SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Jalan Tuhan adalah yang terbaik dan benar, meskipun di awalnya terkadang tidak mengenakkan. Namun yang lebih menyedihkan adalah ketika kita membuat jalan sendiri yang ujungnya adalah penderitaan.
DITULIS OLEH
Pdm. Benaya D. Cahyono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Mengikuti Petunjuk
Mengikuti Petunjuk
Jumat, 08 September 2017
Mengikuti Petunjuk
Mazmur 1:1-3

Kisah ini saya alami saat sedang berpergian ke Muntilan Magelang pada saat libur lebaran. Tujuan kami adalah bermain ke rumah teman yang ada di sebuah desa lereng gunung Merapi. Seharian kami sekeluarga bermain dan pukul 17.30 kami pamit pulang ke Semarang. Teman kami menyarankan lebih baik pulang lewat Ketep tembus Kopeng sebab selain lebih dekat, juga kemungkinan jalan raya Yogja Magelang macet. Usul itu saya pandang baik meskipun saya belum pernah lewat jalur itu. Dan saya pun mengemudi sambil memperhatikan arah sesuai petunjuk teman saya. Namun ternyata ada jembatan yang rusak dan harus mengambil arah memutar. Karena bingung saya hanya mengikuti petunjuk jalan ke arah Ketep. Namun di persimpangan jalan, saya mengambil jalur yang salah dan akibatnya kami tersesat. Yang seharusnya sampai Salatiga, saya malah keluar di Boyolali dengan kondisi jalan yang mengerikan dan rusak. Semua itu membuat jantung berdegup kencang karena penuh kebingungan dan kekuatiran. Apalagi bensin juga akan habis dan tidak ada orang yang menjualnya.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, firman Tuhan adalah petunjuk yang benar yang menuntun hidup kita. Ketika kita mengikuti firman Tuhan, Alkitab mengatakan bahwa kita akan berbahagia sebab kita akan menemukan banyak pengajaran dan pertolongan Tuhan. N...selengkapnya »
Mengapa Tuhan Yesus tidak langsung naik ke Surga ? Mengapa harus menunggu di bumi selama 40 hari ? Salah satu alasannya adalah membuktikan bahwa Tuhan Yesus benar-benar bangkit dan hidup [Kis 1:3]. Berulangkali Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Sehingga mereka benar-benar percaya sepenuh hati dan tidak meragukan kebangkitan-Nya. Soren Kierkegaard membagi prilaku manusia ke dalam 3 tingkatan. Pertama, Aesthetic yaitu orang yang melakukan sesuatu hal berdasarkan apa yang dia suka. Tingkat ini bicara soal perasaan nyaman. Kedua, rasional yaitu menilai sesuatu berdasarkan masuk akal atau tidak, benar atau salah. Sesuatu akan dilakukan kalau masuk akal dan benar. Ketiga, iman kehendak Tuhan yang menjadi prioritas. Merasa nyaman itu perlu, bertindak rasional juga dibutuhkan. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu kehendak Tuhan. Tomas adalah salah satu murid Yesus yang sulit percaya karena ia tidak melihat sendiri kebangkitan Yesus. Mungkin Tomas sangat kecewa. Perasaannya tergoncang melihat melihat Yesus di tangkap, diadili, disiksa, digantung di kayu salib sampai mati. Tomas berpikir dengan logikanya sendiri, sehingga dia menolak saat murid-murid lain memberi kesaksian bahwa mereka melihat Yesus bangkit. Banyak peristiwa dalam hidup kita yang bisa menggoncang perasaan. Kita bisa hilang pengharapan. Pikiran tidak mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat Allah lakukan. Ketika dukacita, masalah berat menimpa, kita bersikap dan bertindak sebatas perasaan dan logika saja. Tuhan Yesus menegur Tomas: “Berbahagialah orang yang tidak melihat tetapi percaya.” Kita harus memiliki sikap berdasarkan pertimbangan iman. Iman melampaui perasaan dan logika manusia karena iman bersumber dari Firman Tuhan, Dengan iman yang teguh kita akan menjadi orang yang berbahagia.
Orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus [penebusan Salib Kristus] telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar dan dirinya menjadi milik Tuhan [I Korintus 6:19-20]. Berarti hidupnya tidak boleh memiliki cita-cita, keinginan untuk meraih sesuatu, kecuali sesuatu itu berguna bagi Tuhan. Keinginannya haruslah bukan untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk harga diri, gengsi, kehormatan di mata manusia. [Lukas 14:33] Dalam ayat bacaan tertulis : “…semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa [the right, hak istimewa] supaya menjadi anak-anak Allah,...” menjadi pribadi luar biasa, berkarakter serupa dengan Tuhan Yesus. Menjadi anak Allah tentunya bukan hanya sekadar status, namun benar-benar bisa berkeadaan sebagai anak Allah. Untuk mencapai keberadaan sebagai anak Allah tidaklah mudah, harus melalui proses panjang menjadi murid. Manusia diciptakan dengan . kehendak bebas di dalam dirinya, Tuhan tidak mengambil alih kemudi hidup atau kedaulatan manusia. Manusialah yang mengendalikan hidupnya, apakah mau mengarahkan hidupnya hanya untuk melakukan kehendak dan keinginan Tuhan atau tidak. Jadi yang sangat penting dalam hidup ini adalah, apakah kita sudah secara sadar rela dididik sebagai murid Kristus. Bapa sudah menganugerahkan fasilitas-fasilitas untuk membentuk kita bisa hidup sama seperti Kristus telah hidup, mengikuti jejak-Nya [I Yohanes 2:6] Fasilitas-fasilitas tersebut berupa : 1. Karya Penebusan oleh darah Yesus yang mahal harganya [I Petrus 1:18-19]. Dengan penebusan ini kita diubah status dari pemberontak menjadi orang kudus [I Korintus 1:2a]. Inilah yang disebut sebagai pengudusan pasif, yang hanya Tuhan yang dapat melakukannya. 2. Kebenaran Injil, yaitu kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, yaitu mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, memiliki kemuliaan Allah, menjadi serupa dengan Tuhan Yesus [Roma 1:16]. Rasul Petrus mengingatkan bahwa kita menyucikan diri oleh ketaatan kepada kebenaran [I Petrus 1:22]. Kita harus sungguh-sungguh belajar Kebenaran Injil. Hal ini disebut pengudusan aktif. 3. Roh Kudus : Menuntun orang percaya kepada segala Kebenaran [Injil], menolong kita dalam proses pengudusan [Yohanes 16:13] 4. Penggarapan Bapa melalui peristiwa-peristiwa dalam kehidupan sehari-hari [Roma 8:28] Berkeberadaan sebagai anak Allah [bukan sekadar status] adalah hal yang menyenangkan hati Bapa, kita harus memperkarakannya setiap hari sepanjang waktu singkat yang masih ada.
Yeremia adalah salah satu nabi yang dipakai oleh Tuhan seperti halnya Musa. Ketika Tuhan memanggil Yeremia dan memberitahukan kepadanya bahwa ia telah ditetapkan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Yeremia menanggapi panggilan Tuhan dengan “Tahu diri” bahwa dirinya tidak pandai bicara, apalagi dirinya yang masih muda, belum ada pengalaman. Namun demikian bukan berarti Yeremia menolak panggilan tersebut. Ada 2 hal yang terkandung dalam tanggapan Yeremia atas panggilanNya. Pertama : Ketidakmampuannya. Yeremia menjelaskan ketidakmampuannya dalam hal berbicara karena ia sadar betul dimana seorang nabi harus tegar dalam menyampaikan perkataan Firman yang dari Tuhan kepada umatNya. Sementara ia “Tahu diri” masih muda belum berpengalaman lalu harus berbicara di hadapan sebuah bangsa, baik yang anak-anak, remaja, pemuda, dewasa dan para tua-tua yang sudah berpengalaman diantara umat-umat tersebut [ayat 6] itulah yang dibayangkan oleh Yeremia. Mampukah aku menyuarakan kehendak Tuhan? mampukah aku berbicara dengan tegas? Kedua : Penyerahan diri. Orang yang menolak sebuah tugas karena alasan tidak mampu sangat berbeda dengan orang yang menolak tugas karena memang tidak bersedia melakukan tugas tersebut. Di dalam tanggapan atas panggilannya Yeremia menjelaskan keadaan yang sesungguhnya bahwa ia memiliki kelemahan. Pengakuan Yeremia itu bukan sekedar untuk memberitahu Tuhan namun itu adalah suatu bentuk penyerahan diri. Dan Tuhan tahu hal itu. Tuhan tidak butuh hal lain dari Yeremia. Ia butuh kesediaan dan ketaatan Yeremia untuk melakukan apa yang Ia perintahkan. Kekurangan dalam diri Yeremia bukan menjadi penghalang untuk Tuhan memakainya. Hanya dengan mengulurkan tanganNya ke mulut Yeremia, kesulitan itu teratasi. Semua orang pasti memiliki kekurangan dalam dirinya termasuk kita orang percaya yang seringkali menjadi penghalang bagi diri kita untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan tetapi apapun kekurangan itu akuilah semua di hadapan Tuhan. Tuhan tahu bagaimana memperlengkapi kita guna dipakai untuk tujuanNya bahkan dengan karunia-karunia yang tidak pernah kita duga untuk diberikan kepada kita untuk memberikan yang terbaik buat keselamatan jiwa-jiwa melalui Roh KudusNya yang ditaruh di dalam hidup kita. Nyatakan kekurangan dan kelemahan diri kepada Tuhan dan penyerahan diri kita kepadaNya maka Tuhan akan memampukan kita seperti halnya Tuhan sudah memampukan Yeremia.
Tahukah anda bahwa dalam proses pembuatan film The Passion Of The Christ telah membuat beberapa pemainnya mengalami perubahan untuk hidup lebih bersungguh-sungguh di dalam Yesus. Dalam kisah kesaksian yang banyak beredar, tercatat sang aktor utama, Jim Caviezel, mengalami perubahan yang luar biasa dalam hidupnya. Dia berubah dari yang semula hanya menjadi pengikut Yesus “yang biasa-biasa” saja, berubah menjadi orang yang setia, tekun dan mau melayani Yesus dengan segenap hati, pasca pembuatan film tersebut. Perubahan yang dialami Jim Caviezel terjadi saat dia mengalami betapa sulitnya memerankan adegan penyaliban. Mulai dari harus dimake-up selama 8 jam tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri. Tulang bahu yang bergeser akibat tidak kuat memanggul salib yang dibuat menyerupai aslinya. Terkena sabetan cambuk karena sang penyambuk meleset dari sasaran. Mengalami Hypotermia [penyakit yang dapat mengakibatkan kematian, yang disebabkan oleh kedinginan yang akut], karena harus menjalani pengambilan gambar di tempat yang dingin tanpa memakai baju. Serta yang paling parah adalah hampir mati karena terkena sambaran petir, saat memerankan peristiwa penyaliban. Jim Caviezel, memahami bagaimana beratnya penderitaan yang harus dialami Yesus untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa melalui peristiwa penyaliban. Satu lagi yang lebih luar biasa adalah kisah pertobatan salah seorang aktor yang memerankan sebagai prajurit Romawi yang mencambuki Yesus dalam adegan film tersebut. Sang aktor ini, yang semula pemeluk agama lain yang tidak percaya sama sekali Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, berubah menjadi seorang pengikut Yesus yang sejati. Perubahan drastis yang dialami oleh para aktor ini tidak terjadi secara kebetulan. Hal ini diawali dengan adanya respon iman kepada Yesus, sebagai pribadi yang mau berkorban bagi manusia. Para aktor ini disadarkan, bahwa Tuhan telah berkorban secara luar biasa untuk manusia yang berdosa. Pengorbanan-Nya bagi manusia tidak dapat dinilai harganya. Kita dapat membuka hati dan pikiran kita untuk beriman kepada Allah sebagaimana Dia telah menyatakan diri melalui Putra-Nya, Yesus Kristus. Dosa kita dapat diampuni berkat kematian-Nya di atas kayu salib. Hal ini tidak hanya memberi kita jaminan akan kekekalan yang penuh berkat, tetapi juga membuat kehidupan kita kini dan di sini memiliki arti dan pengharapan yang tidak terukur. Peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus bukanlah peristiwa biasa. Yesus yang sebagai “aktor utama” dalam peristiwa tersebut, memberi dampak positif bagi umat manusia. Inilah yang disebut sebagai Jesus Effect. Kematian dan kebangkitan Yesus membawa perubahan yang membawa kita keluar dari kegelapan menuju pada terang Kristus. Yohanes 8:12 berkata : ’Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan.’ Dengan peristiwa kematian dan kebangkitan-Nya , biarlah kita tetap tinggal di dalam iman percaya kita pada Yesus, dan memberi dampak yang positif bagi lingkungan. Sebab Yesus pun datang untuk kita, dan membawa perubahan bagi manusia.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Sahabat
19 April '18
Jadilah Sahabat Yang Jadi Berkat
21 Maret '18
Tak Melihat Namun Percaya
18 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang