SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Kesombongan punya naluri untuk menyembul ke permukaan meskipun diselimuti oleh ungkapan yang merendah.
DITULIS OLEH
Ibu Evylia H. Goenawan
Ibu Gembala
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Humblebrags
Humblebrags
Senin, 12 Februari 2018
Humblebrags
Amsal 16:18

Suatu hari sebuah status facebook seorang teman yang dikenal sebagai pribadi yang sederhana membuat mata terbelalak. Kira-kira begini bunyinya, ’Wah, aku bingung mau BERHEMAT bagaimana lagi. UANG JAJAN ANAK dari 7 JETI SEMINGGU sudah kupangkas jadi separuhnya! Tapi kepala masih saja nyut-nyutan dengan GAJI MEPET seperti ini.’

Dan status itu ramai menuai komentar dari mana-mana. Ada yang memuji-muji keberuntungannya yang bagi sebagian orang bagaikan mimpi. Ada juga yang mengecam keluhannya sebagai kamuflase untuk mewartakan ke’tajiran’nya. Sampai akhirnya si pemilik status menyatakan bahwa itu hanya status main-main. Ternyata dia sedang mengikuti tantangan membuat status ’humblebrags’.

Meninggikan diri dengan kemasan kalimat yang ’merendah’, itulah humblebrags. Saking seringnya menjumpai model yang seperti ini, sampai-sampai ada yang mendapat ide untuk melombakannya sebagai guyonan satire.

Di pasar, di perkumpulan RT, di arena olah raga, di layar tel...selengkapnya »
Benay dan Rabenay berdiri berdampingan bagai pinang dibelah dua. Dua bersaudara nan bersahaja itu sangat mirip, hanya terpaan usia sajalah yang membedakan wajah mereka. Malam hari itu mereka hadir dalam keramaian sebuah acara yang diadakan untuk menyambut kedatangan Benay dari Iraq. Acara ini digagas oleh anggota persekutuan wanita gereja yang berkolaborasi dengan pemuda-pemudi gereja. Benay tampak sibuk meladeni ucapan selamat dari jemaat yang hadir. Meski tampak lelah namun sukacita bersinar di wajahnya yang terus tersenyum dan sekali-kali tertawa bahagia. Tiba saatnya bagi Benay untuk memberikan kesaksiannya. Pdt. Itong yang didapuk sebagai pembawa acara dengan penuh semangat memanggil Benay. Benay pun bersaksi, “Bapak, Ibu dan Saudaraku sekalian tentu tahu bahwa saya dan Mas Rabenay ini yatim-piatu. Orangtua kami sudah lama meninggal dunia. Dan selama ini saya diasuh oleh paman saya di kota ini. Sedangkan Mas Rabenay hidup mandiri dengan bekerja di pelabuhan. Namun syukur, malam ini Tuhan menyatakan kepada kami bahwa kami tidak pernah kehilangan orangtua. Bapak dan Ibu sekalian adalah orangtua bagi kami. Dan kawan-kawan pemuda-pemudi adalah saudara-saudara kami. Kamimasih dan akan selalu mempunyai keluarga di dalam Tuhan!” Sontak seluruh jemaat yang hadir bertepuk tangan riuh. Beberapa orang tampak meneteskan air mata haru. Termasuk Mbah Wanidy yang malah menangis sesenggukan. Jemaat yang terkasih. Sama seperti yang tampak dari kisah di atas dan yang disaksikan Benay. Sesungguhnya kita pun adalah keluarga di dalam Tuhan. Sebagaimana disampaikan oleh Tuhan ketika seseorang berkata kepada-Nya bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya ada di luar dan berusaha menemui-Nya. Rupanya, ibu dan saudara-saudara Yesus kesulitan menerobos kerumunan orang dalam jumlah besar yang sedang mendengarkan sabda-Nya. Ketika itu Tuhan menjawab sambil menunjuk kepada murid-murid-Nya, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!” Bukanlah maksud Tuhan untuk tidak menghormati Maria sebagai ibu-Nya dan mengasihi saudara-saudara kandung-Nya. Namun Tuhan memperluas cakupan keluarga-Nya. Keluarga-Nya tidak hanya dibatasi oleh faktor garis darah [keturunan], tetapi ditentukan oleh faktor sikap hidup. Setiap orang yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-saudara Tuhan dan ibu-Nya juga. Dengan demikian, kita yang mau hidup sesuai dengan kehendak Allah, kita adalah keluarganya Tuhan. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Marilah kita bersukacita dalam ucapan syukur! Sebab Tuhan berkenan menjadikan kita bagian dari keluarga-Nya. Marilah kita terus mengarahkan padangan kita pada kehendak-Nya dengan tekun membaca dan mendengarkan sabda-Nya setiap hari. Dan berusahalah untuk menjalin hubungan yang penuh kasih dan saling memperhatikan antar saudara-saudara kita di dalam keluarga besar Tuhan ini. Selamat menjadi keluarga Tuhan. Terpujilah Tuhan!
Semangat berbagi hidup Roma 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Perayaan Pentakosta telah berlalu. Lalu apa yang selanjutnya harus kita lakukan setelah Pentakosta? Allah mencurahkan kuasa Roh Kudus-Nya bagi kita supaya kita memiliki semangat yang baru di dalam hidup kita. Hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus adalah hidup yang bersemangat dan penuh arti. Orang yang hidupnya dipimpin Roh Kudus tidak hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi Allah. Teroris memberi kehidupannya untuk menghancurkan dan mematikan orang lain. Ada suatu yang ’luar biasa’ dari teroris, yaitu mereka berani menyerahkan hidupnya untuk apa yang diyakininya. Bahkan mengajak keluarganya. Dalam hal pengorbanan hidupnya teroris itu melakukan sesuatu yang luar biasa. Hanya sayangnya pengorbanan dan semangat mereka yang luar biasa itu bertujuan untuk menghancurkan atau mengambil kehidupan orang lain. Roh Kudus mendorong kita untuk memberikan hidup kita untuk kehidupan orang lain. Yang lemah dikuatkan, yang putus asa dibangkitkan harapannya, yang sakit disembuhkan. Tandanya bahwa seorang dijamah Roh Kudus adalah dia semakin giat dan semangat dalam pelayanan, rohnya menyala-nyala melayani Tuhan. Kalau hidupnya masih seperti biasanya berarti orang itu belum mengalami jamahan Roh Kudus. Rasul Paulus sebelum mengenal Kristus pernah punya semangat menghancurkan hidup orang lain, namun setelah dijamah oleh Roh Kudus hidupnya dipersembahkan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Maka dia menasehatkan kita untuk mempersembahkan hidup ketika kita hidup dan masih sehat, dengan kekuatan dan kesanggupan kita. Bukan ketika kita mati. Waktu kita mati, kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau kita memakai hidup kita untuk membangun kehidupan orang lain, maka kematian kita akan menjadi kematian yang berarti, menjadi kemenangan yang gilang gemilang. Kematian akan menjadi persembahan hidup kita yang terakhir untuk kemuliaan Tuhan. Tuhan memberkati kita semua. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Setiap mahluk hidup membutuhkan rasa aman agar sehat secara psikologis. Oleh sebab itu mereka diperlengkapi dengan kemampuan untuk melindungi diri. Contoh, keong memiliki cangkang untuk melindungi badannya yang lemah. Kura-kura memiliki tempurung yang kuat untuk menyembunyikan bagian tubuhnya. Bunglon mempunyai kemampuan ‘berkamuflase’ untuk melindungi dirinya. Manusia dengan akal budinya, mengembangkan diri dan ilmunya untuk melindungi diri. Pakaian dirancang untuk melindungi dari cuaca. Rumah dibangun untuk melindungi dari cuaca, serangan binatang buas, dan sebagainya. Intinya, setiap mahluk hidup, khususnya manusia, butuh terlindungi sehingga merasa aman. Untuk mencapai keluarga yang sehat secara psikologis membutuhkan rasa aman. Jika kita berkaca dari keluarga Yusuf dan Maria, kita bisa melihat situasi sulit yang harus dihadapi yang mengancam rasa aman keluarga tersebut. Kehamilan Maria yang di luar nalar manusia, usaha pembunuhan oleh Herodes, menyingkir ke Mesir sebagai orang asing, kembali ke tanah Israel tetapi tetap ada ancaman merupakan situasi yang bisa merenggut rasa aman keluarga mereka. Tetapi mereka sanggup menghadapi bahkan melewati ‘ancaman’ yang bisa merusak rasa aman keluarga mereka. Hal tersebut disebabkan: 1. Ketaatan Maria dan ketulusan hati Yusuf. Ketaatan dan ketulusan hati merupakan perpaduan yang sanggup meredam setiap situasi yang berpotensi menghilangkan rasa aman. Ketaatan Maria menerima sebuah situasi yang tidak mudah telah memberinya keikhlasan dan kelapangan hati untuk mengandung bayi Yesus. Ketulusan hati Yusuf menerima kondisi Maria yang telah hamil meredakan gejolak hatinya yang semula berniat memutus pertunangannya dengan Maria. Dan karena ketulusan hatinya, Yusuf bersedia menikahi, melindungi, dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada Maria dan bayi Yesus. Sikap-sikap tersebut telah membangun rasa aman dalam keluarga mereka. 2. Campur tangan Ilahi. Terciptanya rasa aman dalam keluarga mereka tidak lepas dari campur tangan Allah. Beberapa kali Allah mengutus malaikatnya untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada Maria dan Yusuf. Maria dan Yusuf mengerti rencana illahi bagi manusia berkat penjelasan malaikat. Bayi Yesus selamat dari usaha pembunuhan Herodes juga karena campur tangan Allah. Campur tangan Allah tersebut telah meredam gejolak batin Maria – Yusuf dan membawa keselamatan bayi Yesus. Setiap keluarga tentu tidak luput dari kondisi yang bisa merusak rasa aman. Perbedaan pendapat dan kebiasaan, konflik antar anggota keluarga, masalah keuangan, sakit penyakit, bisnis yang macet, dan sebagainya berpotensi merenggut rasa aman. Hadapilah semua itu dengan ketaatan dan ketulusan hati, serta selalu harapkan campur tangan Allah.
Di kampung berpenduduk 145 KK, tinggal dua anak remaja yang bersahabat sejak kecil. Mereka adalah Temo dan Winoyo. Mereka di besarkan dalam keluarga petani dan pedagang tembakau. Suatu malam, ayah Temo punya kerja yaitu merajang tembakau. Semalaman penuh rumah Temo ramai dengan para bapak dari kampung itu. Para bapak membantu merajang tembakau dengan cuma-cuma atau dalam bahasa kasarnya tanpa upah. Upah mereka hanyalah makan ala kadarnya dan nasi ketan lauk tempe, tahu bacem. Tetapi kebersamaan penuh kerelaan untuk saling bekerjasama saling membantu, tolong menolong merupakan modal mereka. Disitulah teladan luar biasa yang dapat dipelajari oleh Temo dan Winoyo. Persahabatan yang didasari dengan kerelaaan yang di tularkan oleh orang tua mereka menjadi modal besar bagi kehidupan Temo dan Winoyo. Sehingga sejak mereka masuk SMA, mereka selalu hidup bersama. Mereka saling memberi jika di antara mereka ada yang butuh sesuatu dan salah satu ada yang punya. Suatu kali, Winoyo tidak punya uang saku untuk naik angkot ke sekolah. Karena Temo dan Winoyo rumahnya berdampingan, maka Winoyo bercerita kepada Temo bahwa hari itu ia tidak sekolah. Kebetulan Temo mempunyai simpanan. Maka hati memberi dan tolong menolong yang tertanam pada diri Temo muncul. Mendengar keluhan Winoyo spontan dengan suara lirih penuh kasih, Temo berkata: “ Udah ayo berangkat saja, nanti aku bayari ongkos pulang pergi sekolah.” Peristiwa di atas mengingatkan kita pada Paulus yang berani berkata kepada anak rohaninya, Timotius, “Hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.” Itu berarti sama dengan berkata, “Teladanilah atau ikutilah ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku, dan ketekunanku.” Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk mendidik melalui contoh atau keteladanan. Beranikah kita, baik selaku orangtua kepada anaknya, sebagai guru kepada muridnya, selaku pejabat kepada rakyat atau bawahannya, maupun sebagai pemimpin agama kepada umatnya bersikap demikian? Berkata, “Ikutilah teladan Bapak dan Ibumu”; “Contohlah Bapak dan Ibu gurumu ini”; “Teladanilah para pemimpinmu ini”; “Ikutilah ajaranku! Lihatlah cara hidupku! Ikutilah pendirianku! Teladanilah imanku! Contohlah kesabaranku! Teladanilah kasih dan ketekunanku”? Marilah kita mulai sekarang menjadi berkat dan juga saksi kebaikan bagi orang di sekitar kita melalui teladan hidup kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tugas Generasi Kita
10 Juni '18
Keselamatan Keluarga Kita
03 Juni '18
Hidup Berkenan Kepada Allah1
30 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang