SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Untuk dapat bertumbuh, ada sesuatu yang sederhana yang harus kita lakukan, yaitu tinggal di dalam Dia.
DITULIS OLEH
Pdm. Benaya D. Cahyono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Dinamis Dan Efektif
Dinamis Dan Efektif
Jumat, 24 November 2017
Dinamis Dan Efektif
Yohanes 15:5-6

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas tong sampah di depan sebuah rumah. Melihat pintu terbuka, seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas keluar menuju pintu masuk. Namun ternyata pintu kaca itu telah tertutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangan seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu. Dengan tak kenal menyerah dia mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan.

Esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai. Tak jauh darinya, tampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarang untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuhnya hingga mati. mereka pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu ...selengkapnya »
Hati yang tenang Amsal 14:30 Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. Kehidupan kita dikendalikan oleh hati. Apakah kita sedang tertawa, atau sedang sedih , atau sedang marah ditentukan oleh bagaimana keadaan hati kita. Apakah kita sedang bersemangat menjalani hidup ini, ataukah sedang lesu tak bersemangat, juga ditentukan oleh keadaan hati kita. Kesehatan tubuh kita juga dipengaruhi oleh keadaan hati kita. Sebagaimana Firman Tuhan di atas mengatakan bahwa hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi hati yang iri membusukkan tulang. Firman Tuhan berkata: ’Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.’ [Amsal 4:23]. Oleh karena itu betapa pentingnya menjaga hati kita, agar selalu memancarkan kehidupan yang baik. Tetapi seringkali situasi di luar mempengaruhi bahkan mengendalikan keadaan hati kita. Misalnya tekanan-tekanan hidup, perkataan-perkataan yang negatif dari orang di sekitar kita, atau berita-berita tentang situasi politik atau ekonomi yang membuat kita kecil hati, semua itu seringkali merampas sukacita dan damai sejahtera dari dalam hati kita. Menjaga hati agar tetap tenang merupakan kunci dari hidup sehat dan bahagia. Hati yang tenang adalah hati yang selalu dekat dengan Tuhan. Di dalam dekat dengan Tuhan ada perlindungan yang sebenarnya. Itu bukan sekedar perasaan, tapi sungguh sebuah realitas. Firman Tuhan sendiri memberikan jaminan itu: ’Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.’ [Mazmur 62:2-3] Jemaat yang dikasihi Tuhan, jika Anda ingin hidup dengan sehat dan memiliki hati yang tenang, jalanilah hidup ini dengan mempercayai Tuhan. Sekalipun dalam hidup ini kita tidak bisa mengendalikan semuanya, tetapi jika kita selalu berada dekat dengan Tuhan, kita mendapatkan perlindungan dan hati kita akan merasa tenang. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Target orang percaya adalah menjadi murid sejati yang rela dididik oleh Tuhan dalam sekolah kehidupan selama hidup di bumi ini [Titus 2:11]. Harus dipahami bahwa agenda Bapa dengan Anugerah Keselamatan melalui penebusan salib yang sangat mahal harganya adalah mengembalikan manusia kepada rancangan semula pada waktu Tuhan menciptakannya, yaitu sempurna seperti Bapa, kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya. Tuhan Yesus memberikan syarat untuk bisa menjadi murid/pengikut-Nya, yaitu menyangkal diri dan memikul salib setiap hari [Lukas 9:23]. Rasul Paulus menggambarkannya dengan ungkapan “meninggalkan manusia lama” [Efesus 4:22; Kolose 3:9] Menyangkal diri pada hakikatnya adalah melepaskan kesenangan sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dari hal-hal sederhana sampai pada kesenangan yang sudah menyatu dengan dirinya, bahkan menjadi senilai dengan nyawa atau hidupnya, yang tentunya sangat sulit dilepaskan. Kesenangan yang harus dilepaskan adalah seseorang atau sesuatu: kekayaan, kehormatan manusia, kedudukan, kenikmatan daging, hobi, perhiasan, dsb. Kesenangan tersebut sering dianggap tidak melanggar kehendak Tuhan karena dinilai wajar seperti yang dimiliki oleh manusia pada umumnya. Kesenangan telah bertahta dalam hati dan tidak terbaca oleh siapapun, bahkan dirinya sendiri, sehingga melepaskan kesenangan ibarat mencabut nyawa dan sangat menyakitkan. Hal ini bertentangan dengan prinsip hidup Tuhan Yesus yang kesenangan-Nya adalah menyenangkan hati Bapa [Yohanes 4:34]. Orang percaya yang kesenangannya seperti ini berarti tidak memiliki berhala [2 Korintus 11:2-3] Meninggalkan manusia lama berarti meninggalkan sama sekali cara berpikir, pola hidup dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Analoginya bangsa Israel yang diperintahkan untuk menumpas bangsa-bangsa [kafir] di Kanaan. Untuk itu orang percaya tidak boleh berhenti mengalami pembaharuan pikiran [Roma 12:2]. Menumpas semua unsur manusia lama perlu proses panjang yang dilakukan dengan segenap hati dan harus dimulai sejak dini/secepatnya. Kesadaran dan kesediaan yang tulus harus diikuti dengan langkah konkret untuk terus bertumbuh dalam Kebenaran Injil yang murni. Tuhan akan menolong dan menggarap kehidupan kita [Roma 8:28-29, Filipi 2:12-13].
Apakah yang membuat orang menjadi sakit hati, jengkel, ataupun pedih? Ada banyak hal penyebabnya. Misalnya perlakuan yang tidak adil, fitnah, perlakukan yang semena-mena, diremehkan, pengkhianatan, dll. Hal seperti itu sering menimpa banyak orang, termasuk juga orang-orang beriman. Sebenarnya orang yang sakit hati, pedih, dan perih menanggung kejengkelan yang sangat dalam adalah orang yang tidak mendapat keadilan dalam hidupnya baik itu di lingkungan pekerjaan, masyarakat, pendidikan bahkan juga di keluarga. Bagaimana sikap orang beriman ketika dirinya sedang menghadapi perasaan sakit hati, kejengkelan karena ulah orang lain yang memperlakukannya tidak adil dan semena-mena? Mari kita memperhatikan sikap Daud ketika dia sedang menghadapi perlakuan yang tidak adil. Daud mengalami perlakuan semena-mena, suatu ketidakadilan, mungkin semacam fitnahan [ayat 6]. Apa yang dilakukan Daud? Yang dilakukan Daud adalah mendatangi Tuhan, menghampiri tahta Tuhan dalam doa yang hidup. Kemudian dalam doanya itu Daud memohon supaya Tuhan memberi keadilan [ayat 1]. Selain itu Daud mengutarakan bagaimana dia hidup dengan penuh iman dan takut akan Tuhan [ayat 1b, 3], sehingga dia berani mengatakan di hadapan Tuhan bahwa dirinya memiliki kehidupan yang bermoral: tidak duduk dan bergaul dengan para penipu dan orang munafik [ayat 4]; Dia benci dengan perkumpulan orang yang berbuat jahat [ayat 5]; hidup dalam ketulusan [ayat 11a]. Begitu seriusnya Daud berdoa memohon supaya dia tidak mati sia-sia bersama dengan orang-orang berdosa, yaitu para penumpah darah, yang berbuat mesum, dan yang suka menerima suap [ayat 9-10]. Semua kebenaran yang melekat dalam kehidupannya, disampaikannya hanya kepada TUHAN. Saudara kekasih Tuhan, sikap seperti Daud-lah yang harus dilakukan orang beriman ketika dia sedang menghadapi perlakuakn semena-mena dan ketidakadilan. Datang hanya kepada TUHAN, bukan kepada manusia karena manusia bisa memberi arahan yang salah, minta keadilan bukan minta kemenangan. Sebab bagi orang beriman tidak diperkenankan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi menyerahkan semuanya pada Tuhan dan tetap bersikap kasih kepada “seteru” kita [Roma 12:9-10]. Datang kepada Tuhan dalam pergumulan doa yang serius, sampaikan segala keluh kesahmu hanya kepada Tuhan.
Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena bisa membahayakan, jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop, mulai menyekop tanah dan menimbun sumur tersebut. Pada mulanya ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian semua orang takjub karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan selamatlah dia. Selama kita hidup, maka seringkali kita akan menerima segala macam tanah dan kotoran, yaitu segala macam masalah dan persoalan kehidupan ini. Cara untuk keluar dari “sumur masalah” adalah dengan menghilangkan segala pikiran negatif dalam diri kita dan mampu menderita, serta terus bekerja dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya mulai menyelesaikan masalah dengan terus melangkah maju, setahap demi setahap, terus mengatasi masalah demi masalah seumur hidup kita. [WIN] Pokok renungan: Setiap masalah merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam dengan tetap mengandalkan Tuhan, berpikir positif dan terus berjuang. Jangan pernah menyerah!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Apakah Dia Benay?
27 November '17
Bersinar Dan Berdampak
09 Desember '17
Runtuhnya Tembok Yerikho
30 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang