SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Apa yang dipesankan Tuhan dalam Firman-Nya selalu ada maksud dan tujuan yang baik dan mulia, oleh karenanya jangan abaikan apalagi dibuang percuma.
DITULIS OLEH
Pdm. Benaya D. Cahyono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Jangan Abaikan Surat Dari Tuhan
Jangan Abaikan Surat Dari Tuhan
Selasa, 08 Agustus 2017
Jangan Abaikan Surat Dari Tuhan
Mazmur 1:1-3

Ada seorang pemuda mendapat warisan dari ayahnya. Karena tergolong keluarga sederhana, ia hanya mendapat sedikit uang dan beberapa buah buku. Sebelum meninggal, ayahnya berpesan, “Anakku, buku-buku ini adalah harta yang tak terhingga nilainya. Ayah berikan kepadamu, baca dan pelajarilah. Mudah-mudahan kelak nasibmu bisa berubah lebih baik. Dan ini sedikit uang, pakailah untuk menyambung hidup dan bekerjalah dengan rajin untuk menghidupi dirimu sendiri.” Tak berapa lama, uang yang ditinggalkan pun habis terpakai. Sejenak ia melongok buku-buku peninggalan ayahnya. Ia teringat pesan sang ayah agar belajar dari buku tersebut. Karena malas, ia mengambil jalan pintas. Buku itu dijual kepada temannya. Sebagai gantinya, ia mendapatkan beras untuk makan sehari-hari. Beberapa saat kemudian si pemuda harus mulai bekerja kasar demi menyambung hidup. Yang membuatnya heran, teman yang dulu membeli bukunya, kini hidup nyaman dan semakin maju. Karena penasaran, ia mendatangi dan menanyakan apa yang membuatnya berhasil.

Meski sempat tidak mau membuka rahasia, tetapi setelah didesak dan kasihan, akhirnya si teman terbuka. “Sebenarnya, aku sangat terbantu dengan buku yang kamu jual kepadaku. Dulu aku beli buku itu karena kasihan kepadamu. Kubiarkan saja berdebu di sudut kamar...selengkapnya »
Melihat Mbah Wanidy ketakutan luar biasa, Benay-tua sedikit meredupkan sorotan matanya. “Ada apa gerangan denganmu, pak tua? Mengapa engkau tampak ketakutan?” Dengan terbata-bata Mbah Wanidy coba mengatur nafas dan kata-katanya. “Kiii… kisanak…maaf…saya pikir An…anda adalah Benay….salah satu langganan warung saya. Wa..waaa..jah Anda miiii..mii..rip sekali dengannya.”Si Benay-tua pun tersenyum manis yang sesaat menyirnakan goresan keangkeran wajahnya. “O….begitu. Mbah tidak sepenuhnya salah”, ucapnya. “Lhoo…jadi Anda benar Benay?” tanya Mbah Wanidy penasaran. Benay-tua tertawa terbahak-bahak. “Bukan…bukan, saya bukan Benay! Saya kakak kandung Benay! Nama saya Rabenay.” Seketika itu juga hilanglah rasa takut Mbah Wanidy. Ia pun larut dalam gelak tawa meski harus berhati-hati agar gigi palsunya tidak copot. “O..saya baru tahu kalau Benay punya kakak kandung. Makanya kok wajah Mas Rabenay ini mirip sekali dengan Benay”, kata Mbah Wanidy. Rabenay tertawa ringan menanggapi keceriaan Mbah Wanidy. “Maaf lho Mas.. Saya sempat menduga Mas Rabenay itu dedengkotnya preman pelabuhan. Makanya tadi saya takut sekali.” “Ha..ha..ha..saya bukan preman. Saya kuli di pelabuhan Tanjung Mas ini”, kata Rabenay menjelaskan, “Memang dulu saya pernah bekerja di bidang jasa keamanan. Makanya masih tampak garang. Kalau Mbah butuh rasa aman, bisa sewa saya…ha..ha..ha..” Kemudian keduanya pun terlibat dalam percakapan yang akrab di tengah ramainya pelabuhan. Jemaat yang terkasih, kisah di atas menceritakan bagaimana Mbah Wanidy salah dalam menilai Rabenay. Salah dinilai seperti ini pernah dialami Yesus Kristus juga. Mendengar pengajaran-Nya yang penuh hikmat, menyaksikan perbuatan kasih-Nya yang berkeadilan bagi orang-orang terpinggirkan, dan melihat mujizat-Nya yang dahsyat, membuat beberapa orang menduga bahwa Tuhan Yesus kerasukan setan. Bahkan saudara-saudara-Nya pun menganggap Dia sudah tidak waras. Kesalahan menilai bukanlah kesalahan yang ringan. Kesalahan ini bisa berakibat fatal berupa sikap membenci dan berujung pada pembunuhan. Dan bukankah itu juga yang dialami oleh Tuhan kita? Tuhan dibenci kaum elit rohaniwan Bait Allah [Saduki]. Yesus dibenci para pengajar Taurat yang merakyat [Farisi]. Kristus dibenci pemangku kekuasaan politik-ekonomi [Herodes]. Dan bukankah kebencian para pemegang otoritas agama dan politik itu pula yang mengantar-Nya pada kematian di kayu salib? Dan bukankah pula sejak kelahiran-Nya, Dia sudah diburu oleh Herodes? Semua itu berujung pangkal dari salah menilai. Jemaat yang dikasihi Tuhan, menilai orang lain adalah bagian dari kehidupan kita. Namun janganlah sembarangan dalam memberikan penilaian, apalagi penghakiman pada orang lain. Kita perlu mengetahui dan memahami pikiran, sikap dan tindakan orang itu dengan sebenar-benarnya terlebih dahulu. Hanya dengan cara demikian penilaian atau penghakiman kita akan lebih adil. Terpujilah Tuhan!
Di penghujung tahun kemarin jagad K-Pop digemparkan oleh kepergian leading vocal boyband SHINee, Kim Jonghyun, yang begitu mengguncang. Tak dinyana kepribadian Jonghyun yang dikenal lucu dan ceria ternyata menyimpan sejuta beban dan kepedihan yang tersembunyi di balik canda dan tawanya. Upayanya mencari pertolongan tak membuahkan hasil sehingga ia nekad mengakhiri hidup dengan caranya sendiri. Para fans meratapi kepergiannya sementara para haters sibuk mengolok-olok dan mencemooh penyanyi sekaligus penulis lagu yang meninggal di usia 27 tahun itu. Bahkan setelah meninggal pun, beban penderitaan seolah enggan melepas cengkeramannya atas pemuda yang dijuluki sebagai salah seorang dari 7 idol Korea yang ’terlahir untuk bermusik’. Hidup manusia itu ’sawang-sinawang’. Yang tampak gemerlapan belum tentu membahagiakan; yang tampak biasa-biasa saja belum tentu menjemukan; yang tampak kumuh belum tentu memupuskan harapan. Tidak ada hak kita untuk menghakimi orang lain. Seperti orang lain tak mampu memahami kita sedalam-dalamnya, kita pun tak mampu memahami apa yang dilalui orang lain dalam hidupnya. Yang perlu kita lakukan adalah menjalani hidup sebaik yang kita bisa. Puji syukur, kita memiliki Tuhan yang senantiasa setia menerima kita apa adanya. Bersyukur sekali ada Tuhan yang tak pernah mencibir saat kita terpuruk. Haleluya, ada Tuhan yang menguatkan kita sehabis badai menerpa. Maka jiwa kita tidak akan berlama-lama dalam keadaan tertekan, sebab ada Tuhan yang menjadi harapan kita. Kita sangat diberkati karena memiliki Tuhan Yesus Kristus sebagai sumber kekuatan dan pengharapan. Berhentilah mencibir orang-orang yang gamang dan putus asa, sebaliknya bantulah mereka untuk menaruh harap kepada Kristus, sang Batu Karang yang Teguh.
Bangsa Indonesia akan menjalani “tahun yang sibuk” di sepanjang tahun ini hingga tahun 2019 nanti. Indonesia akan menyelenggatakan “hajatan politik dan pesta demokrasi” besar. Paling tidak hingga tahun depan, yaitu pemilihan kepala daerah secara serentak di beberapa daerah di tahun 2018. Dan pemilihan legislatif dan pemilihan Presiden di tahun 2019. Jika kita berbicara tentang “hajatan politik”, maka ada fenomena yang selalu menyertainya. Apa itu? Politikus dadakan mulai bermunculan. Mulai dari hanya sekedar menjadi pengamat dan memprediksi perkembangan politik, hingga merapatkan diri ke parpol untuk dapat tampil menjadi politikus yang layak untuk maju dalam pemilihan. Kita semua tidak tahu, apakah semuanya itu dilandasi dengan sebuah motivasi yang benar atau hanya sekedar ingin tenar. Fenomena di atas seolah-olah juga mewabah hingga ke gereja. Tidak sedikit kita melihat fenomena, orang-orang yang “katanya” ingin terjun dalam hal kerohanian karena panggilan Tuhan. Mulai dari menjadi pelayan mimbar, menjadi hamba Tuhan ataupun menjadi pemberita Injil, namun ujung-ujungnya ternyata hanya untuk popularitas dan kenyamanan diri. Semuanya itu akan teruji dengan waktu apakah motivasi yang dibawa adalah benar, atau hanya sekedar kamuflase kebohongan belaka. Sebagai utusan Allah yang dipercaya untuk memberitakan Injil, Rasul Paulus menyampaikan pengajaran dengan motivasi yang benar. Pengajaran yang disampaikannya bukan untuk menyenangkan hati manusia, melainkan menyenangkan hati Allah. Paulus tidak mengajar dengan perkataan yang manis. Paulus juga tidak mengajar untuk mendapatkan uang atau mencari pujian dari manusia. Paulus memberitakan Injil dan menjalankan panggilan pelayanan-Nya semua dengan motivasi yang benar dan bukan untuk keuntungan diri semata. Namun sayangnya, masih banyak orang Kristen yang takut menyatakan kebenaran. Mereka lebih memilih menyenangkan orang, agar keberadaannya diterima, dan mencari sanjungan orang lain. Berkata-kata dengan manis, namun tujuannya melenceng, supaya diri pribadi terus dipercaya tampil di depan umum, supaya diri pribadi nyaman, dan sebagainya. Jangan sampai kita lupa bahwa hidup ini adalah milik Allah dan harus dipersembahkan bagi kemuliaan nama-Nya. Kita dipanggil untuk mewartakan Injil dengan murni, tanpa tipu daya atau motivasi yang terselubung. Ingatlah selalu, manusia mungkin dapat kita bohongi dengan penampilan manis kita, namun Tuhan tidak dapat dibohongi dengan semuanya itu. Jadilah murid Kristus yang mempunyai motivasi yang tulus dan benar di hadapan Allah. Jadilah pewarta kebenaran Firman yang tulus dan benar.
Setiap memasuki tahun baru banyak orang yang takut dan ragu-ragu untuk melangkah karena melihat situasi dunia yang tidak menentu dalam segala bidang. Ekonomi yang terpuruk, situasi politik yang mencekam, keamanan yang mengkhawatirkan, bencana alam yang silih berganti. Kekhawatiran itu ditambah lagi dengan adanya ramalan-ramalan paranormal yang lebih menakutkan dan berita-berita dalam medsos yang seringkali hoax tetapi sudah terlanjur membuat pembacanya ketakutan. Daud mengatakan bahwa Tuhan menjawab pada saat ia dalam kesesakan dengan mengirim bantuan-Nya dari tempat kudus dan Dia membentenginya. Tuhan akan memberikan apa yang dia kehendaki dan menjadikan berhasil setiap yang dirancangkan. Tuhan memberi kemenangan dan memenuhi segala permintaan. Tuhan menjawab dari sorga-Nya yang kudus dan memberi kemenangan yang gilang gemilang oleh tangan kanan-Nya bagi orang yang diurapi-Nya. Allah akan mengingat segala korban persembahan dan menyukai korban bakaran yang dipersembahkannya. Atas kemenangan yang diberi-Nya, Daud bersorak sorai, mengangkat panji-panji demi Allah dan bermegah dalam nama Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam tahun baru yang kita masuki. Kita khawatir apa yang akan terjadi dengan usaha/pekerjaan, keluarga, masa depan, kekristenan, dll. Tuhan berjanji akan memenuhi setiap kebutuhkan kita, dalam kesulitan dan masalah yang kita alami, Dia akan memberikan kemenangan. Bagian kita sebagai orang yang diurapi-Nya adalah memberi yang terbaik bagi-Nya, yaitu ketaatan dan keintiman dengan-Nya. Kita memuliakan Tuhan melalui setiap perkataan, perbuatan dan tindakan yang mengharumkan nama-Nya. Marilah kita memasuki tahun ini dengan penuh sukacita dan dengan keyakinan bahwa kita sanggup menanggung segala perkara di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Harapan Itu Masih Ada
20 Januari '18
Apakah Dia Benay ? [3]
01 Januari '18
Masih Adakah ’Happy New Year’
11 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang