SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Percayakanlah seluruh hidupmu kepada-Nya, maka Dia akan memberi kelegaan kepadamu.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Jalan-Nya Tak Terselami
Jalan-Nya Tak Terselami
Selasa, 10 Oktober 2017
Jalan-Nya Tak Terselami
Yesaya 43:14-21

Seorang pengerja gereja menceritakan pengalamannya sepulang dari menengok orangtua. Ketika membuka pintu rumah, dia begitu kaget melihat lantai ruang utama rumahnya penuh dengan asbes. Ternyata plafon rumahnya hancur karena kayu penyangganya ombrol karena di makan rayap. Ia kebingungan karena harus segara mengganti atap rumah, sedangkan ia belum memiliki dana. Kemudian ia dan keluarga berdoa memohon Tuhan buka jalan.

Sungguh luar biasa pertolongan Tuhan. Seminggu setalah berdoa, tiba-tiba datang seorang teman gerejanya. Temannya yang adalah seorang pemborong langsung menawarkan jasa setelah melihat kondisi rumahnya. Namun karena belum memiliki dana yang cukup, aktifis itu tidak berani menjawab. Kemudian temannya mengatakan bahwa rumahnya akan direnovasi dengan dana yang dimiliki dan kekurangannya akan dibantu oleh teman tersebut. Akhirnya rumahnya bisa direnovasi dengan baik, semua karena Tuhan membuka jalan melalui bantuan temannya.

Menjadi orang percaya bukan berati bebas dari masalah, karena masalah adalah seperti “makanan” yang wajib dinikmati oleh semua orang. Masalah datang tidak pernah pandang bulu, si...selengkapnya »
Waktu berjalan begitu cepat, bulan Januari telah lewat dan kita masuk ke bulan ke-2 tahun ini. Ada hati yang berbunga-bunga tapi ada juga hati yang kelabu, yang pasti tidak seorang pun dari kita tahu apa yang akan terjadi di hari-hari yang kan kita lalui. Hati kita dipenuhi banyak tanda tanya: Bisakah ? Mungkinkah ? Rasa kawatir dan takut sering menghantui hidup kita. Banyak ketidakpastian berkecamuk dalam pikiran dan hati kita. Namun satu hal yang harus kita tahu pasti bahwa Allah ada di pihak kita, jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita? Dalam janji Allah ini ada 3 hal yanag harus kita pahami. Pertama: Allah berada di pihak kita! Bagaimana kita mengetahui dengan pasti? Mempercayai-Nya dan berada dalam kehendak-Nya ? Bukankah di dalam Yesus Kristus kita dipilih dan ditentukan dari semula untuk menjadi menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Kita juga dipanggil-Nya, dibenarkan-Nya dan dimuliakan-Nya. Kedua: Allah memberikan kekuatan dan kemenangan kepada kita. Kepastian ini kita peroleh karena Ia telah memberikan Anak-Nya Yang Tunggal, Yesus Kristus sebagai anugerah terbesar dalam hidup kita. Itu artinya bahwa Ia juga akan memberikan hal-hal lainnya yang kita butuhkan [ayat 32]. Ketiga: Persekutuan kita dengan Allah tidak akan dapat dipisahkan oleh apapun juga dalam dunia ini. Kesulitan hidup bisa saja datang menghadang tetapi bersama Tuhan, siapa takut? [ayat 35]. Mari kita melangkahkan kaki kita menapaki hari-hari di depan kita dengan penuh percaya akan penyertaan-Nya yang kekal.
Saya bisa membayangkan kemarahan Naaman, ketika seorang suruhan Nabi Elisa menyampaikan pesan “pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan…” kepadanya. Sudah pasti Naaman marah luar biasa, dia merasa direndahkan dan diremehkan. Kalau saja tidak ditahan oleh pegawai-pegawainya, mungkin Nabi Elisa dan suruhannya sudah dihabisi. Wajar saja Naaman begitu marah, bagaimana tidak? Naaman seorang panglima perang yang terpandang [ay 1], berkedudukan tinggi, berprestasi dalam karirnya, dan sudah pasti secara social ekonomi dia diatas rata-rata. Tapi mengapa Tuhan ijinkan Naaman mengalami masalah berupa penyakit kusta, penyakit yang notabene banyak diderita oleh orang-orang dari kalangan bawah? Dan mengapa cara yang Tuhan pakai untuk menyembuhkanpun adalah cara yang tidak wajar? Bahkan terkesan aneh, mungkin memalukan dan tidak lazim? Tuhan bisa saja melenyapkan penyakit Naaman begitu saja, atau menyembuhkan dengan cara yang lebih baik, karena itu perkasa yang sangat mudah bagi Dia. Tetapi Dia Allah yang mengerti betul, apa yang seharusnya disembuhkan dari diri Naaman. Tuhan hanya memakai penyakit kusta sebagai alat untuk menyembuhkan “penyakit” Naaman yang sebenarnya. Keangkuhan dan kesombongan yang ada pada Naaman [ay. 12], itu yang ingin disembuhkan Tuhan. Untunglah Naaman mau memperbaiki diri, dia menyadari akan keangkuhan dan kesombongannya, dan belajar untuk merendahkan diri [ay.14]. Dan ketika Naaman membuka diri terhadap apa yang dikehendaki Tuhan, mujizatpun terjadi, dia sembuh dari penyakitnya. Seringkali masalah yang ada dalam kehidupan kita begitu lama tidak ada jalan keluarnya, tidak kunjung ada pertolongan dariNya. Ada baiknya kita meneliti, menyelidiki, adakah sikap kita sudah benar, adakah kita sudah taat pada perintahNya, apakah kita masih sering melanggar rambu-rambu yang sudah ditetapkan Nya, apakah sifat/kebiasaan kita tidak sesuai dengan Firman Nya?. Adakalanya Tuhan memakai masalah untuk tujuan memperbaiki sesuatu dari diri kita yang tidak benar menurut pandangan Nya. Yang menjadi focus bagi Tuhan bukan sekedar menolong masalah itu, tetapi hidup kita yang sejati, sikap hati kita yang benar terhadap Firman Nya dan lingkungan. Tuhan ingin kita memiliki hati dan hidup yang benar sesuai dengan FirmanNya. Karena itu Dia terlebih dahulu akan memperbaiki sikap, hati dan hidup kita menjadi seturut dengan kehendakNya. Seperti Naaman yang dengan kesadaran mau merendahkan diri dan mentaati perintah Nya, mari kita belajar membuka hati, membiarkan Tuhan bekerja memperbaiki titik lemah kita. Dan saat kelemahan kita sudah diperbaikiNya, maka masalah kitapun akan Dia selesaikan juga, dan mujizat bukan hanya dialami oleh Naaman, tapi kitapun akan mengalami juga.
Pada hari minggu tanggal 14 Januari 2018, saya mendapat tugas untuk mendampingi Ibadah Raya I. Seperti biasa jam 4.30 WIB saya sudah bangun dari tidur mempersiapkan diri untuk pergi ke Gereja. Dan tepat jam 5, saya berangkat ke gereja. Dalam perjalanan tepatnya di jalan Jangli Raya, saya berpapasan dengan 3 anak remaja laki. Mereka menaiki 2 sepeda motor tanpa alas kaki dan suara sepeda motornya cukup memekakan telinga. Sampai di pertigaan Jalan Jangli Raya dan Jalan Dr. Wahidin ketemu lagi dengan ke 3 anak tersebut Saya sempat beradu pandang dengan salah seorang anak remaja, tiba tiba saya merasa kasihan dan menangis di jalan. Saya mulai mendoakan ke 3 anak remaja tersebut supaya Tuhan tolong, Tuhan selamatkan dan Tuhan pakai menjadi hamba-Nya. Kalau kita baca nats di atas, Yesus menyatakan bahwa setiap orang yang tidak percaya kepada Nya berada di bawah hukuman [ayat 18] Mungkin untuk memperkenalkan Kristus kepada orang lain kita tidak punya cukup keberanian, namun ada cara lain untuk kita jangkau jiwa jiwa malalui doa-doa kita buat orang orang yang belum mengenal Tuhan. Kita bisa berdoa buat Suami/Istri, berdoa untuk anak anak kita atau sebaliknya berdoa untuk saudara, tetangga juga teman. Melalui doa kita bisa jangkau banyak orang. Cara ini tidak memerlukan tempat, tenaga apa lagi uang. Yang dibutuhkan adalah beban dan belas kasihan untuk jiwa jiwa yang ada. Mari Bp/Ibu/Sdr/i Jemaat yang di kasihi Tuhan, sudah saatnya kita melaksanakan salah satu kehendak Tuhan [yohanes 4:34] untuk menjangkau jiwa jiwa melalui doa-doa kita.
“Mbah, Benay akan segera kembali ke tanah air”, kata Rabenay pada Mbah Wanidy yang masih terpingkal-pingkal menahan tawa. “Apa! Benay akan kembali? Dia masih hidup?”, tanya Mbah Wanidy keheranan. “Benar Mbah, menurut informasi yang saya terima, KBRI di Iraq telah menyampaikan pengumuman bahwa para sukarelawan asal Indonesia akan mulai dipulangkan pada awal tahun 2018 ini. Konon salah satu nama yang disebut adalah Benay, adik kandung saya.” Wajah Mbah Wanidy sumringah mendengar kabar baik ini. Sukacita meletup-letup dalam sanubarinya. Wajahnya berseri-seri berhias pengharapan. “Wah..wah.., tampaknya Mbah Wanidy gembira sekali. Bahkan lebih gembira dibandingkan dengan saya.” Mbah mengangguk-angguk mengiyakan. “Mengapa Mbah begitu gembira ketika mendapatkan kabar bahwa Benay akan pulang?” tanya Rabenay penasaran. “Ya tentu saya senang karena pertama-tama Benay selamat. Bagaimanapun juga dia itu adalah konsumen fanatikdi warung saya. Kedua, heem…ehem….kembalinya Benay ke Semarang berarti tumbuh mekarnya kembali harapan saya”, jawab Mbah Wanidy. “Harapan apa itu, Mbah” tanya Rabenay. “Heek…e..heeem…harapan untuk terbayarnyahutang-hutang Benay pada saya.” Wajah Rabenay pun memerah karena malu. Jemaat yang terkasih. Harapan Mbah Wanidy yang sempat terkubur, kini tumbuh kembali karena ada kemungkinan Benay masih hidup dan akan kembali ke tanah air. Demikian juga dengan Ayub. Dalam penderitaannya yang teramat pedih, Ayub bergumul dengan Tuhan. Sahabat-sahatabnya hadir untuk memberikan nasehat. Namun apa boleh buat, nasehat-nasehat mereka malah cenderung menuduh dan makin menyesakkan hatinya. Ayub merasa bahwa harapannya sudah hilang. Semangatnya sudah patah berkeping-keping dan di matanya hanya tampak kematian yang segera akan menghampirinya [ay. 1, 11-16]. Namun apa yang Ayub perkirakan tidaklah seperti yang Allah pikirkan. Sejak dari mulanya penderitaan Ayub diperhatikan oleh Allah. Jerit pergumulannya di dengarkan oleh-Nya. Harapannya tidak dilenyapkan sama sekali. Malah pada waktu yang Allah tetapkan, keadaan Ayub dipulihkan dengan luar biasa [Ayub 42]. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Apakah kita sedang mengalami pergumulan? Atau masalah dalam hidup ini? Apakah kita merasa jerit tangis kita dalam doa-doa terasa jauh dari Tuhan? Seolah-oleh mata kita sudah hampir kering? Namun percayalah bahwa kasih Allah tidak akan pernah sedikitpun meninggalkan anak-anak-Nya. Tetaplah berlaku benar dan setia, tetaplah berpengharapan di dalam Tuhan karena masa depan itu sungguh ada tersedia bagi kita. Selamat membangun harapan. Terpujilah Tuhan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Perjumpaan Yang Dinantikan
06 Februari '18
Sederhana Saja
09 Februari '18
Jadilah Seperti Gideon
28 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang