SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Manusia yang tertekan jiwanya tidak membutuhkan cemoohan, yang dibutuhkan adalah pengharapan yang bersumber dari Tuhan Yesus Kristus.
DITULIS OLEH
Ibu Evylia H. Goenawan
Ibu Gembala
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Tuhan Tidak Mencibir
Tuhan Tidak Mencibir
Kamis, 04 Januari 2018
Tuhan Tidak Mencibir
Mazmur43:1-5

Di penghujung tahun kemarin jagad K-Pop digemparkan oleh kepergian leading vocal boyband SHINee, Kim Jonghyun, yang begitu mengguncang. Tak dinyana kepribadian Jonghyun yang dikenal lucu dan ceria ternyata menyimpan sejuta beban dan kepedihan yang tersembunyi di balik canda dan tawanya. Upayanya mencari pertolongan tak membuahkan hasil sehingga ia nekad mengakhiri hidup dengan caranya sendiri.

Para fans meratapi kepergiannya sementara para haters sibuk mengolok-olok dan mencemooh penyanyi sekaligus penulis lagu yang meninggal di usia 27 tahun itu. Bahkan setelah meninggal pun, beban penderitaan seolah enggan melepas cengkeramannya atas pemuda yang dijuluki sebagai salah seorang dari 7 idol Korea yang ’terlahir untuk bermusik’.

Hidup manusia itu ’sawang-sinawang’. Yang tampak gemerlapan belum tentu membahagiakan; yang tampak biasa-biasa saja belum tentu menjemukan; yang tampak kumuh belum tentu memupuskan harapan. Tidak ada hak kita untuk menghakimi orang lain....selengkapnya »
Melihat Mbah Wanidy ketakutan luar biasa, Benay-tua sedikit meredupkan sorotan matanya. “Ada apa gerangan denganmu, pak tua? Mengapa engkau tampak ketakutan?” Dengan terbata-bata Mbah Wanidy coba mengatur nafas dan kata-katanya. “Kiii… kisanak…maaf…saya pikir An…anda adalah Benay….salah satu langganan warung saya. Wa..waaa..jah Anda miiii..mii..rip sekali dengannya.”Si Benay-tua pun tersenyum manis yang sesaat menyirnakan goresan keangkeran wajahnya. “O….begitu. Mbah tidak sepenuhnya salah”, ucapnya. “Lhoo…jadi Anda benar Benay?” tanya Mbah Wanidy penasaran. Benay-tua tertawa terbahak-bahak. “Bukan…bukan, saya bukan Benay! Saya kakak kandung Benay! Nama saya Rabenay.” Seketika itu juga hilanglah rasa takut Mbah Wanidy. Ia pun larut dalam gelak tawa meski harus berhati-hati agar gigi palsunya tidak copot. “O..saya baru tahu kalau Benay punya kakak kandung. Makanya kok wajah Mas Rabenay ini mirip sekali dengan Benay”, kata Mbah Wanidy. Rabenay tertawa ringan menanggapi keceriaan Mbah Wanidy. “Maaf lho Mas.. Saya sempat menduga Mas Rabenay itu dedengkotnya preman pelabuhan. Makanya tadi saya takut sekali.” “Ha..ha..ha..saya bukan preman. Saya kuli di pelabuhan Tanjung Mas ini”, kata Rabenay menjelaskan, “Memang dulu saya pernah bekerja di bidang jasa keamanan. Makanya masih tampak garang. Kalau Mbah butuh rasa aman, bisa sewa saya…ha..ha..ha..” Kemudian keduanya pun terlibat dalam percakapan yang akrab di tengah ramainya pelabuhan. Jemaat yang terkasih, kisah di atas menceritakan bagaimana Mbah Wanidy salah dalam menilai Rabenay. Salah dinilai seperti ini pernah dialami Yesus Kristus juga. Mendengar pengajaran-Nya yang penuh hikmat, menyaksikan perbuatan kasih-Nya yang berkeadilan bagi orang-orang terpinggirkan, dan melihat mujizat-Nya yang dahsyat, membuat beberapa orang menduga bahwa Tuhan Yesus kerasukan setan. Bahkan saudara-saudara-Nya pun menganggap Dia sudah tidak waras. Kesalahan menilai bukanlah kesalahan yang ringan. Kesalahan ini bisa berakibat fatal berupa sikap membenci dan berujung pada pembunuhan. Dan bukankah itu juga yang dialami oleh Tuhan kita? Tuhan dibenci kaum elit rohaniwan Bait Allah [Saduki]. Yesus dibenci para pengajar Taurat yang merakyat [Farisi]. Kristus dibenci pemangku kekuasaan politik-ekonomi [Herodes]. Dan bukankah kebencian para pemegang otoritas agama dan politik itu pula yang mengantar-Nya pada kematian di kayu salib? Dan bukankah pula sejak kelahiran-Nya, Dia sudah diburu oleh Herodes? Semua itu berujung pangkal dari salah menilai. Jemaat yang dikasihi Tuhan, menilai orang lain adalah bagian dari kehidupan kita. Namun janganlah sembarangan dalam memberikan penilaian, apalagi penghakiman pada orang lain. Kita perlu mengetahui dan memahami pikiran, sikap dan tindakan orang itu dengan sebenar-benarnya terlebih dahulu. Hanya dengan cara demikian penilaian atau penghakiman kita akan lebih adil. Terpujilah Tuhan!
Peristiwanya terjadi amat sangat lama, puluhan tahun yang lalu. Waktu itu saya menghadiri perayaan Natal mahasiswa di sebuah Seminari [Sekolah Alkitab]. Hati saya terperangah, terkagum-kagum menyaksikan sajian musik genta [lonceng] mengumandangkan lagu “Kesukaan Bagi Dunia”. Jumlah genta yang dimainkan tidak begitu banyak tapi dentang genta itu bergema memenuhi kalbu saya, membawa angan-angan saya melayang ke ribuan tahun yang lalu. Para malaikat menyanyi memberitakan natal pertama kepada para gembala di tengah-tengah kesunyian malam. Entah kenapa air mata sukacita mengalir tak terbendungkan mengenang masa itu. Sampai saat ini genta natal itu masih bergema di hati di saat tangan saya memegang lilin kecil yang menyala di malam Natal. Cerita lonceng natal adalah salah satu simbol/lambang Natal. Asal-usul lonceng dijadikan simbol natal karena bunyi lonceng yang bergema melambangkan berita tentang kelahiran Juruselamat yang dibawa para malaikat. Berita tentang kelahiran Yesus Kristus adalah suatu berita yang membawa kesukaan bagi dunia. Nabi Yesaya telah menubuatkan tentang kedatangan Yesus Kristus, Sang Mesias. Gema lonceng natal memberitakan : 1. Bahwa “Allah itu Raja” [ayat 7], Yesus Kristus memang datang ke dalam dunia sebagai Raja yang memerintah secara rohani dalam kebenaran. 2. Berita ini mendatangkan penghiburan dan sukacita [ayat 9]. Yesus Kristus adalah Terang Dunia. Ketika Ia datang, kegelapan sirna karena kegelapan tidak dapat menguasainya [Yohanes 1:1-9]. 3. Berita itu adalah berita keselamatan. Sang Penebus sudah datang. Ketika umat manusia yang berdosa mau menerima-Nya oleh iman kepada-Nya, ia diselamatkan. Dari status seorang musuh Allah diubah menjadi anak-anak Allah [Yohanes 1:12]. 4. Berita itu adalah berita penyertaan Allah bagi umat-Nya. Yesus Kristus disebut Imanuel [Matius 1:23], Allah beserta kita. 5. Berita itu sekaligus tentang Yesus Kristus sebagai Hamba yang menderita [ayat 13]. Sekalipun Ia raja, Ia datang dalam kesederhanaan, bahkan kepapaan dengan palungan sebagai tempat lahir-Nya. Namun itu semua tidak mengurangi kasih Bapa bagi umat-Nya. Terima kasih Bapa buat gema lonceng Natal yang memberikan suatu sukacita besar bagi umat manusia.
Bangsa Indonesia akan menjalani “tahun yang sibuk” di sepanjang tahun ini hingga tahun 2019 nanti. Indonesia akan menyelenggatakan “hajatan politik dan pesta demokrasi” besar. Paling tidak hingga tahun depan, yaitu pemilihan kepala daerah secara serentak di beberapa daerah di tahun 2018. Dan pemilihan legislatif dan pemilihan Presiden di tahun 2019. Jika kita berbicara tentang “hajatan politik”, maka ada fenomena yang selalu menyertainya. Apa itu? Politikus dadakan mulai bermunculan. Mulai dari hanya sekedar menjadi pengamat dan memprediksi perkembangan politik, hingga merapatkan diri ke parpol untuk dapat tampil menjadi politikus yang layak untuk maju dalam pemilihan. Kita semua tidak tahu, apakah semuanya itu dilandasi dengan sebuah motivasi yang benar atau hanya sekedar ingin tenar. Fenomena di atas seolah-olah juga mewabah hingga ke gereja. Tidak sedikit kita melihat fenomena, orang-orang yang “katanya” ingin terjun dalam hal kerohanian karena panggilan Tuhan. Mulai dari menjadi pelayan mimbar, menjadi hamba Tuhan ataupun menjadi pemberita Injil, namun ujung-ujungnya ternyata hanya untuk popularitas dan kenyamanan diri. Semuanya itu akan teruji dengan waktu apakah motivasi yang dibawa adalah benar, atau hanya sekedar kamuflase kebohongan belaka. Sebagai utusan Allah yang dipercaya untuk memberitakan Injil, Rasul Paulus menyampaikan pengajaran dengan motivasi yang benar. Pengajaran yang disampaikannya bukan untuk menyenangkan hati manusia, melainkan menyenangkan hati Allah. Paulus tidak mengajar dengan perkataan yang manis. Paulus juga tidak mengajar untuk mendapatkan uang atau mencari pujian dari manusia. Paulus memberitakan Injil dan menjalankan panggilan pelayanan-Nya semua dengan motivasi yang benar dan bukan untuk keuntungan diri semata. Namun sayangnya, masih banyak orang Kristen yang takut menyatakan kebenaran. Mereka lebih memilih menyenangkan orang, agar keberadaannya diterima, dan mencari sanjungan orang lain. Berkata-kata dengan manis, namun tujuannya melenceng, supaya diri pribadi terus dipercaya tampil di depan umum, supaya diri pribadi nyaman, dan sebagainya. Jangan sampai kita lupa bahwa hidup ini adalah milik Allah dan harus dipersembahkan bagi kemuliaan nama-Nya. Kita dipanggil untuk mewartakan Injil dengan murni, tanpa tipu daya atau motivasi yang terselubung. Ingatlah selalu, manusia mungkin dapat kita bohongi dengan penampilan manis kita, namun Tuhan tidak dapat dibohongi dengan semuanya itu. Jadilah murid Kristus yang mempunyai motivasi yang tulus dan benar di hadapan Allah. Jadilah pewarta kebenaran Firman yang tulus dan benar.
Memasuki tahun 2018 Matius 28:20b Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Hari ini kita ada di hari terakhir tahun 2017. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2018. Tahun 2018 adalah tahun yang penuh dengan tanda tanya, tahun yang sangat sulit untuk diprediksi. Karena pada tahun 2018 akan dilaksanakan Pilkada serentak di 171 daerah, yaitu 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Dan di Jawa Tengah sendiri akan dilaksanakan pemilihan gubernur. Khususnya Kota Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah tentu akan merasakan hangatnya suhu politik sebagai efek pilkada. Suasana menjelang Pemilihan presiden 2019 juga pasti sudah terasa di tahun 2018. Partai-partai pengusung calon RI1 akan saling berlomba mempopulerkan calonnya masing-masing. Kita berdoa agar tidak terjadi benturan-benturan yang mengakibatkan kegaduhan dan goncangan situasi negeri kita. Hal-hal yang tidak kita inginkan kiranya tidak terjadi. Kita percaya kepada Allah Sang Penguasa jagad raya ini, yang telah menebus dan mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya. Kita memohon perlindungan-Nya atas bangsa kita. Kita meyakini bahwa Dia mengasihi bangsa kita, dan menginginkan kebaikan bagi bangsa dan negara kita. Karena itu marilah kita tiada henti berdoa untuk bangsa dan negara kita, untuk kepemimpinan bangsa kita dan daerah kita, agar Tuhan memberikan pemimpin-pemimpin yang terbaik bagi bangsa kita dan daerah kita. Saya juga mengajak marilah kita berdoa bagi kemajuan pekerjaan Tuhan di negeri kita dan bagi kemajuan gereja kita. Rencana-rencana yang sudah kita buat, akan terus kita upayakan agar terlaksana dengan baik dan goal-goal yang sudah kita tetapkan kita terus upayakan agar tercapai. Jangan ada kata menyerah. Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja berjanji menyertai kita sampai kepada akhir zaman. Pada tahun 2018 ini gereja kita menetapkan tema: LAKUKAN YANG TERBAIK BAGI KESELAMATAN JIWA-JIWA. Selagi masih ada kesempatan, marilah kita mengerjakan tugas dari Tuhan Yesus untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang. Tuhan mau memakai kita sebagai alat-Nya untuk menjangkau jiwa-jiwa. Kiranya Tuhan memberkati kita semua dan memakai kita bagi Kerajaan-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Lonceng Natal
25 Desember '17
Hadiah Natal1
27 Desember '17
Kristus Datang Memberi Hidup Dan Pengharapan
24 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang