SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Sekali lagi ingat! Tugas utama gereja di dunia ini adalah melanjutkan misi Allah, yaitu bersaksi untuk keselamatan manusia berdosa. Selamat bersaksi.
DITULIS OLEH
Pdt. Nathanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Selamat Bersaksi
Selamat Bersaksi
Selasa, 24 Oktober 2017
Selamat Bersaksi
Lukas 24:44-49

Setiap tanggal 17 Agustus kita sebagai warga negara Indonesia selalu memperingati Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia. Memperingati kemerdekaan Indonesia itu mengingatkan kembali kepada generasi muda masa kini bahwa kemerdekaan Indonesia itu bukan suatu pemberian atau hadiah dari bangsa lain, melainkan melalui proses perjuangan yang panjang dan penuh dengan pengorbanan jiwa dan raga oleh para pahlawan pendahulu kita. Pengorbanan para pahlawan kala itu tanpa pamrih. Hanya satu tekad saja, yaitu “merdeka” dari cengkeraman penjajah. Kemerdekaan Indonesia sekarang sudah terpenuhi, sudah diperoleh dan apa tugas generasi muda sekarang yang telah mewarisinya? Tidak lain dan tidak bukan yaitu mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif dan itu adalah salah satu bentuk meneruskan perjuangan untuk negeri tercinta ini.

Demikian juga dengan Tuhan Yesus. Dia telah berjuang habis-habisan sampai mati di kayu salib karena cinta-Nya kepada manusia berdosa supaya diselamatkan, dimerdekakan. Kematian-Nya adalah bentuk pengampunan Allah kepada manusia dan itu adalah kasih Allah kepada semua manusia. Dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga adalah pengharapan keselamatan yang juga diberikan kepada barangsiapa yang percaya. Tuhan Yesus sudah menyelesaikan tugas-Nya dengan tuntas dan...selengkapnya »
Pak Petrus seorang aktivis pelayanan sebuah Gereja terserang penyakit kangker lever akut. Menurut diagnosis dokter usianya tinggal tiga bulan lagi. Namun karena kuasa mujizat Allah, pak Petrus dianugrahi Tuhan waktu 15 tahun lagi. Setelah dirinya sembuh dan mendapatkan kesempatan hidup selama 15 tahun, waktu tersebut tidak dia sia-siakan. Pak Petrus semakin giat melakukan pemberitaan Injil bagi jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan Yesus. Selama periode 15 tahun pak Petrus berhasil memenangkan banyak jiwa-jiwa baru melalui kesaksian hidupnya sendiri. Sebagai orang percaya kita mempercayai ada kehidupan kekal setelah kematian. Kita juga meyakini bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali ke dunia untuk kedua kalinya. Kita juga yakin bahwa hidup kita di dunia ada batasnya. Oleh sebab itu renungan kita hari ini berbicara tentang bagaimana kita mempergunakan waktu yang tersisa dari kehidupan kita saat ini [ayat 2]. Kita juga belajar dari Mazmur 90:10 bahwa setiap kita mendapatkan jatah kehidupan antara 70-80 tahun. Berarti saat ini kita memiliki waktu yang tersisa dari kehidupan kita untuk berjaga-jaga dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk memasuki kekekalan atau untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Hal-hal apakah yang harus kita lakukan dengan sisa waktu yang tersedia saat ini ? Pertama, Bersikaplah militan terhadap dosa apapun yang menggodai diri kita untuk melakukannya [ayat 1-3]. Kita harus tegas berani bersikap melawan kuasa dosa yang mencoba menggoda diri kita. Tentu saja ini merupakan perjuangan hidup yang tidak mudah bagi kita. Karena selama bertahun-tahun kita sudah membiasakan diri untuk menuruti hawa nafsu dosa apalagi sekarang kita harus berhenti dari kebiasaan tersebut. Contoh, orang kecanduan rokok, pornografi, miras, berjudi akan sangat susah berhenti apabila dalam dirinya sendiri tidak ada tekad dan komitmen untuk berhenti dari kebiasaan buruk tersebut. Makanya ayat 2 berkata agar kita tidak menuruti kedagingan kita, tetapi menggunakan sisa waktu kita untuk melakukan kehendak Allah. Salah satu cara melakukan kehendak Allah kita harus berani sangkal diri dan pikul salib untuk mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Kedua, Kuasailah dirimu supaya kita mampu melakukan kehendak Allah [ayat 7 – 11]. Untuk bisa hidup tenang, berdoa dan mengasihi seseorang dibutuhkan penguasaan diri. Terlebih untuk mengasihi dan berdoa bagi orang yang menjadi musuh kita, yang menyakiti hati kita, yang telah mengecewakan kita pada zaman ini. Dunia yang sedang bergejolak dan penuh persaingan serta permusuhan hanya dapat dimenangkan oleh pribadi-pribadi yang dapat menguasai diri. Tanpa penguasaan diri, kita akan terseret arus masuk kepusaran dunia yang penuh hawa nafsu saat ini. Oleh sebab itu pergunakanlah waktu yang tersisa untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang bernilai kekekalan.
Sahabat adalah seorang yang menemani dikala orang lain meninggalkan kita seorang diri. Tidak hanya hadir pada waktu sukacita melainkan juga pada waktu susah dan terpuruk. Didasari oleh kasih yang tulus ia akan berada disisi kita dalam segala keadaan dan mau menerima apapun keberadaan kita. Akan selalu siap untuk ditegur dan dikoreksi demi kebaikan bersama. Akan menjaga rahasia dan tidak akan melanggar untuk kepentingan sendiri. Komitmen untuk melakukan apa yang menjadi kesepakatan bersama apapun yang terjadi. Kasih seorang sahabat tidak lekang oleh waktu. Itulah pernyataan Walter Winchell seorang komentator radio di Amerika tentang sahabat. Yesus adalah sahabat yang sejati yang dengan kasih rela memberikannyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya. Tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih Yesus. Yang disebut sebagai sahabat-Nya ialah mereka yang melakukan perintah-Nya. Kendati taat melakukan perintah tidak disebut sebagai hamba tetapi sahabat karena diberitahukan segala sesuatu yang dari Bapa. Dia sendiri yang memilih siapa yang menjadi sahabat-Nya dan yang terpilih harus menghasilkan buah. Semua sahabat-Nya harus mengasihi sesama seperti kasih-Nya pada manusia. Kita bersyukur telah dipilih menjadi sahabat-Nya dan seyogyanya kita berperilaku sebagai sahabat yang sejati kepada-Nya. Kita berkomitmen untuk taat pada perintah-Nya dan tidak ada sedikitpun keinginan untuk melanggarnya. Kita rela untuk menerima teguran atau koreksi bila suatu saat kita khilaf meskipun setiap teguran akan mendatangkan ketidak nyamanan. Ketika harus melewati masa sukar atau penderitaan kita akan tetap setia kepada-Nya dan tidak berpaling kepada yang lain. Kasih kita kepada-Nya tidak lekang oleh waktu dan senantiasa akan kita ceritakan kepada semua orang betapa besar kasih karunia Sahabat sejati kita.
Kehidupan kita orang beriman, dalam menjalani hidup sehari-hari sangat membutuhkan tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Pemazmur berkata,“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” [Mazmur 1:1-2]. Alkitab berisi tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Semakin kita mempelajari firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam semakin kita mengerti apa kehendak Tuhan, dan apa langkah-langkah yang harus kita tempuh sehingga perjalanan hidup kita selalu beruntung dan akan memberi faedah. Di Alkitab menuliskan contoh teladan hidup orang beriman melalui empat binatang kecil, “Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas, pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu, belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur, cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.” [Amsal 30:24-28]. Semut, meskipun tergolong binatang terkecil dan lemah, ia rajin, ulet dan cekatan. Selain itu semut memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesamanya, mereka menopang satu sama lain dan bergotong royong. Tuhan menghendaki hal yang demikian, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” [Galatia 6:2]. Belalang, dalam waktu singkat sanggup menghabiskan hasil ladang berkat kerjasama dan ketekunannya. Walapun tanpa pemimpin. Manusia tidak dapat melakukan hal itu tanpa seorang pemimpin. Di sini manusia diajar untuk tunduk kepada pemimpin agar bisa hidup teratur. Pelanduk, binatang lemah tapi mampu membuat rumahnya di atas bukit batu sehingga ia selamat dan aman apabila badai menyerang. Kita di ajar untuk menggunakan hikmat kepandaian kita untuk bertahan hidup. Cicak bintang yang dengan mudah dapat kita tangkap tetapi juga hidup di istana raja. Mengingatkan kita walaupun lemah tetapi Allah masih memberi hikmat agar kita bisa bertahan hidup dalam bahaya sekalipun. Yesus adalah Batu Karang Keselamatan kita. Sudah seharusnya kita mempercayakan hidup ini sepenuhnya kepada Dia.
Saya pernah membaca cerita sebuah kisah nyata mengenai seorang wanita yang sedang hamil. Ia adalah salah seorang aktifis yg menentang adanya aborsi. Ternyata ia sendiri dihadapkan pada keadaan yg mengharuskan dirinya mengaborsi kandungannya, sebab bayinya didiagonsa memiliki ketahanan tubuh yang rapuh, jika anak itu dilahirkan, umurnya hanya 2 hari saja. Dan bukan hanya itu saja, ada resiko yang akan mengakibatkan kematian si ibu kalau dia melahirkan anak tsb. Dokter menyarankan ia untuk mengugurkan kandungannya. Ia merasa terjepit diantara keadaan bahwa ia adalah seorang penentang aborsi sementara nyawanya terancam kalau ia tidak mengaborsi anak tsb. Namun ia berdoa dan ia mengambil suatu keputusan bahwa ia akan melahirkan anaknya. Ia berkata bahwa anak itu layak untuk hidup walaupun hidupnya hanya sebentar. Suaminya pasrah dan menerima keputusan tsb. Akhirnya ketika bayi itu lahir, ibunya meninggal. Pengorbanan si ibu ternyata tidak sia-sia, anak itu ternyata bertahan hidup selama 2 minggu dan ketika anak bayi itu meninggal, ia mendonorkan ginjal dan jantungnya untuk 2 nyawa bayi lain yang terancam meninggal. Ibu itu mengorbankan dirinya, agar bayi tersebut bisa menghidupkan nyawa bayi-bayi lain. Dari cerita peristiwa di atas, demikian juga pengorbanan Yesus di kayu salib, merupakan bentuk nyata pengorbanan Bapa di Surga untuk keselamatan orang percaya. Yesus harus menderita, di salibkan, mati dan bangkit merupakan pengorban yang tak ternilai harganya. Itu semua Allah lakukan agar kita yang seharusnya di hukum maut oleh dosa, tetapi di selamatkan melalui percaya kita kepada pengorbanan Yesus di kayu salib [Roma 6:23]. Kalau Allah sendiri melalui Yesus rela berkorban untuk kita, lalu apa yang menjadi balasan kita ? Apakah yang dapat kita korbankan sebagai bentuk trimakasih kita pada Allah ? Maka ketika kita dihadapkan kepada pengorbanan, berdoalah kepada Tuhan, apakah yang menjadi kehendakNya, seperti ketika Abraham harus mengorbankan anak tercintanya, Ishak. Ketika Abraham pasrah kepada Tuhan dan ia mengorbankan anaknya, Allah memberikan berkat berlimpah-limpah dan berkali-kali lipat kepadanya. Jika Allah melakukan hal yang sama kepada Abraham, maka Ia-pun pasti akan melakukan hal yang sama kepada kita anak-anakNya juga. Karena dalam suatu pengorbanan yg harus kita pilih, Tuhan memiliki rencanaNya sendiri, hanya tinggal maukah kita menjalaninya, maukah kita mengorbankan harta kita, perasaan kita, bahkan nyawa kita sekalipun? Untuk sesuatu yang lebih besar, untuk kemulyaan Tuhan. Marilah kita mulai memikirkan dan minta petunjuk Tuhan, apakah yang dapat kita korbankan untuk menghasilkan dampak yang lebih besar bagi kebaikan dan kemulyaan Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berhenti Menjadi Gelas
07 April '18
Tuhan Yesus Teguh Iman Dan Mengutus
14 April '18
Pantang Menyerah1
29 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang