SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Datanglah kepada Tuhan bukan kepada manusia ketika hatimu terluka oleh ketidakadilan.
DITULIS OLEH
Pdt. Nathanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Ketika Ketidakadilan Melukai
Ketika Ketidakadilan Melukai
Rabu, 06 Desember 2017
Ketika Ketidakadilan Melukai
Mazmur 26:1-12

Apakah yang membuat orang menjadi sakit hati, jengkel, ataupun pedih? Ada banyak hal penyebabnya. Misalnya perlakuan yang tidak adil, fitnah, perlakukan yang semena-mena, diremehkan, pengkhianatan, dll. Hal seperti itu sering menimpa banyak orang, termasuk juga orang-orang beriman. Sebenarnya orang yang sakit hati, pedih, dan perih menanggung kejengkelan yang sangat dalam adalah orang yang tidak mendapat keadilan dalam hidupnya baik itu di lingkungan pekerjaan, masyarakat, pendidikan bahkan juga di keluarga. Bagaimana sikap orang beriman ketika dirinya sedang menghadapi perasaan sakit hati, kejengkelan karena ulah orang lain yang memperlakukannya tidak adil dan semena-mena? Mari kita memperhatikan sikap Daud ketika dia sedang menghadapi perlakuan yang tidak adil.

Daud mengalami perlakuan semena-mena, suatu ketidakadilan, mungkin semacam fitnahan [ayat 6]. Apa yang dilakukan Daud? Yang dilakukan Daud adalah mendatangi Tuhan, menghampiri tahta Tuhan dalam doa yang hidup. Kemudian dalam doanya itu Daud memohon supaya Tuhan memberi keadilan [ayat 1]. Selain itu Daud mengutarakan bagaimana dia hidup dengan penuh iman dan takut akan Tuhan [ayat 1b, 3], sehingga dia berani mengatakan di hadapan Tuhan bahwa dirinya memiliki kehidupan yang bermoral: tidak duduk dan bergau...selengkapnya »
Berlutut dihadapan Tuhan, tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Dr. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita’. Buku ini menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerahkan seluruh persoalannya kepada Tuhan dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putua asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemampuan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh.’ Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita mengabaikan doa. Kita memiliki banyak waktu untuk mendengar khotbah-khotbah, seminar-seminar, bahkan kesaksian-kesaksian tentang pentingnya doa. Namun kita tidak memiliki waktu untuk berdoa. Bila kita menabung waktu dalam doa, maka kita sedang menanam kuasa yang besar dalam hidup ini. Sesungguhnya yang menjadi persoalan bagi orang percaya bukanlah karena kekurangan pengetahuan tentang doa, tetapi karena sikap malas berdoa. Bagaimana kita dapat membuang sikap malas berdoa? Dengan mengakui dihadapan Tuhan akan kemalasan kita dan meminta kepada Tuhan agar memberikan hati dan jiwa yang haus kepada Tuhan. Roma 7:21 mengatakan, ’Jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.’ Bukankah kita merasakan betapa sulitnya untuk berdoa sekalipun keinginan untuk berdoa selalu ada? Jadi, mintalah kepada Tuhan agar cinta untuk rumah dan hadiratNya menghanguskan kita. Pahamilah prinsip kebenaran tentang ’Rumahku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.’ Yesus memberikan pernyataan ini ketika Dia sedang menunggang-balikkan segala kesibukan yang ada di rumah Tuhan. Kesibukan dalam kehidupan telah membuat kita mengabaikan doa. Kita kehilangan poin penting dari kehidupan kekristenan, dan menempatkannya pada urutan kesekian. Sadarilah bahwa doa menjadi basis utama dari segala berkat-berkat Tuhan yang telah disediakanNya.
Gereja: Komunitas Keselamatan Kisah Para Rasul 2:46-47 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Gereja adalah komunitas keselamatan. Sejak semula Allah merancang gereja untuk menjadi sebuah komunitas dimana orang-orang mengalami keselamatan. Perhatikanlah kalimat ini: ’Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.’ Apa artinya ’diselamatkan’? Artinya, orang-orang yang masuk ke dalam komunitas itu dipulihkan hubungannya dengan Alllah dan dengan sesama. Mereka menerima anugerah pengampunan dosa, sehingga hubungan dengan Allah dipulihkan. Karena mereka merasakan kasih dan anugerah Allah, maka hati mereka dipenuhi dengan sukacita. Mereka suka berkumpul untuk memuji Tuhan. Mereka suka berkumpul untuk mendengar pengajaran Firman Tuhan dan untuk berbagi. Mereka saling berbagi harta mereka, saling membantu dalam meringankan beban hidup saudara seiman. Tidak ada di antara mereka yang kekurangan. Mereka yang masuk ke dalam komunitas itu bukan orang-orang yang telah sempurna. Mereka juga orang-orang berdosa. Tetapi mereka bersepakat untuk menjalani hidup sebagai orang-orang yang diselamatkan. Mereka mau belajar dan bersedia untuk diajar dengan kebenaran Firman Tuhan, agar hidup mereka mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Inilah arti komunitas keselamatan, yaitu gereja. Seringkali Gereja di masa kini melupakan jati dirinya sebagai komunitas keselamatan. Gereja banyak disibukkan dengan aktivitas-aktivitas yang tidak mengarah pada hidup keselamatan. Kita harus sadar dan berubah. Kita harus pastikan bahwa gereja kita adalah sebuah komunitas keselamatan. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Hidup dalam keharmonisan Roma 12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Sebuah paduan suara akan menghasilkan nyanyian yang merdu jika semua anggotanya saling menyesuaikan suara mereka. Semua jenis suara, baik sopran, alto, tenor dan bas, jika diselaraskan dengan baik akan menciptakan paduan suara yang indah. Apabila ada suara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah itu akan mengganggu paduan suara itu dan menciptakan suara sumbang atau disharmoni. Demikian juga tidak boleh ada suara yang terlalu keras atau menonjol. Seperti halnya dengan paduan suara demikianlah kehidupan kita di dalam komunitas, baik itu di masyarakat umum, gereja, atau bahkan komunitas apa saja. Agar hidup berkomunitas menjadi indah, maka setiap orang yang ada di dalam komunitas itu harus saling menyesuaikan dirinya dengan yang lain. Semuanya harus selaras dan seimbang sehingga terjadi sebuah harmoni. Jika ada yang ingin menonjol, berkuasa, bahkan mendominasi yang lainnya, maka akan terjadi disharmoni, dan kehidupan berkomunitas menjadi tidak bisa dinikmati. Agar tercipta sebuah paduan suara yang indah maka semua anggota harus berlatih dengan disiplin. Memang dibutuhkan latihan yang cukup keras, agar tidak menjadi paduan suara yang asal-asalan. Di dalam latihan itu semua anggota belajar menyelaraskan suaranya dengan yang lain. Suara yang salah, yang tidak sesuai dengan notasi, atau yang sumbang, yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, harus dikoreksi. Setiap anggota paduan suara harus siap dikoreksi. Jika tidak, maka dia akan mengganggu paduan suara itu. Demikian juga dalam kehidupan berkomunitas, kita perlu berlatih untuk menyelaraskan diri kita dengan yang lain. Kita harus mau dikoreksi. Memang pada waktu dikoreksi kita merasa tidak enak. Tetapi di situ akan kelihatan siapa yang sungguh-sungguh ingin hidupnya memuliakan Tuhan atau ingin menuruti kehendak hatinya sendiri. Kiranya Tuhan menolong kita sehingga dapat mewujudkan keharmonisan dalam hidup berkomunitas. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Tema gereja tahun ini: Lakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa, ini seirama dengan Amanat Agung yang tertulis di Injil Markus dan Matius. Mereka yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, selanjutnya dididik menjadi murid yang harus melakukan segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus. Ada proses yang tidak sederhana dalam Amanat Agung, yaitu: Injil [kebenaran Tuhan] diberitakan baik secara langsung maupun tidak langsung [melalui kesaksian hidupnya Matius 5:16], orang yang mau percaya selanjutnya dididik menjadi murid Tuhan Yesus, dan orang percaya yang sudah menjadi murid juga harus pergi dan memberitakan Injil kepada orang lain, lahir orang percaya baru yang harus dididik menjadi murid. Demikian seterusnya seperti suatu reaksi berantai dalam pembuatan sebuah bom atom. Supaya proses penginjilan berjalan lancar perlu dipahami kebenaran yang terkait proses keselamatan jiwa. Anugerah keselamatan melalui penebusan salib harganya sangat mahal [I Petrus 1:18] dan bertujuan supaya manusia bisa dikembalikan kepada rancangan semula Tuhan waktu menciptakannya, serupa dengan Penciptanya. Dengan demikian manusia bisa menemukan kembali kemuliaan Tuhan yang telah hilang/berkurang [Roma 3:23], orang percaya bisa mengenakan kodrat ilahi, hidup kudus dan tidak bercacat tidak bercela di hadapan Tuhan dan manusia [Efesus 1:4]. Proses pengudusan orang percaya, pertama oleh darah Kristus yang tercurah di kayu salib [Pengudusan pasif yang hanya bisa dilakukan Bapa], selanjutnya kita dikuduskan oleh ketaatan kepada kebenaran melalui pimpinan Roh Kudus [I Petrus 1:22, Yohanes 14:26], hal ini menuntut tanggung jawab masing-masing individu, disebut juga pengudusan aktif. Dalam hal ini gereja harus berfungsi sebagai “sekolah teologia” bagi jemaat supaya anggota jemaat bertumbuh dalam memahami kebenaran Injil yang murni dan para pimpinan rohani dan aktivis gereja menampilkan sosok teladan yang bisa menjadi model dalam mentaati segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus. Syarat penting dalam proses keselamatan adalah manusia harus percaya kepada Tuhan Yesus dan Injil yang diajarkan-Nya. Percaya Tuhan Yesus bukan sekedar mengakui secara pikiran akan status dan riwayat-Nya. Iman berarti penyerahan dan penurutan/ketaatan mutlak kepada pribadi yang dipercayai [= iman Abraham]. Untuk memiliki iman taraf ini memang tidak mudah, namun diperlukan perjuangan dan usaha serius untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar [Lukas 13:24, Pilipi 2:12]. Melepaskan diri dari segala miliknya, yaitu tidak mencintai dunia [Lukas 14:33, Matius 13:22].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menjadi Saksi Yang Efektif Untuk Keselamatan Jiwa-Jiwa
07 Februari '18
Rumah Doa1
08 Februari '18
Berdoalah
24 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang