SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
[1] Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: ’Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. [4] Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, .....
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Dihargai Dan Dipulihkan
Dihargai Dan Dipulihkan
Minggu, 07 Januari 2018
Dihargai Dan Dipulihkan
Yesaya 43:1, 4a
Dihargai dan dipulihkan

Yesaya 43:1, 4a
[1] Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: ’Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. [4] Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, .....

Satu minggu kita sudah menjalani tahun 2018. Di depan kita ada hari-hari yang penuh ketidakpastian. Firman Tuhan di atas memberi kita kekuatan agar kita tidak takut menjalani hari-hari di depan kita.

Bangsa Israel pernah mengalami hari-hari yang penuh kesulitan, oleh karena kesalahan mereka sendiri. Mereka meninggalkan Tuhan dan berpaling kepada illah-illah lain. Maka Tuhan menyerahkan mereka kepada bangsa lain yang menindas mereka. Yerusalem dikepung oleh tentara Babel dan akhirnya jatuh ke tangan bangsa asing itu. Mereka ditawan dan diangkut ke negeri Babel dan di sana dipekerjakan sebagai budak. Dalam kond...selengkapnya »
Ungkapan ini tepat sekali dikenakan pada Tuhan Yesus. Dia peduli kepada manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang terhilang tanpa pengharapan ditemukan kembali oleh Penciptanya, untuk mewarisi Kerajaan-Nya. Kita sebagai umat tebusan-Nya harus menjadikan ungkapan ini tidak sekedar slogan saja, tetapi suatu tema kehidupan yang di praktikkan. Tuhan Yesus datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani, bukan untuk dipedulikan tapi mempedulikan [Matius 20:27-28]. Sesungguhnya untuk mengaplikasikan ungkapan ini secara benar, diperlukan pertaruhan yang sangat mahal, yaitu segenap hidup kita. Kepedulian terhadap sesama harus lahir dari kerelaan memberi diri, dan hanya kita sendiri yang bisa menggairahkannya sesuai dengan kehendak bebas yang sudah Tuhan karuniakan. Dalam kisah orang Samaria yang baik hati, kepedulian yang dimiliki oleh orang Samaria lahir dari kesadaran diri yang murni/tulus, suatu kepedulian tanpa pamrih [Lukas 10:30-37]. Imam dan Lewi dalam kisah tersebut tentuya sudah memahami tentang kepedulian terhadap sesama, tetapi mereka tidak memiliki hati untuk orang lain. Kepedulian terhadap sesama adalah respon kita terhadap keselamatan yang Tuhan anugerahkan kepada kita, kesadaran untuk membalas kebaikan Tuhan. Bila kita sudah ditebus dengan harga yang begitu mahal dan dilepaskan dari api kekal, seharusnya sudah cukup mendorong kita untuk membalas kebaikan Tuhan. Namun bila kita mempunyai pola pikir bahwa hidup untuk mencari keuntungan dan kesenangan duniawi, pasti tidak akan mengerti hal kepedulian ini. 1. Tuhan Yesus telah memberi teladan kepedulian ini [Lukas 9:11], dengan ciri-ciri: Kepedulian dilandasi oleh kasih, bukan upah. Seperti yang diperagakan oleh rasul Paulus ketika dia berkata, “Upahku adalah kalau aku boleh melayani tanpa upah” [1 Korintus 9:18]. 2. Semua bentuk kepedulian harus mengarah kepada keselamatan dalam Tuhan Yesus. Bukan sekedar untuk membantu memenuhi kebutuhan jasmani, bukan untuk kepentingan sesuatu atau seseorang. Bukan sekedar membuat jemaat menjadi anggota gereja yang rajin datang ke gereja, tetapi benar-benar bisa mengubah mereka menjadi sempurna seperti Bapa, berkepribadian Anak Allah yang layak menjadi mempelai Tuhan yang tak bercacat di hadapan Tuhan.
Pesta akhir tahun seakan menjadi puncak dari segala sukacita setelah 365 hari melewati kehidupan yang penuh dengan lika-liku. Rasa puas, lega, bahagia tertumpah di akhir tahun itu, beriringan dengan doa-doa yang dipanjatkan di detik-detik akhir ataupun sorak-sorai yang gegap gempita menyambut datangnya hari yang baru di tahun yang baru. Seiring dengan berakhirnya pesta akhir tahun, munculah tanda tanya besar, bagaimana dengan tahun yang akan datang? Apakah yang akan terjadi, apakah usaha dan pekerjaan bisa berjalan seperti tahun yang lalu? Apakah kesehatan akan menjadi lebih baik ataukah memburuk? Bagaimana dengan situasi politik, keamanan negara dan bangsa? Bagaimana dengan keluarga, studi anak-anak? Bayangan pertanyaan-pertanyaan itu akan dengan mudah membuat nyali kita menciut ketika kita tahu bahwa semakin hari hidup tidak semakin mudah. Tantangan, masalah, dan persoalan sudah pasti akan menghadang langkah-langkah kita. Demikian juga ketika Tuhan memanggil Abram untuk pergi dari tanah kelahirannya menuju ke negeri yang dijanjikan Tuhan. Abram tidak mengetahui tujuan pastinya, bagaimana keadaan negeri tersebut, berapa lama harus melakukan perjalanan, bagaimana dengan keamanan dalam perjalanan, dll. Yang dilakukan Abram ialah percaya kepada Tuhan karena Abram mengenal siapa yang menyuruhnya pergi. Abram percaya bahwa Tuhan yang “dipercaya”nya tidak akan meninggalkan, tidak akan menelantarkan, dan tidak akan menjerumuskannya. Belajar dari Abram dalam menempuh perjalanan menuju ke negeri yang dijanjikan Tuhan, kita bisa meneladani apa yang dilakukan Abram kepada Tuhan. Percaya saja, Dia pasti akan menuntun kita menempuh perjalanan di tahun yang baru ini. Dia tidak akan meninggalkan kita begitu saja, tapi akan terus menyertai. Dia menyediakan yang kita perlukan. Apa yang kita butuhkan dalam menjalani hari-hari yang akan datang? Rasa aman? Kekuatan? Penghiburan? Hikmat? Semua akan diberikan bagi kita. Mendirikan mezbah dan memanggil nama Tuhan, itu yang dilakukan Abram selama dia melakukan perjalanan ke negeri yang dijanjikan Tuhan [ayat 7-8]. Kita bisa meneladani apa yang dilakukan Abram supaya perjalanan kita melewati tahun 2018 inipun dapat kita jalani dengan berhasil. Jangan takut, jangan menjadi tawar hati untuk memulai langkah di tahun yang baru ini, tapi percaya saja… Dia pasti menolong kita.
Saya bersyukur dilahirkan di tengah-tengah keluarga sederhana. Penghasilan orangtua hanya pas-pasan. Sehingga untuk membeli barang kebutuhan lainnya harus susah payah untuk mencari. Ketika akan memasuki kelas 3 SLTA, sepatu saya kelihatan rusak parah, maka saya berniat meminta kepada orangtua. Tetapi saya tidak berani meminta karena kondisi pekerjaan dan ekonomi. Sore itu tiba-tiba ibu menghampiri saya serta menegor mengapa saya tidak memberitahu kalau sepatu saya sudah rusak. Kemudian ibu mengajari saya agar “menyisihkan Rp. 200,- dari Rp. 500,- uang saku saya tiap hari. Ketika ibu memberi uang di pagi hari, ia selalu mengarahkan saya memasukan uang Rp. 200,- ke dalam “celengan” bambu. Ibu mengajari saya “menyisihkan” bukan “menyisakan” uang saku saya. Alasannya kalau menyisihkan berati benar-benar menyendirikan, disiapkan khusus. Sedangkan kalau “menyisakan” berati meninggalkan sedikit. Dan hasilnya, dalam jangka waktu 1 tahun, saya bisa membeli sepatu walaupun ibu harus menambah sejumlah uang, namun tidak memberatkan. Rumusan “sisihkan, bukan sisakan” seharusnya juga menjadi rumusan untuk waktu khusus bersama Tuhan. Seperti Daniel. Daniel adalah pembesar negara yang tentu sangat sibuk [ayat 3-4], tetapi yang mengagumkan, ia sudah punya tempat, waktu, bahkan metode yang tetap untuk bersekutu dengan Allah [ayat 11]. Dalam konteks ini, Daniel memang sedang terancam akan dilemparkan ke gua singa. Namun berdoa tiga kali sehari bukan dilakukannya karena panik dengan ancaman itu. Hal ini dicatat sudah menjadi pola kebiasannya. Ia benar-benar menyisihkan yang terbaik untuk Allah, bukan memberi sisa. Mungkin selama ini kita hanya memberi sisa-sisa waktu, sisa-sisa tenaga, serta kemauan sehingga waktu bersama Tuhan tidak berisi. Mari ubah pendekatan kita dengan menyisihkan [menyediakan], bukan menyisakan, waktu untuk berdoa dan membaca firman-Nya. Mungkin awalnya terasa berat, tetapi mintalah pertolongan Roh Kudus agar kita bijak menempatkan prioritas hidup dan diperkenankan menikmati persekutuan yang indah dengan Allah tiap hari. Persekutuan dengan Allah menolong kita menghadapi situasi hidup apapun. Di Tahun 2018 ini beri dan siapkan waktu khusus untuk Tuhan agar hidup kita makin berkenan di hadapan-Nya. Amin. [ATL] Pokok renungan: Temui Tuhan dengan menyisihkan waktu khusus untuk menghadap-Nya.
Pernahkah kita memperhatikan minuman bersoda ketika dibuka dan kemudian dituangkan ke sebuah gelas? Ketika sebuah botol atau kaleng minuman bersoda dibuka akan menimbulkan suara mendesis. Suara tersebut berasal dari tekanan gas karbon dioksida yang keluar dari dalam botol atau kaleng. Ada dorongan gas yang kuat keluar sehingga menimbulkan bunyi. Kemudian ketika dituang ke dalam gelas, maka akan ada busa yang mengembang dengan cepat ke atas tetapi sesaat kemudian hilang. Beberapa orang mengatakannya sebagai efek soda. Kelahiran Tuhan Yesus ke dunia menyiratkan semangat Natal itu sendiri. Dari renungan-renungan warta yang telah kita baca selama bulan Desember ini dan dari ayat nats hari ini tentang nubuatan seorang hamba Tuhan yang menderita, kita bisa mendaftarkan semangat Natal yang bisa terus kita hidupi setiap hari, dan bukan hanya sekedar ketika menyambut Natal di bulan Desember. Semangat itu antara lain: semangat kesederhanaan, semangat kepedulian kepada sesama, semangat cinta kasih dan hidup damai dengan sesama, semangat mengabdikan hidup dan kerelaan berkorban bagi Tuhan, dan masih banyak lagi yang bisa kita sebutkan. Tetapi intinya, bukan pada seberapa banyak semangat Natal yang bisa kita daftarkan, tetapi justru pada seberapa banyak semangat Natal yang bisa kita praktikan dan hidupi. Beberapa hari yang lalu kita merayakan Natal dengan penuh antusias dan sukacita yang besar. Ibadah Christmas Eve dan Christmas Celebration dikemas dengan acara yang menggugah jiwa dan memberi gairah baru. Ada berkat rohani yang kita peroleh dari ibadah-ibadah tersebut. Tetapi lebih dari itu, harapannya adalah Natal tidak sekedar menjadi semacam ‘efek soda’ dalam kehidupan kita, yang hanya memacu dan menyemangati kita sesaat saja. Hendaknya semangat Natal terus mewarnai kehidupan kita di hari-hari selanjutnya, khususnya di tahun 2018 yang beberapa hari lagi kita masuki.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Waspada Terhadap Pengaruh Gairah Zaman
19 Januari '18
Milikilah Hati Tuhan Yesus
17 Januari '18
Menghayati Anugerahnya
26 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang