SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
“Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita.”[1 Tesalonika 2:4]
DITULIS OLEH
Pdt. Victor Y. Nugraha
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Motivasi Yang Benar
Motivasi Yang Benar
Senin, 15 Januari 2018
Motivasi Yang Benar
I Tesalonika 2:1-12

Bangsa Indonesia akan menjalani “tahun yang sibuk” di sepanjang tahun ini hingga tahun 2019 nanti. Indonesia akan menyelenggatakan “hajatan politik dan pesta demokrasi” besar. Paling tidak hingga tahun depan, yaitu pemilihan kepala daerah secara serentak di beberapa daerah di tahun 2018. Dan pemilihan legislatif dan pemilihan Presiden di tahun 2019.

Jika kita berbicara tentang “hajatan politik”, maka ada fenomena yang selalu menyertainya. Apa itu? Politikus dadakan mulai bermunculan. Mulai dari hanya sekedar menjadi pengamat dan memprediksi perkembangan politik, hingga merapatkan diri ke parpol untuk dapat tampil menjadi politikus yang layak untuk maju dalam pemilihan. Kita semua tidak tahu, apakah semuanya itu dilandasi dengan sebuah motivasi yang benar atau hanya sekedar ingin tenar. Fenomena di atas seolah-olah juga mewabah hingga ke gereja. Tidak sedikit kita melihat fenomena, orang-orang yang “katanya” ingin terjun dalam hal kerohanian karena panggilan Tuhan. Mulai dari menjadi pelayan mimbar, menjadi hamba Tuhan ataupun menjadi pemberita Injil, namun ujung-ujungnya ternyata hanya untuk popularita...selengkapnya »
Ada berbagai motivasi yang mendasari seeorang melakukan kebaikan, antara lain perasaan belas kasihan, tidak mau kalah dengan orang lain, ingin mendapat pujian. Perikop renungan kita hari ini berbicara mengenai “Hal memberi sedekah”, dalam terjemahan bahasa Inggris dipakai kalimat “ Lakukan kebaikan untuk memuliakan Tuhan “ Dari kebenaran Firman Tuhan ini, jelas bagi kita bahwa berbuat kebaikan baik berupa materi /sedekah, pertolongan harus didasari motivasi yang benar, tulus jangan sampai ada tujuan yang terselubung. Pertama, jika kita melakukan kewajiban agama yang dalam terjemahan bahasa Inggris dipakai kata charitable = murah hati, suka berderma tidak untuk dipamerkan supaya dilihat orang karena jika itu yang kita lakukan maka kita tidak akan mendapat upah dari Bapa di Surga [ayat 1]. Kedua, jika kita melakukan kebaikan jangan kita mencanangkan [menggembar-gemborkan ] untuk mencari pujian dari manusiaseperti yang dilakukan orang munafik karena hanya itulah upah yang akan kita terima [ayat 2] Ketiga, dikatakan jika kita melakukan kebaikan jangan sampai tangan kiri tahu apa yang dilakukan tangan kanan kita dan juga kita harus melakukannya dengan tersembunyi. Artimya tidak seorangpun perlu mengetahui kebaikan yang kita lakukan [ayat 3,4]. Pada umumnya memang sulit menyimpan kebaikan yang telah dilakukan karena pada kenyataannya, kita pasti tahu apa yang tangan kanan dan kiri lakukan. Dalam Alkitab BIS, kata tersembunyi dipakai kata diam-diam artinya hanya Bapa di Surga yang mengetahui dan akan membalasnya kepada kita. Dari apa yang kita renungkan hari ini, marilah kita lakukan kebaikan dengan tulus hati tanpa motivasi yang terselubung untuk kepentingan pribadi. Amin.
Waktu berjalan begitu cepat, bulan Januari telah lewat dan kita masuk ke bulan ke-2 tahun ini. Ada hati yang berbunga-bunga tapi ada juga hati yang kelabu, yang pasti tidak seorang pun dari kita tahu apa yang akan terjadi di hari-hari yang kan kita lalui. Hati kita dipenuhi banyak tanda tanya: Bisakah ? Mungkinkah ? Rasa kawatir dan takut sering menghantui hidup kita. Banyak ketidakpastian berkecamuk dalam pikiran dan hati kita. Namun satu hal yang harus kita tahu pasti bahwa Allah ada di pihak kita, jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita? Dalam janji Allah ini ada 3 hal yanag harus kita pahami. Pertama: Allah berada di pihak kita! Bagaimana kita mengetahui dengan pasti? Mempercayai-Nya dan berada dalam kehendak-Nya ? Bukankah di dalam Yesus Kristus kita dipilih dan ditentukan dari semula untuk menjadi menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Kita juga dipanggil-Nya, dibenarkan-Nya dan dimuliakan-Nya. Kedua: Allah memberikan kekuatan dan kemenangan kepada kita. Kepastian ini kita peroleh karena Ia telah memberikan Anak-Nya Yang Tunggal, Yesus Kristus sebagai anugerah terbesar dalam hidup kita. Itu artinya bahwa Ia juga akan memberikan hal-hal lainnya yang kita butuhkan [ayat 32]. Ketiga: Persekutuan kita dengan Allah tidak akan dapat dipisahkan oleh apapun juga dalam dunia ini. Kesulitan hidup bisa saja datang menghadang tetapi bersama Tuhan, siapa takut? [ayat 35]. Mari kita melangkahkan kaki kita menapaki hari-hari di depan kita dengan penuh percaya akan penyertaan-Nya yang kekal.
“…aku ki kurang sabar piye to jeng? Wes puluhan tahun dikecewak’ke, disakiti atiku….tak ampuni terus..,nek wong liyo mesti wes ora tahan ngadepi wong koyo de’en, tapi nek ngene terus, opo yo aku kudu sabar terus? Kudu ngampuni terus?, aku wes kesel… capek jeng, wes cukup kesabaranku, sabar kan yo ono bates’e to jeng…” Demikian curhatan seorang ibu kepada temannya dalam menghadapi suamianya. Mungkin kita pernah mengalami saat-saat seperti itu, jenuh dan capek ketika harus terus menerus bersabar dan mengampuni anggota keluarga ataupun teman yang tak henti-hentinya menguji kesabaran kita. Sebagai manusia yang tidak sempurna, naluri dan kedagingan kita tentu tidak selamanya terkontrol. Ada kalanya emosi kita terpancing untuk membalas setiap ketidak adilan yang kita terima. Ketika kita hanya memikirkan kedagingan, maka sudah pasti amarah, dendam dan membalas ketidak adilan menjadi hal yang wajar dilakukan, mengingat manusia tidak memiliki kekuatan untuk bisa bersabar dan mengampuni. Dan kata-kata “kesabaran ada batasnya, karena manusia lemah” menjadi permakluman bagi kita. Itulah standart kita, manusia yang penuh kelemahan. Tapi ternyata bukan itu yang diinginkan Tuhan dari umatNya. Dia ingin kita memiliki standart yang sama dengan Nya dalam hal mengampuni. Dalam Matius 18:21-22, Petrus mengajukan standart tujuh kali dalam mengampuni seseorang, tapi Tuhan Yesus menginginkan kita mengampuni seseorang tujuh puluh kali tujuh. Bukan hanya sampai disitu, bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapa di Sorga tidak akan mengampuni kita, apabila kita tidak mengampuni orang lain dengan segenap hati. Artinya selama manusia masih mempunyai hati, selama itu pula dia harus mengampuni sampai kedasar hati, sampai segenap hati. Artinya tidak ada celah untuk tidak mengampuni kepada siapapun. Wow…..berat sekali standart yang ditetapkan Tuhan buat kita, rasanya terlalu tinggi buat manusia yang sangat lemah ini. Tapi bagi Tuhan tidak ada hal yang mustahil. Roh kuduslah yang akan terus menerus mengingatkan kita untuk berusaha mencapai standart tinggi itu. Roh kudus yang akan selalu mengajar kita menghadapi ujian kesabaran yang serasa tak ada habisnya, sampai kita bisa memenuhi standart yang diberikan Tuhan bagi kita.
Ketika saya sedang mendoakan jemaat yang sakit cukup lama karena faktor usia, saya sangat tertarik dengan perawat atau pengasuh dari jemaat yang sakit tersebut. Ketertarikan saya adalah ketika saya bertanya sudah berapa lama bekerja sebagai pengasuh orang sakit. Ia menjawab “saya melakukan pekerjaan ini sudah dua puluh tahun, dan saya sangat menyenangi pekerjaan saya ini.“ Itu adalah jawaban dari pengasuh tersebut. Pernah ia diajak bekerja diperusahaan. Namun ia menolak karena hasrat yang ada dalam dirinya adalah bisa menolong orang yang sedang sakit dan bisa menghibur dia yang sakit. Kadang ia kasihan melihat lansia yang ditinggal sendirian oleh anaknya yang sibuk mencari kekayaan dan usahanya sehingga lupa dengan orang tuanya. Tidak jarang ia diomel-omeli oleh pasien atau pihak keluarga, namun ia selalu senyum dan menjawab maaf dan sebagainya. Ia senang bisa menghantarkan lansia yang dalam masa kritisnya dengan doa dan semangat untuk bersyukur kepada Tuhan. Ia sangat senang bisa membagikan kekuatan yang ia miliki untuk membantu lansia. Dan yang menjadi kesukaannya ialah menolong orang lain untuk tidak kuatir bertemu Tuhan disaat hari akhirnya hingga yang dilayani mengenal Tuhan. Mengasuh lansia memang pekerjaan tidak populer dan itu tidak semua orang punya hati disana. Penting kita ketahui bahwa kita bisa menghibur dan menolong orang lain di dalam setiap apapun pekerjaan kita. Kita harus menyadari bahwa Tuhan menyertai kalau kita, kalau kita punya hati untuk jiwa-jiwa. Sering kali kita lupa, bahwa melalui apa yang kita kerjakan bisa menolong orang lain untuk mengenal Tuhan dan mengasihi Tuhan. Namun kita terkadang belum sampai disana. Tuhan tempatkan dipekerjaan dan usaha kita untuk bisa menjadi berkat dan belajar mensyukuri atas apa yang telah diperbuat dalam kehidupan kita. Sebab dengan kita melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, kita sudah melayani Tuhan. dan melakukan apa yang menjadi tujuan Tuhan atas kehidupan kita. Tujuan Tuhan bagi kita yaitu diberkati untuk menjadi berkat juga mengelola apa yang Tuhan percayakan dalam kehidupan kita. Oleh karenanya sesederhana apapun yang kita lakukan lakukanlah dengan segenap hati dan percayala jika kita melakukan dengan segenap hati orang yang ada disekitar kita pun akan terberkati, Semua yang kita lakukan dengan segenap hati pasti akan menjadi berkat dan kesukaan kepada setiap orang karena mereka merasakan dampak yang kita perbuat, selagi kita bisa berkarya dan melakukan sesuatu yang dapat menolong orang marilah kita melakukannya dengan segenap hati kita untuk Tuhan dan sesama.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menjadi Saksi Yang Efektif Untuk Keselamatan Jiwa-Jiwa
07 Februari '18
Fokus Tuhan Bukan Pada Masalah
26 Januari '18
Waspada Terhadap Pengaruh Gairah Zaman
19 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang