NIKMATI & BAGIKAN
  Artikel & Kesaksian
  Tulis Artikel / Kesaksian Anda
  Subscribe Renungan
  Electronic Formulir
  Form Permohonan Doa
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Penyerahan Anak
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Pendaftaran Pelayanan
NEWS & EVENT
ELECTRONIC FORM
Manfaatkan fasilitas formulir online, untuk efisiensi waktu dan tenaga Anda (tanpa harus ke kantor sekretariat gereja).
GO PAPERLESS - REDUCE USING PAPER - THINK BEFORE YOU PRINT - SAVE EARTH
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Permohonan Doa
  Form Pendaftaran Pelayanan
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
Home  »  Media  »  Artikel & Kesaksian  »  Duniawi vs Rohani: Dimanakah Hatimu?
Duniawi vs Rohani: Dimanakah Hatimu?
Duniawi vs Rohani: Dimanakah Hatimu?
anonymous
`Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.` Lukas 12:34. Harta tidak melulu bicara mengenai uang, tapi bisa juga bicara mengenai nama besar kita, gengsi, ego, harga diri, hobi, dan apapun yang kita marah saat itu diusik atau diambil dari hidup kita.

Pernahkah kita mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut seseorang dalam hidup kita? Mungkin itu keluarga, sahabat, atau pimpinan bahkan pejabat selevel walikota, gubernur, menteri, bahkan presiden sekalipun.

Kita memepersiapkan segala sesuatunya, mulai dari hari atau jam disaat beliau akan datang, sebisa mungkin semua janji atau aktivitas kita batalkan. Halaman, rumah, dan seisinya kita bersihkan, cat ulang, bahkan kita permak total. Makanan terbaik kita sediakan. Juga baju paling baru dan bagus pun kita pakai. Semua kita persiapkan demi orang spesial tersebut.

Namun apa yang ada di hati atau pikiran kita, apabila tiba-tiba orang tersebut menunda kedatangannya bahkan membatalkannya? Tentu hati kita sangat sedih dan hancur. Ya, semua orang pasti akan melakukan hal yang sama demi orang spesial tersebut....selengkapnya »
Siapapun orangtuanya, pasti menginginkan buah hatinya berlaku baik, sopan dan tidak nakal. Karena, sifat-sifat baik itu juga akan membuat sang orangtua menjadi bangga. Sementara jika nakal, orangtuanya pun akan merasa malu. Masih berlakukah statement tersebut?. Fenomena yang sekarang terjadi orang tua justru seolah-olah tidak peduli dengan kenakalan anak mereka. Ketika anak mereka bersikap temper trantum (di rumah ataupun tempat umum) dengan: 1). Menjerit-jerit 2). Berguling-guling di lantai 3). Naik-naik ataupun loncat-loncat di atas kursi atau meja, dsbnya. 4). Menjambak atau memukul teman bermain atau saudara mereka. Semuanya seolah-olah menjadi hal biasa dan normal buat para orang tua. Hal yang paling sering kita lihat, para orang tua hanya: 1). Menegur dengan cara memanggil nama anaknya, dari kejauhan sambil membiarkan anak mereka tetap melakukan hal tersebut. 2). Orang tua menaruh jari telunjuknya di depan mulut mereka, sebagai penanda agar anak mereka diam dan tidak nakal. 3). Memberikan gadget pada anak mereka agar duduk diam. Pada kenyataanya semua itu tidak efektif membuat anak mereka untuk tidak temper trantum kembali. Entah semua itu karena degradasi dari sebuah pola asuh, dikarenakan mereka lebih gemar dengan gadget mereka, atau gemar menonton sinetron, atau sibuk dengan aktivitas mereka, atau malas mendidik anak mereka, atau faktor lain. Namun pada intinya, orang tua tidak boleh menganggap anaknya yang sering melakukan ciri-ciri perilaku di atas sebagai sesuatu yang wajar, dan terus-menerus menolerir tindakan yang merugikan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain di sekitarnya. Lalu apa penyebabnya ? 1. Memenuhi Semua Keinginan Anak Banyak di antara orangtua yang selalu memenuhi permintaan anaknya. Padahal, pola asuh semacam ini bisa berdampak buruk bagi si anak. Sikap orangtua yang selalu memenuhi keinginan anak, misal membelikan mainan yang diminta, malah bisa membentuk anak menjadi manja, bersifat materialistik dan cenderung nakal. Memang, para orangtua sering memanjakan anak dengan alasan daripada anak marah, mengamuk dan jadi monster kecil di rumah, lebih baik dipenuhi saja keinginannya. Padahal, sebaiknya kita bisa memberikan pengertian kepada anak bahwa tidak semua keinginannya bisa dikabulkan. 2. Kurang Menerapkan Disiplin Terapkan disiplin pada anak. Salah menerapkan disiplin kepada anak ternyata bisa menyebabkan anak bersikap manja dan nakal. Banyak dari para orangtua yang tidak tahu cara yang benar untuk mendisiplinkan anak. Misalnya, tidak memiliki aturan yang tegas di rumah sehingga membuat anak bersikap semaunya saja. Nah, mulai sekarang orangtua perlu mengajarkan anak tentang konsekuensi dari setiap perilakunya. Misalnya, jika si anak tidak mau mandi, maka orangtua bisa memberikan pengertian bahwa nanti kulitnya gatal karena tubuhnya kotor. Perlu diingat, saat melatih disiplin pada anak, orangtua wajib bersikap konsisten dan memberi contoh nyata juga pada mereka. Untuk melatih disiplin, orangtua juga bisa menerapkan sistem punish and reward saat anak berperilaku negatif. Misalnya, anak tidak boleh menonton televisi jika belum selesai mengerjakan tugas sekolah. Atau, anak tidak boleh makan coklat kalau dia tidak meletakkan sepatu di rak sepatu. 3. Selalu Siap Membantu Anak Ketika orangtua mendapatkan laporan dari guru di sekolah tentang kenakalan anak, seringkali mereka tidak percaya akan hal tersebut. Banyak dari orangtua bersikap seolah-olah anaknya selalu berperilaku baik dan tak pernah berbuat salah. Bahkan tak jarang, orangtua malah selalu membela anak dan berbuat seolah-olah selalu berada di sampingnya untuk melindungi anak. Sikap terlalu sering membela anak ini akan membuat anak manja, egois dan membentuk perilaku nakal karena selalu merasa dibela oleh orangtuanya. Nah, agar anak bisa bersikap positif dan mau menerima teguran ketika melakukan kesalahan, maka yang harus dilakukan adalah memberi penjelasan bahwa bila anak berbuat salah dan orangtua memarahinya, itu bukan berarti tidak sayang lagi. Tunjukkan kepada anak bahwa tidak selamanya orangtua akan membela anak. Sang anak memang perlu ditegur saat berperilaku negatif di rumah ataupun di sekolah. 4. Bertengkar di Depan Anak Bertengkar dan berselisih paham adalah sebuah pertanda kehidupan di keluarga, dan itu wajar, selama di lakukan tanpa kekerasan, dalam fisik maupun perkataan, dan dalam tata aturan yang benar, serta menghormati suami/istri. Sayangnya, banyak diantara para orangtua yang sering bertengkar di depan anaknya dengan emosional yang tinggi. Sikap ini harus dihindari, karena suara dan teriakan keras dengan saling memaki bisa memberikan dampak buruk bagi anak. Misalnya, anak bisa berperilaku kasar ke teman, nakal dan tidak betah di rumah karena merasa tidak nyaman. 5. Memberikan Contoh Buruk Anak akan meniru segala sesuatu yang dilihat dari orang terdekatnya, yaitu kedua orangtuanya. Jika orang tua memiliki kebiasaan berteriak dan mengeluarkan kata kasar, maka otomatis anak akan meniru. Karena itu, orangtua harus bisa menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya. Tapi jangan khawatir, jika orangtua pernah berperilaku tidak baik, berikan penjelasan kepada anak bahwa apa yang telah dilihat adalah hal yang buruk dan anak tidak boleh meniru. Orangtua juga harus berjanji untuk tidak berperilaku buruk di depan anak, agar anak mengetahui bahwa hal yang buruk tidak boleh ditiru olehnya. Satu lagi mengenai acara televisi, yang saat ini didominasi oleh roh perceraian, roh pertengkaran, roh perselingkuhan, dll yang dipakai si iblis untuk membentuk karakter si penontonnya (baik si orang tua apalagi si anak). Jadi cobalah untuk memfilter apa yang masuk di otak kita dan otak anak-anak kita. Secara tidak langsung acara televisi, merupakan salah satu produk percontohan buat anak, jika tidak difilter oleh orang tua mereka. Saran Buat Orang Tua Buat para orang tua ataupun calon orang tua, anak adalah anugrah Tuhan Yesus yang dititipkan oleh Tuhan untuk kita didik dalam jalur pengenalan yang benar akan Kristus. So, luangkan waktu anda untuk memberikan pola asuh yang benar, bukan asal memiliki anak, tanpa punya waktu memberikan pola asuh yang benar, akhirnya pola asuh diserahkan pada pembantu, baby sitter, ataupun kakek neneknya, karena mereka adalah anak anda bukan anak orang lain `Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.`
Hoax, kata yang marak kita dengar belakangan ini. Sebenarnya apa sih hoax itu? Hoax berasal dari kata `hocus` atau `hocus pocus` yang artinya `sim salabim`. Istilah `april mop`, 1 April, juga merupakan salah satu contoh hoax. Di dunia ini hanya mengenal `hitam` & `putih`, salah & benar. Warna abu-abu ada, tapi kebenaran yang abu-abu sama sekali tidak ada. Hitam-putih menunjukkan ketegasan akan keyakinan dari kebenaran yang kita pegang. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Mat 5:37. Kebenaran disini bukan berarti iman/agama/kepercayaan, tapi arti secara umum, kebenaran dari setiap apa yang kita percayai, yang terwujud dalam bentuk tutur kata & perbuatan kita secara pribadi. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. Mat 12:33b. Tutur kata & perbuatan kita merupakan salah satu produk buah yang kita hasilkan, yang paling nyata, yang bisa dilihat & dinilai orang. Baik-buruknya diri kita, seberapa mahal & berharga nya diri kita bukan dinilai dari seberapa mahal barang yang kita pakai, tapi dari apa yang kita hasilkan. Dari buah yang kamu hasilkan, kamu akan dikenal mereka. Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Mat 7:16-17. Apapun yang kita share (lisan maupun tulisan - via sosmed), terutama yang bukan bersumber dari diri kita pribadi (dari internet/opini pribadi orang lain), ketika kita sudah memutuskan untuk men-share hal tersebut, artinya kita MENYETUJUI & MENGAMINI apapun kata (lisan/tulisan) yang kita share tersebut. Ketika kita akan membeli sebuah produk properti/gadget/dll., seberapapun budget nya, tentu kita tidak akan asal beli (kecuali budget tak terbatas, tanpa pikir panjang otomatis kita akan pilih yang PALING MAHAL - dengan pertimbangan bahwa yang paling mahal adalah yang terbaik kualitasnya). Kita cari tau produsen nya siapa, spesifikasi nya bagaimana, dll. Sebisa mungkin kita akan pilih yang BEST OF THE BEST. Benar kan? Padahal secara prinsip dasar, manusia tentu ingin selalu dipandang baik di mata manusia lainnya. Tapi soal informasi yang kita share, seringkali kita ASAL. Baca judul menarik, langsung share tanpa baca dulu isinya benar/tidak, tanpa cari tau sumber nya dari mana, sumber nya kredibel atau tidak. Apa jadinya kalau seorang pemimpin men-share berita hoax? Berita yang tidak teruji kebenarannya, berita yang abu-abu, apalagi berita yang jelas ngawur & tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bukan hanya akan menjatuhkan harga diri kita sebagai pemimpin, tapi itu artinya juga kita menganggap rendah orang-orang yang kita share info/berita hoax tersebut. Berita hoax = SAMPAH, tidak berguna & justru cenderung menyesatkan, bukannya kedamaian tapi menimbulkan keresahan. Kalau berita-berita seperti itu yang kita share, artinya kita menganggap OTAK mereka = TONG SAMPAH? Karena apapun informasi yang kita terima (dengar/baca) tentu akan melewati otak kita, baik itu hanya lewat begitu saja maupun tersimpan dalam memori otak kita, benar kan? Ada yang berdalih, `menurutku konten nya bagus & bermanfaat, jadi ya aku share aja, mengenai kebenaran konten nya ya aku kurang tau ya`. Alasan seperti itu kurang bertanggung jawab. Apapun yang kita perbuat harus bisa kita pertanggungjawabkan. Kalau memang tidak yakin kebenarannya, lebih baik tidak usah share, daripada menyesatkan. Topik berita yang banyak dimanfaatkan sebagai berita hoax, antara lain berita politik, ekonomi, dan kesehatan. So, lebih selektiflah, terutama untuk topik-topik tersebut. Terutama Anda, seorang pemimpin, siapapun Anda. Gembala, rohaniwan, penatua, diaken, pengerja, pemimpin komcil, guru sekolah minggu, kepala pemerintahan (ketua RT/RW/dst.). Ataupun Anda yang hanya seorang jemaat Kristen biasa, Anda juga adalah seorang pemimpin dimanapun Anda berada (di keluarga/tempat kerja/masyarakat/dll). Ya, sadar/tidak, secara umum (kecuali secara politik), banyak orang Kristen yang `di-tua-kan` (diantara sesama kalangan masyarakat biasa), dianggap punya nilai lebih dibanding orang lain. Seorang pemimpin, mau tidak mau, tentu dianggap lebih dewasa, lebih rohani, dll. Jadi, apapun yang di share oleh Anda, seorang pemimpin, tentu akan dipercayai, dianggap benar, & akan ditelan mentah-mentah (tanpa kroscek kebenarannya dll) oleh siapapun orang yang menerima broadcast share Anda. So, untuk Anda yang setuju dengan artikel ini, sebelum broadcast/share sesuatu hal, baik secara lisan maupun tulisan, pastikan kebenarannya. 1) Tidak perlu share info/berita yang tidak jelas sumbernya. 2) Cek kebenaran sumber & isi beritanya, bila perlu cek di google, bandingkan dengan media kredibel lainnya. 3) Pilih media yang sudah dipercaya, berimbang & sudah terbukti bertahun-tahun kompeten di bidang nya. Berikut media online yang direkomendasikan (urutan tidak mempengaruhi). 01) viva.co.id 02) tempo.co 03) detik.com 04) femina.co.id 05) kompas.com 06) okezone.com 07) merdeka.com 08) liputan6.com 09) jawapos.com 10) republika.co.id 11) tribunnews.com 12) metrotvnews.com 13) sp.beritasatu.com 14) cnnindonesia.com 15) mediaindonesia.com Pastikan alamat web sesuai dengan penulisan diatas, bukan alamat yang diplesetkan. Kalau memang kita belum bisa memberitakan Injil dimanapun Tuhan tempatkan, jangan sampai justru kita menjadi pembawa/penyebar berita hoax. Yuk, sama seperti Tuhan Yesus, Sang Pembawa Kabar Baik, sudah seharusnya kita sebagai pengikutnya juga mewartakan kabar baik, mewartakan kebenaran, yang mendatangkan damai sejahtera. Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera. Yes 32:17a.
Apa yang Anda lakukan jika mengetahui kelemahan atau keburukan atasan Anda? Bayangkan ini. Anda adalah calon yang disiapkan untuk menggantikan atasan Anda. Prestasi Anda gilang gemilang. Hampir seluruh karyawan di kantor lebih menyukai Anda ketimbang bos. Parahnya, atasan tahu kalau bawahannya lebih menyukai Anda. Bos tak tinggal diam dan sering mencari-cari kesalahan untuk menjegal Anda. Lalu tiba-tiba, datanglah kesempatan itu. Anda mengetahui bos melakukan kesalahan fatal dalam suatu proyek. Barangkali rekan sejawat Anda akan menyemangati Anda di saat-saat seperti ini. ”Ini waktunya Anda menduduki jabatan si Bos,” begitu kata mereka. Apa yang akan Anda lakukan? Kisah ini ada dalam sejarah. Tepatnya di Perjanjian Lama, 1 Samuel 24. Saat itu Saul mengejar Daud bersama beribu-ribu pasukan untuk membunuhnya. Di tengah pengejaran itu, Saul masuk ke gua untuk buang hajat. Ia sama sekali tak tahu kalau justru Daud dan pasukannya bersembunyi di belakang gua itu. Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: ”Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam. Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul. 1 Samuel 24:5-6. Jantung Daud berdebar-debar. Itu adalah peringatan dari Tuhan. Dengan memotong punca jubah saja, sebenarnya hati Daud tergoda untuk menuruti anjuran orang-orang di sekitarnya. Daud memang tak membunuh Saul, tapi ia sudah menyentuh ”jawatan” yang bukan haknya. Untung saja, Daud mendengarkan nuraninya. Pemimpin yang dibentuk oleh Tuhan memang tidak melewati proses mulus. Justru lewat tantanganlah, Tuhan mengasah karakter kita, menyiapkan diri kita menjadi pemimpin yang bijak dan takut akan Tuhan. There is no short cut to destiny.
Mentransfer uang atau mengirim uang melalui ATM merupakan salah satu kegiatan bertransaksi, yang kita harus tahu bagaimana cara melakukan transfer yang benar. Bagi yang sudah berpengalaman tentunya mudah, namun bagi yang baru mengenal atau mempunyai kartu ATM atau tabungan tentu akan bingung dalam melakukan transaksi ini dan ini bisa menjadi incaran atau sasaran orang yang tidak bertanggung jawab. Untuk menghindari hal itu kami akan menginformasikan cara mentransfer uang melalui mesin ATM. BCA merupakan salah satu bank yang cukup besar diseluruh Indonesia, kami akan memberikan penjelasan dengan contoh cara mentransfer dari ATM BCA (Prima) ke Bank Panin. Berikut langkah-langkahnya. 01). Cari gerai ATM BCA (berlogo BCA / Prima) 02). Masukkan kartu ATM BCA Anda 03). Masukan 6 digit PIN Kartu ATM Anda 04). Pilih Menu PILIHAN LAINNYA 05). Pilih menu TRANSFER 06). Akan muncul beberapa pilihan menu transfer, pilih menu KE REKENING BANK LAIN 07). Masukkan Kode Bank, jika tidak ingat, pilih menu DAFTAR KODE BANK, untuk kode Bank Panin adalah 019, pilih BENAR 08). Masukan nominal uang yang akan ditransfer, pastikan jumlah nominal uang sudah benar. Lalu pilih BENAR 09). Setelah itu masukan nomor rekening bank Panin yang akan dituju 10). Akan muncul konfirmasi info tujuan transfer anda, apakah sudah benar atau belum, jika sudah sesuai pilih BENAR 11). Tunggu proses transfer hingga selesai 12). Akan keluar struk sebagai bukti transfer, ambil dan simpan struk tersebut sebagai bukti yang sah 13). Selesai. Hal ini hampir sama dengan mentransfer ke bank lain seperti BCA (014), Mandiri (008), Danamon (011), Permata (013), BII (016), CIMB Niaga (022), UCBC NISP (028), HSBC (041), DBS (046), Citibank (031), Standard Chartered (050), BRI (002), BNI (009), Bukopin (441), dan bank lainnya dengan catatan anda mengingat Kode Bank yang akan ditransfer. Selain itu mentransfer ke bank lain anda akan dikenakan biaya sebanyak Rp 6.500,-. Itulah sedikit informasi yang dapat disampaikan, semoga bermanfaat bagi Anda semua dan ingat selalu berhati-hati dalam bertransaksi di Gerai ATM terdekat.
FOLLOW OUR INSTAGRAM
ARTIKEL & KESAKSIAN
Jadwal Ibadah Minggu
06 April 2025
Tidak Ada Kegiatan Ibadah
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang