SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Kita harus menebus waktu yang telah tersia-sia, sehingga tidak ada sepotong waktu yang digunakan untuk hal-hal yang akan mengganggu dan menghambat kita mencari perkara yang di atas.
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Selamatkanlah Waktumu
Selamatkanlah Waktumu
Selasa, 20 Februari 2018
Selamatkanlah Waktumu
Efesus 5:15-21

Akhir-akhir ini muncul lagu pujian yang berjudul: HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN. Lagu ini sering dinyanyikan oleh orang kristen dari berbagai gereja. Inti lagunya adalah bahwa hidup ini adalah kesempatan [satu-satunya] untuk melayani Tuhan dan hidup menjadi berkat. Memang lagu dan syairnya indah dan menginspirasi. Bahkan banyak dinyanyikan dengan muatan emosi yang kuat dan tidak jarang disertai keluarnya air mata. Yang perlu diwaspadai adalah pikiran bahwa dengan telah menyanyikannya, seakan-akan sudah memperagakan dan mengenakan apa yang tertulis. Padahal tidak jarang setelah keluar dari suasana pujian yang disertai muatan emosi sesaat, tidak diikuti oleh gaya hidup yang berubah. Sikap hati, pola pikir dan perbuatan masih jauh dari yang dimaksudkan oleh isi lagunya. Akibatnya tidak terjadi perubahan bermakna menuju kedewasaan rohani. Hal ini berarti hidup dalam fantasi.

Untuk itu kita perlu belajar kebenaran yang tersirat di dalamnya. Waktu hidup di bumi yang singkat ini harus dipakai dengan sungguh-sungguh untuk merespon dengan benar Anugerah Keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Karena waktu yang masih ada begitu singkat bila dibandingkan dengan kekekalan yang tidak terbatas. Dan karena itu waktu yang ada menjadi sangat berharga. Rasul Paulus menasihatkan supaya kita ...selengkapnya »
Istilah “lumpuh” berkonotasi sangat negative yaitu tidak berdaya atau tidak ada kegiatan apapun. Suatu misal ada ungkapan “karena banjir yang tidak kunjung surut maka Jakarta lumpuh total”, kata “lumpuh” mengartikan bahwa Jakarta hampir pasti tidak ada kegiatan berarti. Demikian juga dengan keadaan Si lumpuh yang diceritakan dalam Injil Lukas 5:17-26. Dalam perikop tersebut tidak menyebut nama orang yang lumpuh, orang tersebut memang benar terlihat pasif dalam cerita itu. Yang terlihat aktif adalah teman-teman yang mengusung Si lumpuh itu [5:18-20]. Mungkin saja Si lumpuh itu sebelumnya memang seorang yang telah mengalami hopeless, putus harapan, apatis masa bodoh. Kelumpuhan telah membuat semua menjadi sirna, tidak ada lagi semangat hidup. Jangan-jangan Si lumpuh itu pun tidak bersedia ketemu Yesus hanya karena bujuk rayu atau sedikit dipaksa oleh teman-temannya maka dia “ngikut sajalah, terserahlah…”.Akhirnya teman-temannyalah yang membawa kepada Yesus [ay.18]. Teman-temannya memang sangat aktif misalnya bersedia membawa Si lumpuh kepada Yesus kemudian ketika sampai kepada Yesus ternyata terhalang oleh orang banyak, teman-temanya yang mengusungnya tidak putus asa, berusaha keras bagaimana caranya supaya bisa menemui berhadapan muka dengan Yesus. Mereka memutar otak, bekerja sama, dan menemukan ide yaitu dengan membongkar atap tepat di atas posisi di mana Yesus berada dan menurunkan Si lumpuh tepat di depan Yesus. Dan “ketika Yesus melihat iman mereka” [ay.20], Yesus tidak mengatakan iman Si lumpuh, maka terjadilah mujizat kesembuhan, si lumpuh itu berdiri dan mengangkat tilamnya kemudian memuliakan Allah dan pulang [ay.24-25]. Dari kisah dalam Injil di atas, dapat di ambil pelajaran menarik bagi kita semua bahwa dua atau tiga orang [teman/sahabat] yang berkumpul sepakat bersam-sama dalam doa maka Tuhan menjawabnya. Teman atau sahabat yang punya iman mampu menolong rekannya yang sedang mengalami persoalan. Betapa pentingnya peran teman atau sahabat yang beriman bagi rekannya. Saudara sudahkah kita selalu menjadi teman/sahabat yang baik, yang menjadi berkat, dan marilah kita senantiasa bersedia menjadi teman kepada siapa pun supaya dalam pertemanan itu kita bisa memberi pelayanan yang terbaik bagi banyak orang, dan nama Tuhan dipermuliakan. Amin.
“ Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” Seandainya Tuhan menyampaikan kalimat itu kepada kita, kira-kira apa yang akan kita minta ya.? Tentu kita akan minta kesehatan dan umur panjang, atau berkat yang melimpah, keluarga yang diberkati dan rukun, suami/istri dan anak-anak yang cinta Tuhan, financial yang cukup, hutang-hutang lunas semua, bisnis yang lancar jaya dan masih banyak lagi daftar yang akan kita sodorkan. Itu logis dan manusiawi, karena kita memang memerlukan semua itu dalam kehidupan kita. Tapi coba kita lihat apa jawab Salomo, ketika kalimat itu disampaikan Tuhan kepadanya dalam kitab 1 Raja 3:5. “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara….” [1 Raja 3:9]. Ternyata bukan umur panjang dan kekayaan yang diminta oleh Salomo, tetapi hikmat dalam menimbang perkara. Salomo tidak meminta sesuatu yang hanya berfokus kepada kehidupan pribadinya saja [ kesehatan, umur panjang, berkat, kekayaan dll ] tetapi lebih memilih permintaan yang berkwalitas, yaitu permintaan yang menambah value atau nilai dalam kepribadian nya. Hikmat, kesabaran, pengendalian diri, kerendahan hati, hati yang dipenuhi Kasih, kemurahan, adalah beberapa contoh permintaan yang berkualitas, karena bukan saja pribadi kita yang akan merasakan, tapi orang-orang disekitar kitapun akan menerima dampaknya, ketika itu semua diberikan Tuhan kepada kita. Ketika Salomo meminta hikmat kepadaNya, Tuhan memberikan banyak masalah/persoalan dalam kehidupan Salomo supaya Salomo bisa mempraktek kan apa yang sudah dimintanya. Begitupun bagi kita, saat kita minta kesabaran/kerendahan hati/hati yang dipenuhi Kasih, Tuhan akan menghadapkan kita dengan berbagai masalah/persoalan, dengan maksud supaya kitapun bisa mempraktekkan apa yang sudah kita minta. Tuhan tidak hanya memberikan sebatas yang diminta Salomo, yaitu hikmat untuk menimbang perkara, tapi Dia menambahkan apa yang tidak diminta Salomo. ”... dan juga apa yang tidak kau minta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan sepanjang umurmu…” [1 Raja 3:13]. Karena itu tidak perlu kawatir dengan apa yang kita butuhkan, karena Dia akan menambahkan apa yang tidak kita minta, ketika kita belajar untuk mengajukan permintaan yang lebih berkualitas kepada Nya.
Banyak tokoh di dunia ini terus menginspirasi masyarakat luas untuk jangka waktu yang cukup lama. Di antaranya Martin Luther King, Jr., yang berjuang melawan diskriminasi ras di Amerika Serikat, Mother Theresa, yang rela terjun langsung ke lapangan untuk merawat orang sakit di India, William Wilberforce, yang berjuang menghapus perbudakan di Inggris, Romo Mangun yang berjuang di Yogyakarta, untuk merubah kondisi masyarakat di Kali Code, dan masih banyak lagi tokoh lainnya. Apakah kunci keberhasilan mereka? Mereka terus menjagai komitmen yang telah dibuat. Walaupun harus mengalami masa-masa berat, mereka pantang menyerah sehingga mencapai akhir perjuangan. Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang menjaga komitmen hingga akhir. Contohnya Paulus. Setelah bertobat, ia memberitakan Injil, terutama kepada bangsa bukan Yahudi. Hal ini bukan perkara yang mudah. Begitu banyak tantangan berat menghampirinya, dari kaum Yahudi, dari orang-orang bukan Yahudi, dari alam [2 Korintus 11:23-33], bahkan dari penyakit tubuhnya [2 Korintus 12:7,8]. Namun, ia tetap dapat menjaga komitmennya. Rahasianya? Dari waktu ke waktu ia menjalani pertandingan iman dengan selalu melupakan apa yang di belakang [dalam bahasa Yunani kata ’melupakan’ di sini tidak sama seperti kalau kita lupa sesuatu. Kata ini lebih berarti tidak berfokus ke masa lalu, tetapi kepada tujuan, visi hidup di depan] dan mengarahkan diri pada tujuan hidupnya, yakni memenuhi panggilan Tuhan [Filipi 3:13,14]. Apakah berbagai tantangan juga terus menghantam kita, sehingga kita sulit menjaga komitmen? Seperti Paulus, kita ini hamba yang dituntut untuk taat, maka mintalah kekuatan dari Tuhan. Seperti Paulus, kita ini hamba yang Tuhan pilih dan layakkan untuk menjadi saksi-Nya, maka ingatlah pentingnya tugas yang harus terus kita kerjakan. Sebab hanya dengan kekuatan yang datangnya dari Tuhan sajalah kita dimampukan untuk tetap setia dan tetap berkomitmen untuk mengikut dan melayani-Nya.
Pengorbanan yang tidak sia-sia 1 Korintus 15:17 dan 20 [17] Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. [20] Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Ketika kita menyaksikan film tentang penderitaan Yesus, kita bisa membayangkan betapa beratnya penderitaan yang dialami oleh Yesus. Kita merasa ngeri, walaupun hanya menyaksikan adegan di film. Apalagi kejadian yang sesungguhnya, tak terbayangkan peristiwa yang sangat mengerikan itu. Namun ada yang lebih mengerikan lagi...... Andaikan semua penderitaan yang sudah dijalani oleh Yesus itu ternyata hanya sesuatu yang percuma saja. Apa jadinya jika penderitaan yang seberat itu hanya berujung pada kematian yang mengenaskan dan ternyata tidak membuahkan hasil apa-apa? Ahhh, tak bisa dibayangkan..... Tetapi puji syukur kepada Allah Bapa yang adil dan benar, yang berkuasa di bumi dan di Sorga. DIA tidak membiarkan penderitaan dan kematian Putera-Nya itu berakhir dengan sia-sia. Sesudah kematian ada kebangkitan. Akhir hidup Yesus di dunia ini tidak berakhir dengan kematian yang memilukan, tetapi dengan kemenangan besar yang berupa kebangkitan dari antara orang mati. Kuasa dosa dan maut ditaklukkan. Manusia yang ditawan oleh belenggu dosa dibebaskan supaya menjadi umat Allah yang merdeka. Haleluya. Pengorbanan Yesus tidak sia-sia. Penderitaan yang sedemikian berat telah terbayarkan oleh kemenangan dan jiwa-jiwa yang diselamatkan. Oleh karena itu kita mempunyai dasar iman yang kokoh dan pengharapan yang pasti akan hidup kekal yang sudah disediakan bagi yang percaya kepada Dia. Dan kita mempunyai alasan yang tak terbantahkan untuk bersaksi bahwa di dalam Kristus ada jaminan keselamatan. Saudaraku, keselamatan yang sudah kita terima oleh percaya kepada Kristus adalah hasil dari sebuah pengorbanan yang teramat besar. Oleh karena itu marilah kita menjalani hidup kita dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan dan menyaksikan kebangkitan-Nya. Selamat Paskah. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Sudah Selesai
28 Maret '18
Swa Bhuwana Paksa
09 April '18
Keberadaan Sebagai Anak-Anak Allah
17 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang