SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Januari 2020   -HARI INI-
  Kamis, 23 Januari 2020
  Rabu, 22 Januari 2020
  Selasa, 21 Januari 2020
  Senin, 20 Januari 2020
  Minggu, 19 Januari 2020
  Sabtu, 18 Januari 2020
POKOK RENUNGAN
Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Melayani Dengan Pengorbanan
Melayani Dengan Pengorbanan
Minggu, 15 Desember 2019
Melayani Dengan Pengorbanan
Matius 1:24
Melayani dengan pengorbanan

Matius 1:24
Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

Peristiwa kelahiran Yesus Sang Juruselamat dunia bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Minggu yang lalu kita telah melihatnya dari pengalaman Maria, sebagai pihak yang dijumpai oleh Malaikat Tuhan untuk menerima kabar bahwa dirinya akan dipakai menjadi sarana bagi kelahiran Yesus di dunia ini. Maria telah menerima tugas yang berat itu, namun penuh dengan anugerah.

Minggu ini kita melihatnya dari sudut pandang Yusuf. Yusuf sebagai tunangan Maria, tentu mengalami kenyataan yang berat juga. Maria tunangannya ternyata telah mengandung. Tentu kenyataan ini mengguncangkan jiwa Yusuf. Pada saat mendengar bahwa tunangannya mengandung tentu saja perasaannya kalut, campur aduk, antara marah, malu, dan penuh tanda tanya, ’Benarkah Maria mengandung oleh Roh Kudus?’ Sampai-sampai dia hendak men...selengkapnya »
Sama seperti awal tahun lalu, awal tahun ini hanya sedikit orang menyambut dengan kegairahan. Kelesuan ekonomi dunia, pergumulan gereja dan kebutuhan keluarga mesti dicukupi, cukup menyita sisi ruang pikiran orang-orang yang berpenghasilan pas-pasan. Sambey yang berasal dari keluarga sederhana turut merasakan sepinya kegairahan tahun baru ini. Meski awal tahun 2020 tetap disambut meriah oleh masyarakat dan jemaat. Kembang api berseliweran memecah kegelapan malam kota Semarang. Trompet dibunyikan dengan nyaring. Doa syukur dan pengharapan dipanjatkan dengan penuh semangat di gereja-gereja. Namun, keceriaan itu hanya sesaat. Sebagai tradisi perayaan semata. Pagi harinya, Sambey kembali harus berpikir dan bergelut menata masa depannya. Ia baru saja lulus sarjana. Dan awal tahun ini adalah langkah pertamanya untuk menapaki dunia kerja yang tak kunjung didapatnya. Sama dengan Sambey, Benay baru lulus sarjana pula. Bedanya Benay telah bekerja sebagai asisten juru masak yang telah ditekuninya beberapa bulan sebelum wisuda. Namun Benay tak luput juga dari pergumulan. Pikirannya tersita dengan status jomblo tak kunjung hengkang dari hidupnya. Benay merasa ragu apakah tahun ini ia akan mendapatkan tambatan hati. Jemaat yang terkasih. Pergumulan Sambey dan Benay di atas adalah gambaran pergumulan yang ada dalam setiap diri manusia. Pergumulan tidak dapat dihapuskan dengan pijar kembang api dan bunyi terompet tahun baru. Pergumulan itu harus diterima sebagai bagian hidup. Sama seperti orang Yahudi terbuang di Babel. Mereka diminta oleh Nabi Yeremia untuk menerima pergumulan itu. Namun bukan menerima secara pasif—pasrah—tetapi menerima pergumulan itu dengan iman. Bahwa kelak, sesuai dengan janji Tuhan, mereka akan dibebaskan dari pergumulan itu. Menerima pergumulan dengan iman, berarti tidak tinggal diam dalam tetes air mata dan penyesalan yang tiada putus. Pergumulan hidup mesti disikapi dengan tetap melakukan apa yang bisa dilakukan. Di Babel, orang Yehuda diminta untuk tetap menjalankan kehidupan sehari-hari. Mereka diminta untuk mendirikan rumah, menikah dan mempunyai keturunan, bahkan mereka diperintahkan untuk turut mengusahakan kesejahteraan kota/masyarakat Babel. Sambil menunggu penggenapan janji Tuhan kepada mereka. Dengan demikian, orang Yehuda tidak kehilangan harapan, sabar dalam penantian dan terus berjuang dalam pergumulan yang mereka alami. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Jika ada di antara kita yang menapaki tahun baru ini dengan pergumulan-pergumulan hidup yang belum usai. Janganlah takut dan menjadi lemah. Marilah tetap beriman dalam menjalani tahun 2020 ini. Dengan demikian pengharapan kita terpelihara dan kita diberi anugerah kesabaran dalam penantian janji Tuhan. Jadi tetaplah bersukacita dalam perjuangan hidup ini. Terpujilah Tuhan!
Kemarin, Hari ini dan Esok Tuhan Menolong 1 Samuel 7:12 Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: ’Sampai di sini TUHAN menolong kita.’ Samuel mendirikan sebuah batu sebagai tugu peringatan bahwa sampai pada saat itu Tuhan sudah memberi pertolongan kepada bangsa Israel. Tugu peringatan itu berfungsi selain sebagai pengingat tentang apa yang sudah dialami pada masa lalu, tetapi juga penguat untuk menghadapi tantangan di hari esok. Ayat ini mengajarkan agar kita selalu mengingat pertolongan Tuhan. Jika kita mengingat akan pertolongan-Nya maka kita tidak akan mudah bimbang/ragu/takut dalam menghadapi kesulitan dan kesusahan di masa yang akan datang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, tetapi kita bisa mengingat apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup kita. Tuhan tetap sama. Tuhan yang kemarin pernah menolong kita adalah Tuhan yang berjanji akan menolong kita kembali. Janji-Nya tidak berubah. Bagaimana agar kita mengalami pertolongan Tuhan pada saat kita memerlukannya? Ayat 3 mengatakan: ’Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.’ Berbalik kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hati adalah langkah pertama agar kita mengalami pertolongan Tuhan. Biasanya kalau dalam kondisi terjepit orang baru sadar bahwa dia butuh Tuhan. Tuhan hanya sebagai tambal butuh. Tetapi Tuhan tahu siapakah orang yang mencari Dia dengan sungguh-sungguh atau pura-pura. Orang yang sungguh-sungguh pasti akan meninggalkan jalan hidupnya yang salah. Ada yang harus kita singkirkan ketika kita mau berbalik kepada Tuhan. Hal-hal yang tidak berkenan di hadapan-Nya harus kita singkirkan. Langkah yang kedua agar mengalami pertolongan Tuhan adalah dengan berseru kepada-Nya sampai datang pertolongan dari Tuhan. Ayat 8 mengatakan: Lalu kata orang Israel kepada Samuel: ’Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu.’ Jangan berhenti berseru kepada Tuhan, itulah kuncinya. Ketika situasi menjadi genting, umat Tuhan tidak lari, tapi mereka berseru kepada Tuhan, sampai Tuhan menolong mereka. Banyak orang berdoa minta pertolongan Tuhan, tapi hanya sekedar saja. Setelah sekali dua kali, lalu berhenti, karena pengharapannya kepada Tuhan tidak sungguh-sungguh. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2020. Jangan lupakan pertolongan Tuhan, beribadahlah hanya kepada Tuhan, dan bertekunlah dalam doa, agar kita selalu mengalami penyertaan dan pertolongan-Nya. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Saya pernah memotong bambu dengan ukuran satu meter. Alat pengukur yang saya gunakan adalah “meteran” yang sudah lama saya beli dari toko besi. Pada saat saya mau memotong bambu satu meter lagi ternyata “meteran” yang akan saya pakai sebagai pengukur tidak saya temukan. Entah di mana, saya lupa meletakkan. Akhirnya saya menggunakan bambu satu meter yang sudah saya potong pertama sebagai alat pengukur. Alhasil potongan bambu berikutnya ternyata tidak tepat satu meter panjangnya. Mengapa? karena alat pengukur, yang bukan “meteran” itu bukanlah alat pengukur yang benar [standar]. Dalam Efesus 4:21 dikatakan bahwa,”... kita telah menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,...”. Apa yang terjadi setelah menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran Yesus? Yang terjadi adalah kita diperbaharui roh dan pikiran kita [ay.23]. Ketika kebenaran Kristus, yaitu firman Tuhan Yesus, kita terima secara terus menerus, bukan sekali atau “sekali-kali”! maka firman kebenaran itu kita serap dengan iman maka terjadilah pembaharuaan roh dan pikiran kita. Maka segala perbuatan, perilaku, tingkah-laku, perkataan, yang kita munculkan dalam kehidupan sehari-hari adalah karakter Kristus yang telah ‘meresap’ masuk dalam hidup kita. Hidup kita menampilkan karakter Kristus, sehingga kita menjadi serupa dengan Yesus [2 Kor.3:18]. Hidup kita jadi benar seperti Yesus, karena ukuran kebenaran yang dipakai tepat yaitu kebenaran Kristus. Kebenaran Kristus yang ada pada kita menjadikan kita memiliki suatu ciri khas yaitu ciri khas sebagai murid Yesus, berkarakter Kristus. Bagaimana jelasnya? Ketika kita berkarakter Kristus maka kita akan melakukan seperti yang dikehendaki Kristus, yaitu “Kristus datang untuk melayani bukan dilayani, [Mrk. 10:45]. Murid Yesus memiliki ciri khas hidup melayani dan mengasihi seorang terhadap yang lain [1 Pet. 4:7-11]. Semua yang kita lakukan adalah kebenaran yang diimplementasikan dalam bentuk pelayanan pertama-tama kepada saudara seiman kemudian keluar kepada sesama manusia. Tampak sangat sederhana perintah Yesus bagi kita yaitu seorang terhadap yang lain harus mengasihi dan melayani dengan kata lain adalah perintah untuk saling mengasihi, sebagai perintah baru. Sebuah transformasi [perubahan] akan terjadi di mana-mana apabila prinsip saling mengasihi dan melayani itu dijalankan, di keluarga yang merupakan lembaga terkecil bahkan sampai pada tingkat organisasi terbesar yaitu suatu Negara akan terjadi perubahan. Mengapa demikian? karena dalam prinsip saling mengasihi dan melayani terjadi sebuah kegerakan yaitu semua melayani dan semua terlayani. Perubahan terjadi.
Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita Negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan sangat deras, hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu Negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda. Wanita itu menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda. 7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna [1960-an !] khusus dikirim kerumahnya. Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah : “ Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu” Tertanda Ny.Nat King Cole. Perempuan kaya Sunem memberikan pertolongan kepada Elisa. Ia mengetahui bahwa Elisa adalah seorang abdi Allah. Sehingga ia selalu memberi makan setiap Elisa melakukan perjalanan ke daerah tersebut. Bahkan pada kesempatan yang baik, ia membuatkan sebuah kamar lengkap dengan perabotannya. Ia melakukan semua itu bukan semata-mata karena ia ingin menunjukkan kehidupannya mampu, tetapi memang ia sungguh memiliki kebaikan hati untuk menolong sesama serta menunjukkan perhatian kepada kepentingan orang lain. Elisa mengetahui bahwa perempuan Sunem sudah tidak lagi membutuhkan apa-apa lagi. Elisa melalui hambanya, menanyakan apa yang dibutuhkan oleh perempuan itu. Ternyata satu hal yang belum dimiliki olehnya, yaitu keturunan. Perempuan itu merindukan kehadiran seorang anak dalam hidupnya. Dengan perantaraan Elisa, Tuhan memenuhi kebutuhan perempuan itu, yaitu memberikan seorang anak baginya. Jemaat terkasih, salah satu bentuk pelayanan adalah memberikan pertolongan. Dari ilustrasi dan kisah perempuan Sunem, menjadi teladan yang baik bagi kita. Bentuk sederhana dari pelayanan yang bisa kita lakukan kapanpun dan di manapun. Oleh karena itu, mari terus melayani Tuhan setiap ada kesempatan, karena bagi Dialah segala kemuliaan.
FOLLOW OUR INSTAGRAM
RENUNGAN HARIAN
Andalkan Tuhan
03 Januari '20
Kemarin, Hari ini dan Esok Tuhan Menolong
29 Desember '19
Berpegang Pada PerintahNya
04 Januari '20
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang