NIKMATI & BAGIKAN
  Artikel & Kesaksian
  Tulis Artikel / Kesaksian Anda
  Subscribe Renungan
  Electronic Formulir
  Form Permohonan Doa
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Penyerahan Anak
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Pendaftaran Pelayanan
NEWS & EVENT
ELECTRONIC FORM
Manfaatkan fasilitas formulir online, untuk efisiensi waktu dan tenaga Anda (tanpa harus ke kantor sekretariat gereja).
GO PAPERLESS - REDUCE USING PAPER - THINK BEFORE YOU PRINT - SAVE EARTH
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Penyerahan Anak
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Pendaftaran Pelayanan
  Form Permohonan Doa
Home  »  Media  »  Artikel & Kesaksian  »  Pemimpin Berintegritas: No Share Hoax
Pemimpin Berintegritas: No Share Hoax
Pemimpin Berintegritas: No Share Hoax
anonymous
Hoax, kata yang marak kita dengar belakangan ini. Sebenarnya apa sih hoax itu?

Hoax berasal dari kata `hocus` atau `hocus pocus` yang artinya `sim salabim`. Istilah `april mop`, 1 April, juga merupakan salah satu contoh hoax.

Di dunia ini hanya mengenal `hitam` & `putih`, salah & benar. Warna abu-abu ada, tapi kebenaran yang abu-abu sama sekali tidak ada. Hitam-putih menunjukkan ketegasan akan keyakinan dari kebenaran yang kita pegang.

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Mat 5:37.

Kebenaran disini bukan berarti iman/agama/kepercayaan, tapi arti secara umum, kebenaran dari setiap apa yang kita percayai, yang terwujud dalam bentuk tutu...selengkapnya »
Mentransfer uang atau mengirim uang melalui ATM merupakan salah satu kegiatan bertransaksi, yang kita harus tahu bagaimana cara melakukan transfer yang benar. Bagi yang sudah berpengalaman tentunya mudah, namun bagi yang baru mengenal atau mempunyai kartu ATM atau tabungan tentu akan bingung dalam melakukan transaksi ini dan ini bisa menjadi incaran atau sasaran orang yang tidak bertanggung jawab. Untuk menghindari hal itu kami akan menginformasikan cara mentransfer uang melalui mesin ATM. BCA merupakan salah satu bank yang cukup besar diseluruh Indonesia, kami akan memberikan penjelasan dengan contoh cara mentransfer dari ATM BCA (Prima) ke Bank Panin. Berikut langkah-langkahnya. 01). Cari gerai ATM BCA (berlogo BCA / Prima) 02). Masukkan kartu ATM BCA Anda 03). Masukan 6 digit PIN Kartu ATM Anda 04). Pilih Menu PILIHAN LAINNYA 05). Pilih menu TRANSFER 06). Akan muncul beberapa pilihan menu transfer, pilih menu KE REKENING BANK LAIN 07). Masukkan Kode Bank, jika tidak ingat, pilih menu DAFTAR KODE BANK, untuk kode Bank Panin adalah 019, pilih BENAR 08). Masukan nominal uang yang akan ditransfer, pastikan jumlah nominal uang sudah benar. Lalu pilih BENAR 09). Setelah itu masukan nomor rekening bank Panin yang akan dituju 10). Akan muncul konfirmasi info tujuan transfer anda, apakah sudah benar atau belum, jika sudah sesuai pilih BENAR 11). Tunggu proses transfer hingga selesai 12). Akan keluar struk sebagai bukti transfer, ambil dan simpan struk tersebut sebagai bukti yang sah 13). Selesai. Hal ini hampir sama dengan mentransfer ke bank lain seperti BCA (014), Mandiri (008), Danamon (011), Permata (013), BII (016), CIMB Niaga (022), UCBC NISP (028), HSBC (041), DBS (046), Citibank (031), Standard Chartered (050), BRI (002), BNI (009), Bukopin (441), dan bank lainnya dengan catatan anda mengingat Kode Bank yang akan ditransfer. Selain itu mentransfer ke bank lain anda akan dikenakan biaya sebanyak Rp 6.500,-. Itulah sedikit informasi yang dapat disampaikan, semoga bermanfaat bagi Anda semua dan ingat selalu berhati-hati dalam bertransaksi di Gerai ATM terdekat.
Manusia cenderung menyukai hal-hal yang rutin. Rutinitas bisa menjadikan hidup kita nyaman karena semuanya dapat diprediksi, dapat diduga, tidak ada kejutan-kejutan. Rutinitas dan repetisi penting untuk mencapai suatu kualitas yang konsisten. Kita memerlukan rutinitas dalam kehidupan sehari-hari, contohnya rutinitas pelayanan penerbangan dan pelayanan rumah sakit. Bayangkan bila jadwal penerbangan berubah setiap hari atau jam pelayanan rumah sakit tidak rutin. Namun, jangan jadikan kehidupan kita suatu rutinitas. Pada saat Tuhan mengulurkan undangan kepada kita untuk masuk ke hal-hal baru, lepaskanlah hal-hal yang lama dan rangkul yang baru. `Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.` Yesaya 43:18-19. Memang tidak nyaman untuk berubah saat kita sudah terbiasa dengan suatu hal, atau sudah terbiasa melakukan dengan cara tertentu. Tetapi dalam perjalanan menuju kebesaran yang telah Tuhan sediakan, kita mutlak harus berubah. Kenali lima hal yang menghambat perubahan sehingga Anda bisa mengatasinya dan tetap berjalan memasuki destinasi Tuhan bagi Anda. 1. Fear of The Unknown - takut akan hal-hal yang tidak diketahui Perubahan menuntut kita untuk masuk ke tempat-tempat yang baru di mana kita berada di posisi tidak nyaman karena kita tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi. Banyak orang menjadi tidak bergairah ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak mereka pahami atau kuasai. Perubahan menuntut kita untuk masuk ke tempat-tempat yang baru di mana kita berada di posisi tidak nyaman karena kita tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi. Kita dituntut untuk meninggalkan zona kenyamanan kita di mana segala sesuatu dapat diprediksi dan beranjak menuju ke tempat yang lebih dalam di mana kita harus berfungsi dengan cara yang baru. Hal-hal yang tidak kita ketahui bisa membuat kita takut dan ragu untuk melangkah maju. Seorang agen perubahan yang sejati rela masuk ke wilayah baru yang belum pernah terjamah sebelumnya. Tidak ada seorang pembunuh raksasa sebelumnya di Israel. Tetapi Daud tahu bahwa bangsa Israel tidak mungkin tetap tinggal dalam kondisi diintimidasi oleh bangsa Filistin. Daud mengerti bahwa dia harus keluar dari rutinitas sebagai gembala kambing domba. Daud menghadapi raksasa Goliat dan membunuhnya sehingga dalam waktu sekejap dia menjadi pahlawan nasional. Tuhan berkata kepada Abraham untuk meninggalkan negerinya dan keluarganya, yaitu segala sesuatu yang merupakan keamanan dan kenyamanannya selama ini. Abraham patuh. Dengan iman Abraham bergerak maju untuk menerima warisannya sekalipun dia belum mengerti seluruhnya. Lawan dan konfrontasi segala ketidakamanan dan rasa takut dalam hidup Anda. `Jangan biarkan ketakutan menguasai Anda sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.` 2 Timotius 1:7. 2. Fear of Risk Factor - takut terhadap faktor resiko Tidak ada perubahan tanpa resiko. Daud mengambil resiko yang sangat besar ketika dia menghadapi Goliat. Tetapi Daud tidak membiarkan ketakutan menguasainya. Ketika faktor resiko dan peluang kekalahan yang kita hadapi sangat besar, namun akhirnya kita berhasil meraih kemenangan, maka kemenangan itu akan sangat indah dan manis. Semakin besar resiko dan peluang kalah, semakin kita menghargai kemenangan kita. Mereka yang berkemenangan adalah mereka yang berani untuk mengambil resiko. 3. Forces of The Environment - kekuatan tekanan lingkungan sekitar Lingkungan tempat tinggal atau lingkungan di mana kita dibesarkan dengan segala elemen-elemennya dapat menjadi satu kekuatan yang menghambat perubahan terjadi. Anggota keluarga dan sanak saudara Anda dapat menolong Anda maju, tetapi sebaliknya mereka juga dapat menghambat kita. Karena itu Tuhan menyuruh Abraham untuk meninggalkan sanak saudaranya dan rumah bapanya. `Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.` Ibrani 11:15. 4. Instant Success Syndrome - sindroma sukses secara instan Zaman kita hidup saat ini adalah zaman di mana orang menginginkan segala sesuatu serba instan dan cepat. Sebisa mungkin orang menghindari menunggu. Sebaliknya, mereka yang kisahnya tertulis di Alkitab, yang membuat perubahan sejarah suatu kota, bangsa atau negara; mereka harus menunggu lama untuk menerima upah ketaatan mereka, bahkan hasilnya baru terlihat sesudah kematian mereka. Abraham tidak pernah melihat penggenapan janji Tuhan kepadanya. Dia tidak pernah menginjak tanah perjanjian, apalagi mendudukinya. Keturunan Abraham yang kesekian yang kelak mengalami manifestasi janji Allah kepada Abraham. `Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.` Ibrani:11:13 Seperti Abraham, kita harus punya alasan untuk bisa bertekun dan tabah dalam proses perubahan. Alasannya adalah karena kita melihat sesuatu di ujung penantian kita. Visi menghasilkan gairah yang membuat kita mengejar dengan strategi. Oleh karena itu sangat penting memvisualisasi dan menebarkan visi (Habakuk 2:2-3). 5. Unwillingness to Pay The Price - ketidakrelaan membayar harga Tidak ada keberhasilan yang gratis. Hasil perubahan tidak terjadi seketika itu juga pada saat kita melepaskan kenyamanan dan kemudahan kita. Seringkali hasil dari perubahan yang kita lakukan hari ini dituai dan dinikmati oleh anak cucu kita dan generasi berikutnya bahkan oleh generasi yang tidak melihat kita hidup. Saat ini orang Amerika bisa menikmati kehidupan di suatu negeri tanpa diskriminasi warna kulit, tanpa kebencian dan kepahitan. Ini adalah upah dari harga yang dibayar oleh mereka yang memperjuangkan persamaan hak seperti Dr. Martin Luther King. Dia sendiri tidak mengalami apa yang dia impikan. Namun generasi sesudahnya bisa menikmati hasil dari keberanian dan kegigihan Dr. Martin Luther King. Kesimpulannya: tidak ada kebesaran tanpa pengorbanan. Jika Anda sekarang sedang menikmati suatu ukuran kesuksesan, itu karena seseorang telah berjalan di depan Anda dan membuka serta menyiapkan jalan dengan ketekunan dan kegigihan mereka. Jika sekarang Anda sedang membayar harga tetapi belum melihat hasilnya, bersukacitalah. Anda sedang mempersiapkan jalan untuk mereka yang berada di belakang Anda. Sekarang saatnya Anda melangkah keluar dari kotak kenyamanan dan keamanan Anda. Keluar dari kebiasaan dan rutinitas lama. Mungkin jawaban dari dilema di hadapan Anda terletak di dalam kerelaan Anda untuk melakukan sesuatu yang baru secara radikal. Ketika Anda rela melepaskan yang lama, maka Tuhan akan membawa hal-hal baru ke dalam kehidupan Anda. `Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.` Ibrani 12:2
Tak seorang pun suka bila orang membicarakan hal-hal negatif mengenai dirinya. Tapi inilah kenyataan dunia yang kita hadapi. Di manapun kita berada, akan selalu menghadapi kemungkinan-kemungkinan itu. Akan ada orang-orang yang tidak puas dengan kebijakan yang kita buat di kantor. Akan ada teman yang iri dengan keberhasilan kita, lalu mencari-cari keburukan kita di belakang. Mungkin ada anggota keluarga yang selalu mengatakan hal-hal negatif mengenai diri Anda. Setan melontarkan jebakan-jebakannya untuk membidik Anda. Dia mencoba menciptakan situasi kepahitan, emosional, dan membuat Anda melupakan janji-janji Allah. Tak mudah memang. Dalam keadaan seperti itu, kita akan mudah terpancing emosi, bereaksi dan berdosa dengan lidah kita. Bagaimana seharusnya respon kita sebagai anak Allah? Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku. Mazmur 39:1. Daud tahu persis ketika menyanyikan Mazmur ini. Dosa terjadi ketika mulut kita bercabang dua. Maka Daud mengendalikan lidahnya. Ia mengendalikan emosinya ketika berhadapan dengan orang fasik. Orang-orang yang hendak menjatuhkannya. Ayat ini berbicara mengenai integritas. Dalam kehidupan masa kini, mungkin `orang fasik` yang Anda hadapi adalah rival, musuh, atau teman yang diam-diam bergunjing mengenai Anda. Bisa jadi dia adalah atasan Anda yang tidak menyenangkan. Atau mungkin, keluarga Anda yang melontarkan kata-kata negatif, yang tidak mendukung Anda. Mengendalikan lidah seperti yang Daud lakukan, bisa kita praktekkan dalam kehidupan kita hari ini. Kita tidak membicarakan orang di belakang alias bergunjing. Tidak membalas orang-orang yang melemparkan perkataan negatif. Kita tidak bereaksi dengan emosi atas perlakuan yang tidak adil terhadap kita. Bagaimana respon kita? Kita mengendalikan emosi berdasarkan firman. Kita mempraktekkan kasih dengan mendoakan dan memberkati mereka. Kita tidak meladeni emosi kita. Bila kita sungguh-sungguh anak Allah, maka kita tahu, tak mungkin dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Seperti halnya sumber air memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama (Yakobus 3: 9-11). Ketika Anda mempraktekkan ini di rumah dan di lingkungan kerja, Anda menjadi garam dan terang. Teach your tongue to say the right thing.
Siapapun orangtuanya, pasti menginginkan buah hatinya berlaku baik, sopan dan tidak nakal. Karena, sifat-sifat baik itu juga akan membuat sang orangtua menjadi bangga. Sementara jika nakal, orangtuanya pun akan merasa malu. Masih berlakukah statement tersebut?. Fenomena yang sekarang terjadi orang tua justru seolah-olah tidak peduli dengan kenakalan anak mereka. Ketika anak mereka bersikap temper trantum (di rumah ataupun tempat umum) dengan: 1). Menjerit-jerit 2). Berguling-guling di lantai 3). Naik-naik ataupun loncat-loncat di atas kursi atau meja, dsbnya. 4). Menjambak atau memukul teman bermain atau saudara mereka. Semuanya seolah-olah menjadi hal biasa dan normal buat para orang tua. Hal yang paling sering kita lihat, para orang tua hanya: 1). Menegur dengan cara memanggil nama anaknya, dari kejauhan sambil membiarkan anak mereka tetap melakukan hal tersebut. 2). Orang tua menaruh jari telunjuknya di depan mulut mereka, sebagai penanda agar anak mereka diam dan tidak nakal. 3). Memberikan gadget pada anak mereka agar duduk diam. Pada kenyataanya semua itu tidak efektif membuat anak mereka untuk tidak temper trantum kembali. Entah semua itu karena degradasi dari sebuah pola asuh, dikarenakan mereka lebih gemar dengan gadget mereka, atau gemar menonton sinetron, atau sibuk dengan aktivitas mereka, atau malas mendidik anak mereka, atau faktor lain. Namun pada intinya, orang tua tidak boleh menganggap anaknya yang sering melakukan ciri-ciri perilaku di atas sebagai sesuatu yang wajar, dan terus-menerus menolerir tindakan yang merugikan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain di sekitarnya. Lalu apa penyebabnya ? 1. Memenuhi Semua Keinginan Anak Banyak di antara orangtua yang selalu memenuhi permintaan anaknya. Padahal, pola asuh semacam ini bisa berdampak buruk bagi si anak. Sikap orangtua yang selalu memenuhi keinginan anak, misal membelikan mainan yang diminta, malah bisa membentuk anak menjadi manja, bersifat materialistik dan cenderung nakal. Memang, para orangtua sering memanjakan anak dengan alasan daripada anak marah, mengamuk dan jadi monster kecil di rumah, lebih baik dipenuhi saja keinginannya. Padahal, sebaiknya kita bisa memberikan pengertian kepada anak bahwa tidak semua keinginannya bisa dikabulkan. 2. Kurang Menerapkan Disiplin Terapkan disiplin pada anak. Salah menerapkan disiplin kepada anak ternyata bisa menyebabkan anak bersikap manja dan nakal. Banyak dari para orangtua yang tidak tahu cara yang benar untuk mendisiplinkan anak. Misalnya, tidak memiliki aturan yang tegas di rumah sehingga membuat anak bersikap semaunya saja. Nah, mulai sekarang orangtua perlu mengajarkan anak tentang konsekuensi dari setiap perilakunya. Misalnya, jika si anak tidak mau mandi, maka orangtua bisa memberikan pengertian bahwa nanti kulitnya gatal karena tubuhnya kotor. Perlu diingat, saat melatih disiplin pada anak, orangtua wajib bersikap konsisten dan memberi contoh nyata juga pada mereka. Untuk melatih disiplin, orangtua juga bisa menerapkan sistem punish and reward saat anak berperilaku negatif. Misalnya, anak tidak boleh menonton televisi jika belum selesai mengerjakan tugas sekolah. Atau, anak tidak boleh makan coklat kalau dia tidak meletakkan sepatu di rak sepatu. 3. Selalu Siap Membantu Anak Ketika orangtua mendapatkan laporan dari guru di sekolah tentang kenakalan anak, seringkali mereka tidak percaya akan hal tersebut. Banyak dari orangtua bersikap seolah-olah anaknya selalu berperilaku baik dan tak pernah berbuat salah. Bahkan tak jarang, orangtua malah selalu membela anak dan berbuat seolah-olah selalu berada di sampingnya untuk melindungi anak. Sikap terlalu sering membela anak ini akan membuat anak manja, egois dan membentuk perilaku nakal karena selalu merasa dibela oleh orangtuanya. Nah, agar anak bisa bersikap positif dan mau menerima teguran ketika melakukan kesalahan, maka yang harus dilakukan adalah memberi penjelasan bahwa bila anak berbuat salah dan orangtua memarahinya, itu bukan berarti tidak sayang lagi. Tunjukkan kepada anak bahwa tidak selamanya orangtua akan membela anak. Sang anak memang perlu ditegur saat berperilaku negatif di rumah ataupun di sekolah. 4. Bertengkar di Depan Anak Bertengkar dan berselisih paham adalah sebuah pertanda kehidupan di keluarga, dan itu wajar, selama di lakukan tanpa kekerasan, dalam fisik maupun perkataan, dan dalam tata aturan yang benar, serta menghormati suami/istri. Sayangnya, banyak diantara para orangtua yang sering bertengkar di depan anaknya dengan emosional yang tinggi. Sikap ini harus dihindari, karena suara dan teriakan keras dengan saling memaki bisa memberikan dampak buruk bagi anak. Misalnya, anak bisa berperilaku kasar ke teman, nakal dan tidak betah di rumah karena merasa tidak nyaman. 5. Memberikan Contoh Buruk Anak akan meniru segala sesuatu yang dilihat dari orang terdekatnya, yaitu kedua orangtuanya. Jika orang tua memiliki kebiasaan berteriak dan mengeluarkan kata kasar, maka otomatis anak akan meniru. Karena itu, orangtua harus bisa menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya. Tapi jangan khawatir, jika orangtua pernah berperilaku tidak baik, berikan penjelasan kepada anak bahwa apa yang telah dilihat adalah hal yang buruk dan anak tidak boleh meniru. Orangtua juga harus berjanji untuk tidak berperilaku buruk di depan anak, agar anak mengetahui bahwa hal yang buruk tidak boleh ditiru olehnya. Satu lagi mengenai acara televisi, yang saat ini didominasi oleh roh perceraian, roh pertengkaran, roh perselingkuhan, dll yang dipakai si iblis untuk membentuk karakter si penontonnya (baik si orang tua apalagi si anak). Jadi cobalah untuk memfilter apa yang masuk di otak kita dan otak anak-anak kita. Secara tidak langsung acara televisi, merupakan salah satu produk percontohan buat anak, jika tidak difilter oleh orang tua mereka. Saran Buat Orang Tua Buat para orang tua ataupun calon orang tua, anak adalah anugrah Tuhan Yesus yang dititipkan oleh Tuhan untuk kita didik dalam jalur pengenalan yang benar akan Kristus. So, luangkan waktu anda untuk memberikan pola asuh yang benar, bukan asal memiliki anak, tanpa punya waktu memberikan pola asuh yang benar, akhirnya pola asuh diserahkan pada pembantu, baby sitter, ataupun kakek neneknya, karena mereka adalah anak anda bukan anak orang lain `Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.`
FOLLOW OUR INSTAGRAM
ARTIKEL & KESAKSIAN
Jadwal Ibadah Minggu
06 April 2025
Tidak Ada Kegiatan Ibadah
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang