SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Datanglah kepada Tuhan bukan kepada manusia ketika hatimu terluka oleh ketidakadilan.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Ketika Ketidakadilan Melukai
Ketika Ketidakadilan Melukai
Rabu, 06 Desember 2017
Ketika Ketidakadilan Melukai
Mazmur 26:1-12

Apakah yang membuat orang menjadi sakit hati, jengkel, ataupun pedih? Ada banyak hal penyebabnya. Misalnya perlakuan yang tidak adil, fitnah, perlakukan yang semena-mena, diremehkan, pengkhianatan, dll. Hal seperti itu sering menimpa banyak orang, termasuk juga orang-orang beriman. Sebenarnya orang yang sakit hati, pedih, dan perih menanggung kejengkelan yang sangat dalam adalah orang yang tidak mendapat keadilan dalam hidupnya baik itu di lingkungan pekerjaan, masyarakat, pendidikan bahkan juga di keluarga. Bagaimana sikap orang beriman ketika dirinya sedang menghadapi perasaan sakit hati, kejengkelan karena ulah orang lain yang memperlakukannya tidak adil dan semena-mena? Mari kita memperhatikan sikap Daud ketika dia sedang menghadapi perlakuan yang tidak adil.

Daud mengalami perlakuan semena-mena, suatu ketidakadilan, mungkin semacam fitnahan [ayat 6]. Apa yang dilakukan Daud? Yang dilakukan Daud adalah mendatangi Tuhan, menghampiri tahta Tuhan dalam doa yang hidup. Kemudian dalam doanya itu Daud memohon supaya Tuhan memberi keadilan [ayat 1]. Selain itu Daud mengutarakan bagaimana dia hidup dengan penuh iman dan takut akan Tuhan [ayat 1b, 3], sehingga dia berani mengatakan di hadapan Tuhan bahwa dirinya memiliki kehidupan yang bermoral: tidak duduk dan bergau...selengkapnya »
Ibu berasal dari desa. Sempat mengenyam pendidikan di Semarang, lalu kembali lagi ke kampung halaman. Keluarga Ibu berasal dari Tiongkok, mamanya bahkan tak bisa berbahasa Indonesia. Mereka pun menganut adat istiadat dan kepercayaan masyarakat Tiongkok asli. Ketika Ibu menikah dan diboyong ke Jakarta, bisa dibayangkan betapa besar kejutan budaya yang dialami. Tinggal bersama ayah dan Ibu mertua yang berpendidikan Belanda dan beragama Kristen tentunya berbeda jauh dengan keluarga yang ada di desa. Namun Ibu selalu mengingat bahwa keluarga mertuanya tidak pernah memandang rendah kepadanya. Oma, Opa dan para tante saya selalu memperlakukan Ibu dengan baik. Opa saya memahami bahwa ibu saya kesepian. Jauh dari sanak keluarga dan harus menyesuaikan diri dengan keluarga besar yang baru tentu terasa berat. Untuk mengurangi beban perasaan Ibu, secara teratur Opa membawakan buku-buku yang menarik untuk dibaca. Opa juga mengutus seorang kerabat untuk menemani Ibu jalan-jalan dan sesekali makan di luar. Jika saya yang saat itu masih bayi jatuh sakit, Ibu dan Opa akan bergantian menggendong saya sepanjang malam. Padahal Opa masih harus bekerja dari pagi hingga petang. Bisa dibayangkan betapa lelahnya. Meskipun pernikahan Ibu akhirnya kandas di tengah jalan ... kenangan akan keluarga mertua yang sangat baik membuat Ibu tidak asing dengan nilai-nilai Kristiani. Padahal Ibu saat itu masih menganut keyakinan lain. Bahkan ketika saya yang sudah duduk di bangku SD bingung harus menulis apa di kolom agama, Ibu tidak memaksa saya mengikutinya. Saya diberi pilihan, boleh mengikuti agama Opa atau keyakinan Ibu. Dan saya memilih mengikuti keyakinan Opa. Ketika pada akhirnya Ibu menanggapi ajakan saya untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, saya yakin bahwa jauh sebelum itu, kesan yang sangat baik dari keluarga mertua Kristiani telah membuka jalan baginya untuk percaya. Kasih dan ketulusan yang diterima Ibu dari keluarga Opa telah mempersiapkan hatinya untuk menerima Yesus Kristus sang Juruselamat. Terpujilah nama Tuhan.
Waspadalah terhadap pemikiran bahwa doa berarti membawa simpati dan kepedulian pribadi kita ke dalam hadirat Allah lalu menuntut supaya Dia melakukan apapun yang kita minta. Kemampuan kita menghampiri Allah bergantung sepenuhnya Kepada Yesus Kristus karena Dia yang telah menanggung dosa demi menggantikan kita. “Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.” Kedegilan secara rohani adalah halangan paling utama terhadap doa, karena didasarkan pada “rasa” simpatik akan hal-hal yang kita lihat di dalam diri kita dan orang lain yang menurut kita tidak membutuhkan penebusan. Kita mempunyai gagasan bahwa ada hal-hal baik dan mulia di dalam diri kita yang tidak memerlukan karya penebusan salib Kristus. Seringkali kita merasa siap dengan gagasan kita sendiri dan doa kita hanya menjadi pemujaan terhadap rasa simpatik kita sendiri. Kita berdoa, namun kita tidak menyelaraskan diri kita dengan minat dan kepedulian Allah terhadap orang lain. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan Yesus Kristus menanggung dosa ini berarti terjadi perubahan menyeluruh terhadap semua simpati dan minat kita. Doa bagi sesama berarti kita dengan sengaja mengganti rasa simpati alami kita dengan minat Allah terhadap sesama Doa bagi sesama membuat kita tidak mempunyai waktu maupun kecenderungan untuk mendoakan “kesedihan dan belas kasihan” untuk diri kita sendiri. Kita harus menyatukan diri sepenuhnya dan menyeluruh dengan minat dan kepeduliaan Allah dalam hidup orang lain. Allah memberi kita kepekaan terhadap kehidupan orang lain sehingga menggerakkan kita untuk berdoa bagi mereka dan bukan untuk mencari kelemahan mereka.
Mas Nanang baru saja selesai studi SMK jurusan mesin dan bermaksud melanjutkan studi ke jurusan teknik sambil bekerja. Akhirnya dia diterima di salah satu perusahaan bengkel automotif sebagai tenaga teknisi dan sorenya masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan kuliah. Namun satu komitmen yang mas Nanang tidak pernah lupa adalah memberikan waktunya untuk melayani anak-anak tunas dan Youth di gerejanya. Bagi mas Nanang apa yang dikerjakan setelah percaya Tuhan Yesus adalah untuk memuliakan Dia melalui hidupnya. Akhirnya mas Nanang dapat menikmati berkat Allah, karena bisa lulus kuliah tepat waktu dan di pekerjaan, dia dipercaya sebagai kepala devisi teknik yang membawahi banyak anak buah. Renungan hari ini sudah tidak asing bagi kita bahkan sudah berulang kali kita membaca dan mendengarkan ulasan dari nats ini, akan tetapi kali ini kita akan membahas sisi yang lain dari nats tersebut, yaitu mengapa kita sebagai orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus harus mempersembahkan tubuh kita atau hidup kita seutuhnya kepada Allah sebagai perwujudan ibadah sejati kita. Pertama, demi Kemurahan Allah [ayat 1]. Inilah alasan utama mengapa kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah, yaitu “demi kemurahan Allah” yang telah mengorbankan dan mempersembahkan Tuhan Yesus mati di kayu salib. Harga yang sangat mahal harus Allah relakan dan korbankan demi menebus kita. Tanpa hal ini dilakukan Allah tidak mungkin kita bisa memiliki dan menikmati kehidupan baru seperti saat ini. Kedua, berkenan kepada Allah [ayat 2]. Ini adalah tujuan hidup kita sebagai orang percaya setelah kita diselamatkan dan dilahir barukan oleh penebusan Tuhan Yesus di kayu salib. Hidup berkenan di hadapan Allah merupakan tujuan hidup kita hari lepas hari sehingga kita bisa melakukan apa yang menjadi kehendak Allah atas hidup kita. Ketiga, sempurna di hadapan Allah [ayat 2]. Ini fokus dan target tertinggi dari hidup kita di kekekalan nanti. Sebab kalau hidup kita tidak berkenan dan tidak sempurna di hadapan Allah, kita bisa saja ditolak masuk dalam kerajaan Allah. Cara untuk melakukan tiga hal ini adalah merubah pola pikir hidup kita, yaitu tidak sama dengan pola pikir dunia dan memperbaharuinya hari lepas hari. Natal adalah wujud persembahan dan pengorbanan Allah seutuhnya demi kehidupan manusia berdosa melalui pribadi Tuhan Yesus Kristus. Dan apa yang dilakukan Tuhan Yesus sepanjang hidup hingga kematian-Nya di kayu salib merupakan wujud persembahan diri dan hidup-Nya kepada Allah. Bagaimana dengan kita setelah percaya Tuhan Yesus, sudahkah kita mempersembahkan hidup kita seutuhnya? Atau kita masih menyisakan sebagian untuk diri kita? Teladanilah Tuhan Yesus, maka kita bisa seutuhnya mempersembahkan hidup kita kepada Allah.
Sebuah lilin kecil sangat berguna ketika listrik padam. Sebuah senter sangat membantu untuk menerangi jalan yang akan dilalui. Kedua benda ini sangat diperlukan oleh manusia ketika malam hari mengalami pemadaman lampu dan masalah-masalah yang berkaitan dengan listrik. Keberadaan benda tersebut membantu untuk menerangi ruangan sehingga manusia masih bisa melakukan aktivitas. Jikalau dalam kondisi pemadaman listrik dan tidak dijumpai benda-benda tersebut, maka segala aktivitas akan terganggu. Mungkin saja benda tersebut dianggap remeh dan juga tidak terlalu penting, namun justru benda-benda tersebut menjadi penyelamat ketika tiba-tiba terjadi hal-hal yang tidak diinginkan berkenaan dengan listrik. Dalam sebuah perumpaan tentang pelita dikatakan bahwa orang yang membawa pelita tidak akan menaruh di bawah tempat tidur maupun tempat yang tersembunyi. Melainkan akan meletakkannya di atas kaki dian supaya terang terpancar ke semua ruangan. Sehingga pelita yang menyala tersebut akan memberikan pengaruh yang besar pada ruangan yang terkena sinarnya. Pelita menyingkapkan semua yang tersembunyi. Jika gelap datang, maka pelita akan menyala dan memberikan penerangan. Jikalau tidak ada pelita yang menyala, maka segala sesuatu yang tersembunyi tidak kelihatan. Maka pelita harus tetap bercahaya agar sesuatu yang tersembunyi dapat dinyatakan. Agar pelita tetap menyala dibutuhkan persediaan minyak untuk mengisi ulang supaya pelitanya tidak padam. Hidup yang berdampak positif menjadi sebuah keinginan dan kerinduan bagi setiap orang. Terkhusus bagi orang kristiani yang juga menjadi bagian dari kehidupan untuk berbuah pada sesama. Perintah untuk berbuah tertulis dalam Alkitab dan diwajibkan untuk benar-benar terwujud dalam kehidupan. Karena dengan buah tersebut kehidupan akan berdampak pada yang lain. Keberdampakan hidup kita dapat dilihat dan dinikmati dari buah yang dikeluarkan melalui perkataan dan tindakan. Salah satunya adalah tetap memancarkan terang kasih Tuhan untuk menerangi kehidupan yang ada di sekeliling kita. Maka di dalam Tuhan, kita sudah seharusnya memberikan dampak positif bagi sesama.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tabahkanlah Hatimu
28 November '17
Renungan Harian
11 Desember '17
Runtuhnya Tembok Yerikho
30 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang