SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Untuk dapat bertumbuh, ada sesuatu yang sederhana yang harus kita lakukan, yaitu tinggal di dalam Dia.
DITULIS OLEH
Pdm. Benaya D. Cahyono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Dinamis Dan Efektif
Dinamis Dan Efektif
Jumat, 24 November 2017
Dinamis Dan Efektif
Yohanes 15:5-6

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas tong sampah di depan sebuah rumah. Melihat pintu terbuka, seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas keluar menuju pintu masuk. Namun ternyata pintu kaca itu telah tertutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangan seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu. Dengan tak kenal menyerah dia mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan.

Esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai. Tak jauh darinya, tampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarang untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuhnya hingga mati. mereka pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu ...selengkapnya »
Di awal tahun ini, Pak Matsu memulai pertanian dengan pembibitan benih bunga selasih. Pembibitan ini dimulai dengan mencangkul tanah supaya menjadi gembur. Setelah itu, tanah tersebut dicampur dengan pupuk kandang agar menjadi subur. Sebelum bibit bunga selasih ditabur ditanah tersebut, Pak Matsu terlebih dahulu membuat pagar untuk sekeliling tempat pembibitan agar tidak dirusak oleh binatang-binatang piaraan. Setelah proses pengolahan tanah selesai, benih siap ditaburkan. Dan menunggu beberapa minggu untuk melihat pertumbuhan dari benih tersebut. Kira-kira 3 bulan benih yang sudah tumbuh bisa dipindahkan di ladang atau di pot. Agar menghasilkan benih yang dapat bertumbuh dengan baik maka diperlukan tanah yang subur. Dalam perumpamaan tentang penabur, Tuhan Yesus memberikan gambaran tentang kehidupan orang yang percaya. Tipe pertama adalah orang yang mendengar firman tetapi tidak menyimpannya sehingga iblis datang untuk mencurinya. Oleh sebab itu, benih itu tidak dapat tumbuh sama sekali. Tipe kedua adalah orang yang mendengar firman dengan bersukacita, tetapi tidak sampai berakar yang kuat, karena dasarnya tidak kokoh. Ketika panas terik menyengat, mulailah layu imannya tanpa menghasilkan apa-apa. Tipe ketiga adalah orang yang menerima firman, berakar, dan bertumbuh. Namun pertumbuhannya berada di tengah-tengah semak duri yang semakin hari semakin lebih besar. Akhirnya matilah pertumbuhan itu, karena tidak kuat menghadapi berbagai tantangan dan persoalan yang menghimpit dan menekannya hari lepas hari. Tipe yang keempat adalah tipe tanah yang subur. Orang percaya yang telah menyiapkan hatinya untuk ditaburi benih firman. Jadi ketika firman itu ditaburkan, maka akan bertumbuh dengan sangat baik. Ia berakar semakin kuat dan pada saatnya akan menghasilkan buah yang banyak dan dapat dinikmati. Jemaat terkasih, setiap orang percaya pasti merindukan menjadi tipe yang keempat, yaitu menjadi tempat yang subur untuk menerima firman Tuhan. Akan tetapi untuk menjadi subur tidaklah instan. Maka hidup kita harus senantiasa dipersiapkan, yaitu melatih diri berfokus pada firman, merenungkan firman itu siang dan malam, serta menggumulkan di dalam doa supaya rema itu dapat tertanam dalam hati, berakar kuat, bertumbuh subur, dan pada akhirnya berbuah lebat. Mari menyiapkan seluruh kehidupan ini menjadi tempat bertumbuh dan berbuahnya firman Tuhan.
Saya bisa membayangkan kemarahan Naaman, ketika seorang suruhan Nabi Elisa menyampaikan pesan “pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan…” kepadanya. Sudah pasti Naaman marah luar biasa, dia merasa direndahkan dan diremehkan. Kalau saja tidak ditahan oleh pegawai-pegawainya, mungkin Nabi Elisa dan suruhannya sudah dihabisi. Wajar saja Naaman begitu marah, bagaimana tidak? Naaman seorang panglima perang yang terpandang [ay 1], berkedudukan tinggi, berprestasi dalam karirnya, dan sudah pasti secara social ekonomi dia diatas rata-rata. Tapi mengapa Tuhan ijinkan Naaman mengalami masalah berupa penyakit kusta, penyakit yang notabene banyak diderita oleh orang-orang dari kalangan bawah? Dan mengapa cara yang Tuhan pakai untuk menyembuhkanpun adalah cara yang tidak wajar? Bahkan terkesan aneh, mungkin memalukan dan tidak lazim? Tuhan bisa saja melenyapkan penyakit Naaman begitu saja, atau menyembuhkan dengan cara yang lebih baik, karena itu perkasa yang sangat mudah bagi Dia. Tetapi Dia Allah yang mengerti betul, apa yang seharusnya disembuhkan dari diri Naaman. Tuhan hanya memakai penyakit kusta sebagai alat untuk menyembuhkan “penyakit” Naaman yang sebenarnya. Keangkuhan dan kesombongan yang ada pada Naaman [ay. 12], itu yang ingin disembuhkan Tuhan. Untunglah Naaman mau memperbaiki diri, dia menyadari akan keangkuhan dan kesombongannya, dan belajar untuk merendahkan diri [ay.14]. Dan ketika Naaman membuka diri terhadap apa yang dikehendaki Tuhan, mujizatpun terjadi, dia sembuh dari penyakitnya. Seringkali masalah yang ada dalam kehidupan kita begitu lama tidak ada jalan keluarnya, tidak kunjung ada pertolongan dariNya. Ada baiknya kita meneliti, menyelidiki, adakah sikap kita sudah benar, adakah kita sudah taat pada perintahNya, apakah kita masih sering melanggar rambu-rambu yang sudah ditetapkan Nya, apakah sifat/kebiasaan kita tidak sesuai dengan Firman Nya?. Adakalanya Tuhan memakai masalah untuk tujuan memperbaiki sesuatu dari diri kita yang tidak benar menurut pandangan Nya. Yang menjadi focus bagi Tuhan bukan sekedar menolong masalah itu, tetapi hidup kita yang sejati, sikap hati kita yang benar terhadap Firman Nya dan lingkungan. Tuhan ingin kita memiliki hati dan hidup yang benar sesuai dengan FirmanNya. Karena itu Dia terlebih dahulu akan memperbaiki sikap, hati dan hidup kita menjadi seturut dengan kehendakNya. Seperti Naaman yang dengan kesadaran mau merendahkan diri dan mentaati perintah Nya, mari kita belajar membuka hati, membiarkan Tuhan bekerja memperbaiki titik lemah kita. Dan saat kelemahan kita sudah diperbaikiNya, maka masalah kitapun akan Dia selesaikan juga, dan mujizat bukan hanya dialami oleh Naaman, tapi kitapun akan mengalami juga.
Gereja: Komunitas Keselamatan Kisah Para Rasul 2:46-47 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Gereja adalah komunitas keselamatan. Sejak semula Allah merancang gereja untuk menjadi sebuah komunitas dimana orang-orang mengalami keselamatan. Perhatikanlah kalimat ini: ’Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.’ Apa artinya ’diselamatkan’? Artinya, orang-orang yang masuk ke dalam komunitas itu dipulihkan hubungannya dengan Alllah dan dengan sesama. Mereka menerima anugerah pengampunan dosa, sehingga hubungan dengan Allah dipulihkan. Karena mereka merasakan kasih dan anugerah Allah, maka hati mereka dipenuhi dengan sukacita. Mereka suka berkumpul untuk memuji Tuhan. Mereka suka berkumpul untuk mendengar pengajaran Firman Tuhan dan untuk berbagi. Mereka saling berbagi harta mereka, saling membantu dalam meringankan beban hidup saudara seiman. Tidak ada di antara mereka yang kekurangan. Mereka yang masuk ke dalam komunitas itu bukan orang-orang yang telah sempurna. Mereka juga orang-orang berdosa. Tetapi mereka bersepakat untuk menjalani hidup sebagai orang-orang yang diselamatkan. Mereka mau belajar dan bersedia untuk diajar dengan kebenaran Firman Tuhan, agar hidup mereka mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Inilah arti komunitas keselamatan, yaitu gereja. Seringkali Gereja di masa kini melupakan jati dirinya sebagai komunitas keselamatan. Gereja banyak disibukkan dengan aktivitas-aktivitas yang tidak mengarah pada hidup keselamatan. Kita harus sadar dan berubah. Kita harus pastikan bahwa gereja kita adalah sebuah komunitas keselamatan. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
“Saya tidak menduga jika Nak Itong masih ingat dengan hutang saya?” kata Mbah Wanidy malu-malu. Pdt. Itong terkekeh lembut sembari menyeruput es teh segar yang terhidang di hadapannya. “Saya tentu ingat, Mbah. Saya masih muda dan belum pikun lho!” “Emang hutang saya pada Nak Itong berapa rupiah ya? Maaf saya benar-benar sudah lupa. Maklum mbah sudah tua, Nak?” “Hutang Mbah Rp. 4.574.625,-“, jawab Pdt. Itong tegas. “Wah...kok banyak sekali ya? Tapi maaf, hutang saya itu kan sebenarnya tunggakan biaya keamanan...”, kata Mbah Wanidy agak gemetar, “Biaya keamanan waktu Nak Itong masih preman profesional di daerah ini...he..he..he... Maaf, lho Nak Itong. Jangan marah ya?” Pdt. Itong menggeleng-gelengkan kepala. Dan setelah menenggak es teh sampai tetes terakhir ia berkata, “Tak mengapa, Mbah. Itu sudah jadi masa lalu saya.” “Jadi...kalau begitu hutang saya juga sudah jadi masa lalu juga ya Nak? He..he..he..apalagi kan sekarang Nak Itong sudah jadi pendeta, bukan preman penyedia jasa keamanan lagi?” ujar Mbah Wanidy yang mulai mempunyai keberanian. “Ya. Hutang Mbah sudah tidak saya pikirkan lagi. Apalagi itu hasil pemerasan saya pada Mbah saat itu. Masa lalu saya dengan segala kebanggaan dan kebodohannya adalah sampah bagi saya sekarang ini.” Wajah Mbah Wanidy kembali sumringah mendengar amnesti yang diberikan oleh Pdt. Itong. Jemaat yang terkasih. Mirip seperti masa lalu yang digambarkan dengan tokoh “Pdt. Itong” dalam kisah di atas, Rasul Paulus juga mempunyai masa lalu yang penuh dengan kesombongan. Kesombongan karena identitasnya sebagai orang Ibrani asli dan seorang Farisi yang sangat dihormati masyarakat. Bersamaan dengan itu ia juga begitu bangga dengan kegiatan rutinnya yang jahat sebagai penganiaya jemaat. Namun setelah perjumpaannya dengan Yesus Kristus yang mengubah hidupnya, semua kesombongan masa lalunya itu tampak sebagai sampah belaka baginya. Ia menjadi begitu terpukau dengan Yesus Kristus. Dan memiliki kerinduan yang kuat untuk mengenal Yesus, kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dengan penderitaan-Nya. Luar biasa, Rasul Paulus yang dahulu begitu sombong memusuhi Tuhan, sekarang malah berbalik dan siap menderita dalam Tuhan. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Berikanlah diri kita dipesonakan oleh Yesus Kristus melalui pengenalan akan Dia. Maka kita akan mendapati dengan jelas bahwa dalam hidup kita tidak ada yang dapat kita sombongkan. Apakah itu identitas kita? Status dan jabatan kita? Kekayaan kita? Semuanya itu hanyalah sarana saja yang sifatnya sementara. Sedang tujuan kita adalah mengenal dan mengenal Tuhan secara lebih dalam dan lebih dalam lagi. Selamat mengenal Tuhan dan melepas kesombongan. Terpujilah Tuhan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Sederhana Saja
09 Februari '18
Lakukan Kebaikan
13 Februari '18
Berdoa Bagi Mereka
05 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang