SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Meskipun dunia menganggap hidup kita tidak wajar, namun manusia lama kita harus segera dimatikan, agar tidak menjadi raksasa yang tidak bisa ditumpas lagi.
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Penyangkalan Diri
Penyangkalan Diri
Rabu, 29 November 2017
Penyangkalan Diri
Lukas 9:23; Kolose 3:9

Target orang percaya adalah menjadi murid sejati yang rela dididik oleh Tuhan dalam sekolah kehidupan selama hidup di bumi ini [Titus 2:11]. Harus dipahami bahwa agenda Bapa dengan Anugerah Keselamatan melalui penebusan salib yang sangat mahal harganya adalah mengembalikan manusia kepada rancangan semula pada waktu Tuhan menciptakannya, yaitu sempurna seperti Bapa, kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya. Tuhan Yesus memberikan syarat untuk bisa menjadi murid/pengikut-Nya, yaitu menyangkal diri dan memikul salib setiap hari [Lukas 9:23]. Rasul Paulus menggambarkannya dengan ungkapan “meninggalkan manusia lama” [Efesus 4:22; Kolose 3:9]

Menyangkal diri pada hakikatnya adalah melepaskan kesenangan sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dari hal-hal sederhana sampai pada kesenangan yang sudah menyatu dengan dirinya, bahkan menjadi senilai dengan nyawa atau hidupnya, yang tentunya sangat sulit dilepaskan. Kesenangan yang harus dilepaskan adalah seseorang atau sesuatu: kekayaan, kehormatan manusia, kedudukan, kenikmatan daging, hobi, perhiasan, dsb. Kesenangan tersebut sering dianggap tidak melanggar kehenda...selengkapnya »
“Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak” [Yohanes 21:11]. Apa maksud penyebutan angka ini? Jika maksudnya hanya sekedar memberi informasi, alangkah lebih sederhananya disebut “sangat banyak” atau “jala itu penuh”. Atau jika ingin menunjuk pada jumlah ikan yang didapat, lebih lazim disebut dengan satuan berat, seperti kilogram, gram, dsb. Lalu apa maksud dari penyebutan angka 153? Kalau dalam sebuah cerita dicantumkan suatu angka, maka angka itu biasanya ada fungsinya. Demikian juga halnya dengan angka 153 yang ditulis dalam kisah ini. Pada jaman itu, menurut Ilmu pengetahuan Yunani, jumlah jenis ikan yang diketahui berjumlah 153 macam. Karena itu para murid mengasosiasikan angka 153 ini dengan angka jumlah jenis ikan tersebut. Itulah jumlah jenis ikan yang mereka ketahui. Angka itu bagi mereka berarti: semua jenis ikan di dunia ini. Ketika dulu Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia berkata, ’Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’ [Markus 1:17]. Dalam kisah ini, Yesus kembali menegaskan dan mengingatkan murid untuk tetap “menebarkan jala” dan “menjaring jiwa”. Pertemuan awal Yesus dengan para murid terjadi pada peristiwa “menjaring ikan”. Kini pun sesudah peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, dengan peristiwa serupa yang mirip [lihat kejadian dan tempat dalam Yohanes 21:1-14] ingatan murid-murid kembali dibawa untuk mengigat kembali peristiwa tersebut sekaligus mempertegas dan memperjelas panggilan mereka untuk menjadi saksi bagi semua bangsa. Murid-murid menjaring 153 ikan, memiliki makna khusus yaitu perihal tugas bersaksi dan menjangkau jiwa bagi semua bangsa. Ajakan ini bukan terbatas bagi murid-murid yang hidup pada saat itu saja. Melainkan juga panggilan dan tugas kita sebagai murid Yesus di masa kini. Peristiwa pentakosta adalah peristiwa turunnya Roh Kudus bagi setiap orang percaya. Roh yang memberi kita rasa aman, keberanian dan kedamaian untuk kita terus bersaksi mewartakan berita tentag Kabar Sukacita di dalam Yesus Kristus.
Di dalam sebuah pengadilan, peran seorang saksi sangat penting. Saksi bukan hanya sekedar pelengkap dan pemanis di dalam sebuah pengadilan. Saksi adalah tokoh penting yang sangat berpengaruh pada putusan akhir yang diberikan hakim kepada si terdakwa. Tugas seorang saksi terlihat sepele, namun berdampak luar biasa. Saksi akan menceritakan kepada “yang lainnya”, perihal apa yang dilihat, didengar, dialami dan dirasakan dengan benar dan jujur. Seorang saksi yang baik, tidak akan menambah ataupun mengurangi kesaksian yang disampaikannya. Kesaksian yang disampaikan seorang saksi akan mengubah segalanya. Sesuatu yang salah akan diluruskan ooleh sebuah kesaksian. Sesuatu yang benar akan dikuatkan kebenarannya, juga oleh kesaksian tersebut. Tuhan Yesus sebelum terangkat ke sorga, juga meminta umat-Nya untuk menjadi saksi. Bersaksi tentang apa? Injil Lukas 24:45-49 menjelaskan bahwa umat Tuhan harus menyaksikan tentang Yesus yang adalah Sang Mesias, yang akan memberikan pengampunan dosa bagi manusia. Kita yang adalah umat-Nya harus menjadi saksi tentang kebenaran ini. Kebenaran yang kita sampaikan akan membawa dampak bagi pendengarnya. Jika salah memberi kesaksian, maka hidup sang pendengar kesaksian itu pun akan berakhir salah juga. Sebagian orang tidak tahu bagaimana cara menjadi saksi. Oleh karena ketidaktahuan ini, banyak orang enggan menjadi saksi. Dan bahkan takut untuk menjadi saksi. Menjadi saksi bukan hal yang sulit. Langkah awal untuk menjadi saksi tidak perlu repot dengan belajar ini dan itu. Langkah awal menjadi saksi, cukup dengan tulus dan kesungguhan menceritakan dan menunjukkan kepada orang lain tentang bagaimana kebaikan yang Yesus telah berikan bagi kita. Ceritakan akan karyaNya dalam diri kita. Ceritakan apa yang telah kita dapat dan alami saat percaya kepada Yesus pada orang-orang yang belum percaya Yesus. Itulah langkah awal untuk bersaksi. Jangan takut untuk menjadi saksi. Sebab Yesus telah berjanji untuk memberikan Roh Kudus sebagi penolong bagi kita menjadi saksi. Jangan takut… Jadilah saksi-Nya sampai selama-lamanya.
Seseorang yang mengalami peristiwa menyenangkan maupun menyedihkan dalam hidupnya dan sangat berkesan pasti tidak akan terlupakan seumur hidup. Dalam situasi apapun pada setiap kesempatan pasti dia akan menceriterakan peristiwa tersebut kepada orang lain dengan antusias. Seorang ibu yang sedang dirawat di rumah sakit bisa bercerita tentang peristiwa di masa lalunya kepada setiap orang yang menengoknya. Ada juga seorang bapak yang lumpuh karena stroke dan duduk di kursi roda bisa bercerita dengan semangat tentang masa lalunya walaupun dengan artikulasi yang tidak jelas. Pada hakekatnya setiap orang akan menceriterakan peristiwa yang pernah dialaminya seumur hidup dalam situasi apapun. Ketika Yesus melintasi kota Sikhar di Samaria dan sedang istirahat di tepi sumur Yakub datanglah seorang wanita yang akan mengambil air di situ. Dalam perbincangan wanita itu dengan Yesus, dia merasa kagum karena Yesus tahu akan kehidupannya tanpa dia bercerita. Dia merasakan sesuatu yang beda dan dia menyakini Yesus lawan bicaranya adalah Mesias. Ditinggalkan tempayannya dan dia berlari kembali ke dalam kota bercerita mengenai peristiwa yang dialaminya. Dampak dari ceritanya banyak orang Samaria berbondong-bondong pergi menemui Yesus di sumur itu. Setelah berjumpa dan berbincang dengan Yesus maka orang banyak itu percaya kepada-Nya. Wanita Samaria itu bersaksi kepada banyak orang dan menyelamatkan mereka. Pastilah seumur hidup dia bersaksi tentang peristiwa pertemuannya dengan Yesus. Kita mengenal dan menerima Yesus melalui peristiwa perjumpaan dengan Dia. Setiap orang mempunyai pengalaman dengan Yesus yang berbeda. Apakah setiap pengalaman dengan Yesus dalam hidup kita merupakan sebuah peristiwa yang sangat berkesan ? Pasti kita akan sangat antusias bercerita kepada banyak orang tentang karya-Nya seperti ketika menceritakan keberhasilan anak kita. Roh Kudus yang memenuhi hidup kita akan senantiasa mengingatkan kita untuk bersaksi dalam keadaan apapun dan seumur hidup. Melalui kesaksian kita akan membawa orang yang mendengarnya mengalami proses pertobatan.
Hari yang telah lama dinantikan, akhirnya tiba juga. Pada siang, tanggal 1 Mei 2018, Benay menapakkan kakinya di Bandara Ahmad Yani. Tidak ada kerabat yang menjemputnya. Sambey sahabatnya pun tidak. Maklum, Benay memang tidak ingin kedatangannya diketahui oleh mereka. Dengan taxi bandara ia pun meluncur menuju rumah paman yang sudah sangat dirindukannya. Namun malang tak bisa ditolak. Benay terjebak macet. Ia lupa jika hari itu adalah Mayday, peringatan hari buruh sedunia. Iring-iringan demonstrasi buruh menyemarakkan kota Semarang. Hati Benay kesal sekali dibuatnya. Dari spion tengah, sopir taxi melihat gelagat kekesalan Benay. “Mas, sabar ya? Ini hari mereka.” “Tahukah Mas, latarbelakang peringatan Mayday ini?” tanya pak sopir. Benay mengangguk pelan. “Peristiwanya terjadi pada tanggal 1 Mei 1886. Sebanyak 80.000-an buruh di Amerika Serikat mengadakan demontrasi menuntut pengurangan jam kerja. Saat itu jam kerja buruh sangat tidak manusiawi. Buruh harus bekerja 18 – 20 jam/hari dan tidak ada yang mempedulikan nasib buruk mereka. Demonstrasi itu ditanggapi dengan tembakan senapan yang menewaskan ratusan buruh”, kata Benay. “Baguslah kalau Mas tahu sejarahnya. Kelak jika Mas jadi boss dan mempunyai bawahan, berusahalah untuk berlaku adil dan jujur kepada mereka.” Jemaat yang terkasih. Mayoritas jemaat Kristen mula-mula terdiri dari para budak dan hamba sahaya. Hanya sedikit orang berpendidikan dan orang kaya. Kala itu orang-orang kecil sangat tertarik dengan kekristenan yang mengajarkan bahwa di hadapan Allah semua orang sama. Allah tidak memandang suku-bangsa, status sosial dan jenis kelamin. Dan dengan demikian setiap orang berhak menerima janji Allah [Galatia 3:26-29]. Di sisi lain, bagi orang-orang berstatus sosial tinggi yang tidak ingin kehilangan prestise, menjadi Kristen adalah pergumulan berat. Namun oleh anugerah Allah, ada juga orang-orang terpandang yang dengan sukacita beriman pada Yesus Kristus.Kepada orang-orang kaya dan berpangkat inilah Allah memberikan perintah agar mereka berlaku adil dan jujur kepada para hambanya. Sebab dengan berlaku demikian itu mereka mewujud-nyatakan sifat Allah yang adil dan jujur pada setiap orang. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Kita jarang sekali turut mengucapkan selamat hari buruh. Padahal diantara jemaat tentu ada yang bekerja sebagai buruh. Mungkin di benak kita peringatan ini tidaklah penting atau malah mengganggu saja.Namun setidaknya peringatan hari buruh dapat mengingatkan kita akan martabat setiap orang di hadapan Tuhan adalah sama.Dan dengan demikian jika kebetulan kita berstatus sebagai buruh, janganlah berkecil hati. Teruslah berjuang. Bekerjalah dengan tekun dan ulet. Atau kebetulan kita mempekerjakan pembantu rumah tangga atau karyawan di toko atau di perusahaan yang kita kelola, berlakulah adil dan jujur kepada mereka. Perlakukanlah mereka sebagai rekan kerja. Berkatilah dengan memberi upah yang layak untuk mereka terima.Selamat Hari Buruh. Terpujilah Tuhan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tak Tergoncang Oleh Badai
07 Mei '18
Hasil Akhir Yang Mencederai Hati
30 April '18
Jangan Salah Menilai
15 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang