SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Untuk dapat mengenal Yesus lebih dalam, luangkanlah waktu lebih banyak bersama-Nya!
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Apakah Dia Benay?
Apakah Dia Benay?
Senin, 27 November 2017
Apakah Dia Benay?
Yohanes 7:25-36

Suatu pagi di pelabuhan Tanjung Mas yang ramai. Merapatlah sebuah kapal besar dari Timur Tengah. Riuh rendah suara orang bersahut-sahutan dengan berbagai logat dan bahasa. Berbaur dengan lirihan angin sepoi-sepoi dan suara gemericik ombak laut. Tiba-tiba mata Mbah Wanidy, owner dari warung angkringan seberang gereja, tertuju pada sosok pemuda yang baru saja turun dari kapal. Wajah dan perawakan pemuda itu tidak asing baginya. Namun tampak lebih kusut dengan pakaian seadanya. Ya, pagi itu Mbah Wanidy yang ada di Tanjung Mas untuk sebuah keperluan bisnis, melihat sosok seperti Benay. Namun ia masih ragu apakah pemuda yang dilihatnya itu sungguh Benay? Pemuda langganan fanatik warungnya yang tiba-tiba pergi ke Iraq satu tahun yang lalu. Dan setelah itu tidak ada kabar berita lagi tentangnya. Orang-orang sudah menganggap dia wafat sebagai martir kemanusiaan di tanah konflik Timur Tengah. Mbah Wanidy terus memandang pemuda itu dengan pandangan penuh tanya. Kadang ia yakin itu adalah Benay, tapi kadang muncul keraguan juga apakah yang dilihatnya itu sungguh Benay.

Jemaat yang terkasih, sama seperti Mbah Wanidy bertanya-tanya apakah yang dilihatnya itu sungguh Benay? Demikian juga dengan sosok Yesus Kristus. Di masa pelayanannya di tanah Yudea, sudah timbul pergunjingan...selengkapnya »
Perayaan Natal semakin dekat. Persiapan apa saja yang kita lakukan untuk menyambut dan merayakan hari istimewa di akhir tahun ini? Bukan penampilan luar yang Tuhan lihat, melainkan hati. Hati memang tak tampak dari luar, tak tampak oleh mata tapi memberi dampak yang luar biasa. Bagaimana keberadaan hati para gembala saat memperoleh kunjungan seorang malaikat dan saat mendengar berita tentang kelahiran Sang Juruselamat? Pertama, hati yang takut. Ini sesuatu yang wajar dan alami. Ketakutan bisa datang saat ada lawatan mahluk sorgawi. Namun takut itu tidak bertahan lama. Hati para gembala kemudian berubah menjadi sukacita. Kedua, hati yang percaya. Mereka mendengar pesan malaikat tapi mereka tidak mempertanyakannya. Ini menunjukkan percaya yang tulus. Kadangkala kita perlu bersikap kritis tapi dalam konteks yang benar. Firman Tuhan tidak perlu dikritisi karena benar adanya, yang perlu dilakukan adalah mempercayainya. Ketiga, hati yang rindu. Mereka cepat-cepat berangkat ke Betlehem menjumpai bayi Yesus yang terbaring di palungan. Tindakan yang segera ini menunjukkan hati yang memiliki kerinduan untuk melihat dan mengalami penggenapan janji Allah. Keempat, hati yang bersyukur. Saat mereka kembali, mereka memuji dan memuliakan Allah. Sebagai orang-orang yang sederhana, mereka memperoleh anugerah yang luar biasa dari Allah, yaitu menjadi orang-orang pertama yang datang menjumpai bayi Yesus Kristus, Sang Juru Selamat dunia.
Ketika kita menanam pohon buah-buahan, wo......, alangkah senangnya hati kita melihat pohon yang kita tanam berbuah lebat. Bagi seorang petani buah-buahan, hasil buah yang banyak berarti pemasukan yang banyak juga. Untuk memperoleh buah yang banyak kita harus memperhatikan dan merawat kondisi pohon yang ditanam. Dibutuhkan tanah yang baik, air yang cukup, sinar matahari, pupuk, dsb. Tanah, air, udara, sinar matahari, pupuk merupakan penunjang sumber alam yang sangat penting. Itu semua bukan ciptaan manusia tapi ciptaan Sang Pencipta alam yang Mahakuasa. Seperti juga petani buah-buahan yang mengharapkan pohon yang ditanam berbuah banyak, demikian juga Tuhan. Manusia dicipta Tuhan dan ditempatkan di bumi. Tuhan mengharapkan/menghendaki manusia berbuah banyak. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa Bapa kita di sorga dipermuliakan apabila kita berbuah banyak dan kita disebut sebagai murid-murid-Nya. Dua hal utama yang harus kita lakukan sebagai orang Kristen, yaitu memuliakan Tuhan, Bapa kita yang kekal dan menjadi murid-Nya. Kita perlu merenungkan dalam-dalam arti Kristen. Kristen adalah pengikut Kristus, Kristen adalah murid Kristus. Begitu kita menyebut diri kita Kristen tidak cukup hanya rajin kebaktian di gereja, baca Alkitab dan berdoa setiap hari, aktif melayani pekerjaan Tuhan. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, “Apakah hidup kita sudah menghasilkan buah?”; “Apakah hidup kita sudah berbuah banyak untuk memuliakan Tuhan?“ Agar berbuah banyak, hidup ini harus menyatu, tinggal di dalam Tuhan Yesus Kristus. Di luar Dia, hidup kita tidak akan menghasilkan buah. Proses selanjutnya, kita harus selalu siap dibersihkan Tuhan. Pembersihan yang Tuhan lakukan membuat hidup kita berbuah banyak. Selamat berbuah lebat bagi Kristus.
Setelah menyeberangi sungai Yordan, bangsa Israel di bawah pimpinan Yosua menghadapi kota Yerikho dengan tembok keliling kota yang sangat tebal dan kuat. Mereka tidak bisa masuk ke dalam kota karena pintu-pintu tembok kota telah tertutup rapat. Tuhan memberikan kota Yerikho dengan mujizat, mereka mengitari tembok sehari sekali secara senyap selama 6 hari. Pada hari yang ketujuh mereka mengitari 7 kali dan pada akhir perjalanan mereka bersorak sorai, runtuhlah tembok Yerikho. Tembok Yerikho runtuh bukan karena kekuatan dan kehebatan tentara Israel, tetapi karena Tuhan yang menyerahkan kota Yerikho ke tangan bangsa Israel. Mereka percaya kepada perintah Tuhan walaupun sebuah perintah yang aneh hanya berjalan mengitari tembok dan tidak ada sedikitpun perintah untuk berperang atau menyerang. Mereka tidak sekedar percaya tetapi menaati dan melakukan perintah itu dengan segera dan tanpa berbantah-bantah. Dalam melakukan perintah Tuhan, mereka harus menanggung malu, cemooh, hinaan dan ditertawai oleh penduduk Yerikho. Setiap hari selama tujuh hari mereka harus menahan diri untuk tidak membalas setiap ejekan dan mungkin lemparan batu dari atas tembok. Di hari yang ketujuh setelah berkeliling selama 7 kali mereka bersorak-sorai dengan penuh gegap gempita diiringi dengan tiupan sangkakala oleh para imam. Mereka bersukacita memuji dan memuliakan Tuhan, runtuhlah tembok Yerikho. Setiap kita sangat mungkin menghadapi masalah besar seperti tembok-tembok Yerikho yang kuat, kokoh dan seakan tidak bisa ditembus dan diatasi yang sering membuat kita takut serta cemas. Mari kita belajar dari pengalaman bangsa Israel, percaya dan yakin bahwa janji Tuhan pasti digenapi, Dia yang memberi jalan keluar atas masalah. Lakukan bagian kita, taati dan lakukan setiap Firman Tuhan walaupun sulit dan dicemooh atau ditertawakan. Bersukacitalah senantiasa dan pujian kepada Tuhan mewarnai hari-hari kita walaupun masalah kita belum terselesaikan. Sekuat apapun tembok Yerikho yang kita hadapi pasti runtuh oleh karya Tuhan.
Seorang ibu dengan tubuh lemah terbaring di atas tempat tidur. Ia sudah seminggu lebih menjalani rawat inap di sebuah rumah sakit. Kondisi sakitnya bisa dibilang lumayan parah. Bahkan karena sulit bernafas, maka dokter harus memasang alat dengan membuat lubang di pangkal lehernya. Tetapi kesan sedih tidak terpancar dari wajahnya. Setiap kali sahabat, kerabat, dan kenalan datang menjenguknya, senyuman selalu terlihat mengembang di bibirnya. Ketika mengalami kesulitan berbicara, ia selalu mengangkat dan menggerakkan kedua jari telunjuknya ke atas dan kemudian mengacungkan kedua jempol tangannya seolah-olah ingin berkata, “Tuhan selalu baik.” Ia begitu tabah hati menghadapi sakitnya. Untuk tabah bukanlah perkara yang mudah. Tabah bukan sekedar sabar, tetapi jauh lebih dari itu. Ada sisi panjang sabar di dalamnya. Karena ketabahan berarti ketahanan [daya tahan] untuk bersabar dalam menghadapi penderitaan, kesukaran, pergumulan, dsb. Bisa dibilang ketabahan adalah ketekunan untuk terus menerus bersabar. Sikap itulah yang dinasihatkan oleh Paulus kepada para penumpang dan crew kapal yang ditumpanginya menuju Roma ketika mereka diombang-ambingkan oleh angin badai yang besar di tengah lautan. Berhari-hari mereka harus berjuang dan bertahan hidup mengatasi ganasnya gelombang. Tidak bisa tidur dengan nyenyak, tidak bisa makan dengan enak. Selalu kuatir karena nyawa yang terancam. Putus asa karena berbagai cara diusahakan untuk menyelamatkan diri tetapi tidak membawa hasil. Cukup berat situasi yang harus mereka hadapi. Fisik mereka capek, energi mereka terkuras, mental mereka kelelahan dan semakin lemah. Tentu dibutuhkan ketabahan hati untuk tetap bertahan. Ketika semua orang mengalami keputusasaan dan kehilangan harap, Paulus tetap tabah hati. Apa yang membuatkan tetap tabah? Ia tetap tabah karena percaya kepada Allah yang sanggup memelihara dan menyelamatkan dari situasi sulit yang sedang dihadapinya. Percaya kepada penyertaan dan pemeliharaan Allah-lah yang membuatnya tetap tabah; tetap bertahan dan kuat menghadapi kesukaran; tetap bertekun dalam kesabaran menanti pertolongan Tuhan. Sehingga dalam situasi sesulit dan seberat apapun, ia tetap optimis, tetap semangat, dan selalu menghadapi semuanya dengan senyuman sukacita. Pengharapannya tidak pernah pupus. Jemaat Tuhan yang terkasih, kita bisa berespon seperti ibu yang sedang menjalani perawatan dan juga seperti rasul Paulus saat menghadapi penderitaan, kesakitan, musibah, kerugian ataupun pergumulan-pergumulan berat lainnya. Dengan tetap tabah hati, maka hidup kita akan lebih terasa ringan dan lebih mudah. Oleh sebab itu Pandanglah saja kepada Yesus yang penuh cinta dan kasih setia.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berbuah Lebat
25 November '17
Ketika Ketidakadilan Melukai
06 Desember '17
Memang Lidah Tak Bertulang
04 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang