tetapi tidak membawa hasil. Cukup berat situasi yang harus mereka hadapi. Fisik mereka capek, energi mereka terkuras, mental mereka kelelahan dan semakin lemah. Tentu dibutuhkan ketabahan hati untuk tetap bertahan. Ketika semua orang mengalami keputusasaan dan kehilangan harap, Paulus tetap tabah hati. Apa yang membuatkan tetap tabah? Ia tetap tabah karena percaya kepada Allah yang sanggup memelihara dan menyelamatkan dari situasi sulit yang sedang dihadapinya. Percaya kepada penyertaan dan pemeliharaan Allah-lah yang membuatnya tetap tabah; tetap bertahan dan kuat menghadapi kesukaran; tetap bertekun dalam kesabaran menanti pertolongan Tuhan. Sehingga dalam situasi sesulit dan seberat apapun, ia tetap optimis, tetap semangat, dan selalu menghadapi semuanya dengan senyuman sukacita. Pengharapannya tidak pernah pupus. Jemaat Tuhan yang terkasih, kita bisa berespon seperti ibu yang sedang menjalani perawatan dan juga seperti rasul Paulus saat menghadapi penderitaan, kesakitan, musibah, kerugian ataupun pergumulan-pergumulan berat lainnya. Dengan tetap tabah hati, maka hidup kita akan lebih terasa ringan dan lebih mudah. Oleh sebab itu Pandanglah saja kepada Yesus yang penuh cinta dan kasih setia.
Terang bagi yang berjalan di kegelapan Yesaya 9:1, 5 Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. [ayat 1] Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. [ayat 5] Beberapa tahun yang lalu [sudah cukup lama, saya tidak ingat persis tahunnya] mobil saya mengalami masalah di lampu depannya [lampu besar], mungkin karena sekringnya putus. Padahal waktu itu saya dalam perjalanan turun dari Kopeng menuju Ungaran, sendirian, pada malam hari. Kondisi jalan sangat gelap, menurun dan berkelok-kelok. Tidak ada yang saya mintai bantuan. Dengan perasaan takut saya tetap menjalankan mobil itu pelan-pelan sekali, di tengah kegelapan, hanya dengan penerangan lampu kecil saja. Takut karena salah-salah bisa masuk jurang. Kegelapan adalah sesuatu yang menakutkan. Kita tidak bisa melihat apa yang di hadapan kita. Kegelapan bisa membawa kita pada celaka. Oleh sebab itu kita tidak suka dengan kegelapan. Kegelapan menggambarkan keadaan yang buruk di dalam hidup kita. Kita merasa bahwa dunia ini gelap ketika kita sedang mengalami hal yang buruk dan tak terkendali. Mungkin itu berupa datangnya sebuah peristiwa yang tak kita kehendaki seperti musibah, sakit penyakit, kegagalan, dan sebagainya. Mungkin itu berupa kehilangan orang yang kita kasihi secara tiba-tiba. Atau berupa hal lain yang tak bisa kita prediksi dan mengejutkan kita. Orang yang mengalami hal itu akan merasa jalannya gelap dan menakutkan. Ketika kita menghadapi saat-saat yang gelap di dalam kehidupan kita, apakah kita akan berputus asa, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, atau bahkan menyalahkan Tuhan? Kristus datang ke dalam dunia ini untuk memberikan pengharapan bagi orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan. Dia adalah Terang itu sendiri. Dia adalah Imanuel, menyertai kita dalam menjalani saat-saat gelap di dalam hidup kita. Sehingga kita tidak perlu takut sebab kita tidak berjalan sendirian di dalam kegelapan. Dia adalah Terang, sehingga Dia dapat menunjukkan kepada kita jalan yang aman, sehingga kita dapat lolos dari kegelapan itu. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berbuah Lebat
25 November '17
Keledai Yang Berpikir Positif Dan Berusaha
08 Desember '17
Hidup Bersama Mertua
14 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang