SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Karya Penebusan Salib Kristus sudah selesai, yang belum selesai adalah perubahan karakter kita untuk menjadi serupa dengan karakter Tuhan Yesus. Untuk itu harus terus berjuang serius menggenapi rencana Bapa dalam hidup kita.
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menghargai Pengorbanan Yesus
Menghargai Pengorbanan Yesus
Kamis, 22 Maret 2018
Menghargai Pengorbanan Yesus
Ibrani 5:7-9

Kita ditebus dari cara hidup yang sia-sia dengan harga yang sangat mahal [I Petrus 1:18-19]. Karya Keselamatan yang dilaksanakan oleh Yesus adalah rancangan agung Bapa begitu manusia jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Penebusan salib ini menggenapi kasih dan rasa keadilan Bapa. Pengorbanan yang dipikul oleh Yesus bukan suatu sandiwara, tapi suatu hal yang sangat serius, melibatkan pertaruhan sangat dahsyat bagi Bapa maupun Yesus sebagai pelaksananya. Untuk melaksanakan misi Bapa-Nya, Yesus [sebagai manusia] telah sungguh-sungguh berjuang untuk taat mutlak kepada Bapa. Situasi di taman Getsemani menjelang Yesus ditangkap menggambarkan perjuangan tersebut [Matius 26 : 37 - 38]. Puncak perjuangannya bisa disaksikan pada saat Dia berseru: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku” dan “Yesus berseru dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya [Matius 27:46 dan 50].

Acara peringatan Paskah dengan berbagai drama, pemutaran “The Passion of Christ”, memang bisa menimbulkan rasa iba, simpati dan empati, emosi kesedihan muncul sampai mengeluarkan air mata. Tentunya tidak salah berempati terhadap Yesus. Namun menyambut Paskah tidak cukup hanya dengan simpati dan empati. Yesus sendiri mengatakan “ …, janganlah kamu menangisi Aku, mela...selengkapnya »
Kesatuan mendatangkan berkat Mazmur 133:1-3 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. Kita tahu bahwa kesatuan itu baik, indah, dan menyenangkan. Siapapun pasti menyukai yang baik, indah dan menyenangkan. Tapi mengapa sulit sekali untuk mwujudkan dan memelihara kesatuan? Kesatuan seringkali hanya sebatas wacana saja, tidak terwujud dalam tindakan nyata. Padahal Firman Tuhan berkata bahwa dimana ada kesatuan ke sana Tuhan memerintahkan berkat-berkat-Nya. Jika tidak ada kesatuan Tuhan tidak akan mendatangkan berkat-Nya. Apakah kita tidak suka diberkati Tuhan? Kita sering berpikir bahwa berkat Tuhan itu bersifat individual. ’Berkat untuk saya tidak ada hubungannya dengan berkat untuk orang lain.’ Padahal menurut Firman-Nya, berkat Tuhan itu tidak untuk seseorang saja, tapi untuk sekelompok orang, diberikan bersama-sama, atau dengan kata lain bersifat kolektif. Tuhan memberkati sebuah keluarga maupun gereja secara bersama-sama. Di Alkitab, janji berkat Tuhan itu bersifat kolektif. Sebagai contoh Kisah Para Rasul 2:39 mengatakan: ’Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.’ Jika Tuhan memberkati sebuah keluarga, maka semua yang ada di keluarga itu ikut merasakan berkat Tuhan. Bahkan berkat Tuhan bisa berlaku untuk sebuah kota. Firman Tuhan berkata: ’Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.’ [Yeremia 29:7]. Jadi kita tidak boleh memikirkan kesejahteraan diri kita saja. Kalau kota kita mengalami kesulitan, kita yang tinggal di dalamnya juga akan mengalami kesulitan. Kalau kota kita sejahtera dan diberkati Tuhan, maka kita pun akan ikut merasakan kesejahteraannya. Marilah mulai sekarang kita berdoa dan mengerjakan segala sesuatu bukan untuk kepentingan diri kita masing-masing. Berdoalah dan usahakanlah kesejahteraan untuk keluarga, gereja dan kota kita. Peliharalah kesatuan, agar berkat Tuhan senantiasa mengalir bagi kita bersama. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Sam Foss adalah seorang musafir. Suatu ketika di dalam perjalanannya ia merasa lelah dan haus yang sangat. Ia datang mendekati sebuah rumah kecil tidak bercat yang berdiri di atas sebuah bukit. Dekat sisi jalan yang menuju rumah itu, ia melihat tanda dengan tulisan, ’masuklah, dan dapatkan minuman yang dingin.’ Tidak berapa jauh dari tulisan itu Foss menemukan sebuah mata air yang dingin dan sejuk. Di atas mata air itu tersedia gayung tua untuk menciduk air dan di bangku dekat mata air tersebut ada keranjang berisi buah apel yang segar segar dengan tulisan, ’layanilah diri anda sendiri’. Penuh rasa ingin tahu, Foss bergegas menemui pasangan suami istri yang tinggal di rumah kecil itu dan ia pun bertanya tentang tulisan dekat mata air dan keranjang apel yang dilihatnya’. Pasangan suami yang sudah tua itu ternyata tidak mempunyai anak dan mereka hidup dari hasil kebun apel mereka yang tidak seberapa. Mereka bisa digolongkan sangat miskin tetapi dalam hal mata air dan apel, mereka merasa kaya dan berkelimpahan sehingga mereka ingin sekali membagikan kelimpahan tersebut kepada orang-orang yang kebetulan lewat di situ. ’Dalam hal uang kami terlalu miskin untuk menolong orang lain.’ kata pemilik rumah kecil itu, ’tetapi kami berpikir dengan cara ini kami dapat menambahkan serta menutupi apa yang kurang pada kami sehingga kami tetap dapat melakukan sesuatu untuk orang lain.’ Setiap orang dapat melakukan sesuatu untuk menolong sesamanya. Kita tidak harus menunggu sampai kita cukup mampu dan cukup berada barulah memikirkan kepentingan sesama. Mungkin kita semiskin pasangan suami isteri diatas, kita masih memiliki lebih banyak dari apa yang mereka miliki. Tetapi sekalipun kita memiliki banyak hal, kita tetaplah orang-orang ’miskin’ sebab tidak pernah berpikir untuk menolong orang lain. ’Kekayaan seseorang tidak dapat dinilai dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang ia berikan kepada sesama,’ demikian kata para bijak. Adakah kita memiliki kerinduan untuk berbuat kebaikan bagi sesama? Begitu banyak orang yang kecewa karena tidak menemukan apa yang mereka harapkan dari orang percaya. Tuhan tidak akan menanyakan berapa banyak perusahaan kita, berapa banyak harta yang kita miliki dan berapa banyak tabungan kita, tetapi yang akan Tuhan tanyakan adalah apa yang sudah kita lakukan dengan semua yang sudah Tuhan percayakan kepada kita.
Benay dan Rabenay berdiri berdampingan bagai pinang dibelah dua. Dua bersaudara nan bersahaja itu sangat mirip, hanya terpaan usia sajalah yang membedakan wajah mereka. Malam hari itu mereka hadir dalam keramaian sebuah acara yang diadakan untuk menyambut kedatangan Benay dari Iraq. Acara ini digagas oleh anggota persekutuan wanita gereja yang berkolaborasi dengan pemuda-pemudi gereja. Benay tampak sibuk meladeni ucapan selamat dari jemaat yang hadir. Meski tampak lelah namun sukacita bersinar di wajahnya yang terus tersenyum dan sekali-kali tertawa bahagia. Tiba saatnya bagi Benay untuk memberikan kesaksiannya. Pdt. Itong yang didapuk sebagai pembawa acara dengan penuh semangat memanggil Benay. Benay pun bersaksi, “Bapak, Ibu dan Saudaraku sekalian tentu tahu bahwa saya dan Mas Rabenay ini yatim-piatu. Orangtua kami sudah lama meninggal dunia. Dan selama ini saya diasuh oleh paman saya di kota ini. Sedangkan Mas Rabenay hidup mandiri dengan bekerja di pelabuhan. Namun syukur, malam ini Tuhan menyatakan kepada kami bahwa kami tidak pernah kehilangan orangtua. Bapak dan Ibu sekalian adalah orangtua bagi kami. Dan kawan-kawan pemuda-pemudi adalah saudara-saudara kami. Kamimasih dan akan selalu mempunyai keluarga di dalam Tuhan!” Sontak seluruh jemaat yang hadir bertepuk tangan riuh. Beberapa orang tampak meneteskan air mata haru. Termasuk Mbah Wanidy yang malah menangis sesenggukan. Jemaat yang terkasih. Sama seperti yang tampak dari kisah di atas dan yang disaksikan Benay. Sesungguhnya kita pun adalah keluarga di dalam Tuhan. Sebagaimana disampaikan oleh Tuhan ketika seseorang berkata kepada-Nya bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya ada di luar dan berusaha menemui-Nya. Rupanya, ibu dan saudara-saudara Yesus kesulitan menerobos kerumunan orang dalam jumlah besar yang sedang mendengarkan sabda-Nya. Ketika itu Tuhan menjawab sambil menunjuk kepada murid-murid-Nya, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!” Bukanlah maksud Tuhan untuk tidak menghormati Maria sebagai ibu-Nya dan mengasihi saudara-saudara kandung-Nya. Namun Tuhan memperluas cakupan keluarga-Nya. Keluarga-Nya tidak hanya dibatasi oleh faktor garis darah [keturunan], tetapi ditentukan oleh faktor sikap hidup. Setiap orang yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-saudara Tuhan dan ibu-Nya juga. Dengan demikian, kita yang mau hidup sesuai dengan kehendak Allah, kita adalah keluarganya Tuhan. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Marilah kita bersukacita dalam ucapan syukur! Sebab Tuhan berkenan menjadikan kita bagian dari keluarga-Nya. Marilah kita terus mengarahkan padangan kita pada kehendak-Nya dengan tekun membaca dan mendengarkan sabda-Nya setiap hari. Dan berusahalah untuk menjalin hubungan yang penuh kasih dan saling memperhatikan antar saudara-saudara kita di dalam keluarga besar Tuhan ini. Selamat menjadi keluarga Tuhan. Terpujilah Tuhan!
Pernahkah kita memperhatikan bahwa di hampir semua mall yang ada di seluruh Indonesia ?. Saat masuk ke konter sepatu dan sandal, hampir bisa dipastikan ada merek Yongki Komaladi di sana. Bahkan, tak jarang merek asli Indonesia ini berdampingan dengan merek-merek luar yang sudah tak asing lagi. Namun, merek ini tetap mampu “percaya diri”. Dan hasilnya, memang bukan sekadar “mejeng” di toko. Produknya laris manis. Padahal, bisa dikatakan, sang pemilik usaha yang memiliki nama sama dengan mereknya Yongki Komaladi ini, memulai semua dari nol, sekitar dua dekade lalu.Ia mengawali berbisnis sepatu nyaris tanpa rencana. Kala itu, ia bekerja di sebuah Departement Store. Atasannya mengeluhkan kurangnya stok sepatu dan ia “ditantang” untuk memenuhi. “Mengetahui latar belakang Ia yang 10 tahun jadi peragawan, Ia ditawari mendesain sepatu dan sekaligus membuatnya. Dia pikir, kenapa tidak dicoba? Toh, Ia juga senang menggambar dan mengikuti tren mode. Karena membutuhkan merek, atasannya minta agar memakai nama Yongki Komaladi saja.“Awalnya Ia tidak percaya diri, rasanya agak aneh. Nama Yongki mungkin saja masih oke. Tapi, tambah “Komaladi” Panjang sekali. Tapi ada teman yang mengatakan, kenapa tidak dicoba. Lantas, Ia kerjakan sungguh-sungguh, sembari berpromosi bahwa inilah produk Indonesia. Ia juga kerja sama dengan banyak rekannya yang orang-orang fashion,” ujarnya berkisah. Ia berhasil mendobrak dominasi produk asing karena selalu menjaga kualitas dan berani tampil beda. Dan, ada satu hal lagi yang barangkali tidak banyak orang tahu. Yakni, ia dan semua pekerjanya, saat mengerjakan sepatu dan sandal, selalu “diwajibkan” untuk mengawali dengan doa. Doa yang dipanjatkan pun tak main-main. Setiap orang yang membeli produknya, selalu didoakan agar selalu penuh berkah, dimudahkan jalannya, banyak rezeki, sehat, dan bahagia. “Doa itu, orang nggak perlu tahu, tapi biasanya kalau orang pakai itu pasti nyaman,” sebut pria yang selalu bersemangat saat menceritakan kisah hidupnya ini. “Dan, Ia memang selalu menekankan, kalau tujuan kita baik, pasti Tuhan tidak akan menutup mata.”Mungkin sedikit di luar kelaziman.Tapi, itulah sosok Yongki yang memang berani tampil beda. Dan, barangkali, itu jugalah yang menjadikan ia mampu mendobrak pasar. Ia menyebutkan: “Dengan desain yang dianggap ‘aneh’, beberapa kali UKM yang Ia ajak kerja sama malah complain. Kata mereka, karena nggak lazim, pasti nggak laku. Tapi Ia lihat, model-model yang seperti itu di Eropa banyak yang pakai. Jadi saya tetap coba aplikasikan,” Dengan dilandasi oleh doa, ia yakin produknya bisa diterima pasar. Kisah Inspiratif Yongki Komaladi] Setiap orang punya kesempatan untuk berdoa. Namun terkadang jarang meluangkan waktu untuk berdoa sebab kita menganggap kita mampu. Namun orang yang menyadari akan ketidak mampuan mereka akan berdoa dan mendoakan apa yang menjadi tujuannya hingga tercapai. Oleh karenanya jangan berhenti berharap dan berdoa meskipun kita sudah punya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Apa Yang Kupunyai, Kuberikan Padamu
26 Mei '18
Kesatuan Mendatangkan Berkat
17 Juni '18
Pola Pikir Yang Benar Seorang Anak Tuhan
22 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang