SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Melalui penggarapan Bapa setiap hari [melalui berbagai peristiwa, persoalan], kita dibentuk makin dewasa rohani, hidup tidak bercacat sehingga bisa menjadi saksi untuk keselamatan orang lain.
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Tuhan Bekerja Dalam Segala Sesuatu Untuk Mendatangkan Kebaikan
Tuhan Bekerja Dalam Segala Sesuatu Untuk Mendatangkan Kebaikan
Rabu, 07 Maret 2018
Tuhan Bekerja Dalam Segala Sesuatu Untuk Mendatangkan Kebaikan
Roma 8:28-30

Dalam ayat-ayat tersebut kita diingatkan bahwa untuk supaya dalam segala sesuatu, semua peristiwa, persoalan yang terjadi dalam hidup kita mendatangkan kebaikan, ada syaratnya, yaitu mengasihi Tuhan dan terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Tuhan Yesus menyatakan bahwa mengasihi Dia berarti menuruti segala perintah-Nya [Yohanes 14:15]. Rencana Bapa adalah supaya melalui karya penebusan salib Krisus, manusia bisa diselamatkan, artinya bisa diproses untuk dikembalikan kepada rancangan semula Bapa menciptakannya, yaitu serupa dengan Penciptanya, menjadi sempurna seperti Bapa [Matius 5:48], kudus dan tidak bercacat dihadapan-Nya [Efesus 1:4, Filipi 1:10].

Hal lain yang perlu kita pahami dengan benar adalah janji tentang KEBAIKAN yang mengikuti setiap peristiwa. Tentunya kebaikan yang dimaksud bukan kebaikan menurut manusia, yaitu yang biasanya berkaitan dengan hal-hal yang menguntungkan secara jasmani/lahiriah, umpamanya: terpenuhinya kebutuhan jasmani, keberhasilan dalam pendidikan, finansial, karir, pekerjaan, promosi jabatan, kesembuhan dll. Karena hal-hal tersebut sebetulnya bukan masalah penting sepanjang kita mau hidup bertanggung jawab di dunia ini. Kebaikan menurut Tuhan dijelaskan dalam ayat 29-30 berupa: Bertumbuh dalam keserupaan dengan Tuhan Yesus, mengal...selengkapnya »
Sudah berapa lama kita menjadi orang Kristen ? Apa yang sudah kita lakukan bagi Tuhan dan Sesama ? Apakah kita selama ini masih memikirkan diri sendiri, keluarga sendiri, perusahaan/bisnis sendiri ? Kalaupun melayani juga sesungguhya hanya untuk diri sendiri, seperti popularitas diri sendiri, dll, yang selalu hanya fokus kepada diri sendiri. Ataukah sebaliknya rela mengorbankan diri demi kepentingan, kemajuan, membangun orang orang lain, pihak lain. Pernahkan kita berpikir untuk berbuah bagi Tuhan ? Berbuah berarti bermanfaat, berdampak, menjadi berkat, membawa berkat bagi orang lain. Pernahkan kita melihat pohon blimbing makan buahnya sendiri ? Ataupun buah apapun makan buahnya sendiri ? Buah yang dihasilkan oleh sebuah pohon selalu akan dinikmati oleh pihak lain. Entah itu binatang, entah itu manusia. Buah juga berguna untuk memperbanyak/multiplikasi diri. Artinya menjadikan lebih banyak yang sama/serupa, dan tidak pernah terjadi dengan berbuah pohon itu akan menggemukan diri sendiri. Jadi yang dimaksud dengan berbuah disini adalah: Pertama, menjadi berkat, berdampak, bermanfaat bagi orang-orang di lingkungannya. Semuanya tadi dapat kita lakukan melalui perkataan, pikiran, uluran tangan, tenaga, bahkan harta kita. Kedua, memperbanyak diri sendiri. Maksudnya menjadikan orang lain/sesama menjadi murid Kristus seperti kita, yang juga dapat menjadi berkat, berdampak, bermanfaat bagi lingkungannya, untuk kemudian memuridkan orang lain. Tuntunan firman Tuhan bagi kita untuk menghasilkan buah sangat jelas. Tidak alasan bagi kita untuk berdalih tidak tahu, tidak bisa. Hanya ada satu cara untuk dapat menjadi berkat, berdampak, bermanfaat, bagi lingkungan kalau kita mau. Sesungguhnya berbuah merupakan kerinduan Tuhan Yesus sendiri atas hidup kita. Maka kata Tuhan: ”Tinggalah di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu. Maka ia akan berbuah banyak.
Seorang organis gereja sedang berlatih memainkan lagu ciptaan Felix Mendelssohn, tetapi ia masih saja belum dapat memainkannya dengan baik. Karena kesal, ia lalu membereskan perlengkapan musiknya dan hendak pergi. Ia tidak memperhatikan kalau ada seseorang yang masuk dan duduk di bangku depan gereja. Saat organis tersebut beranjak pergi, orang itu maju ke depan dan bertanya apakah ia boleh memainkan lagu itu. ’Saya tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh organ ini!’ tukas sang organis. Setelah dua kali memohon dengan sopan, akhirnya sang organis yang galak itu dengan berat hati mengizinkannya. Orang itu akhirnya duduk dan memainkan musik yang indah sehingga alunan musiknya memenuhi gereja. Setelah selesai, sang organis bertanya, ’Siapakah Anda?’ Lelaki itu menjawab, ’Saya Felix Mendelssohn.’ Tadinya sang organis hampir saja melarang si pencipta lagu memainkan musik ciptaannya sendiri! Sering kali kita terlalu ingin memainkan “nada-nada kehidupan kita sendiri dan melarang Sang Pencipta memainkan musik yang indah”. Seperti halnya organis yang keras kepala itu, dengan berat hati kita melepaskan tangan kita dari tuts-tuts organ. Seperti pengalaman hidup yang dialami oleh pemazmur bahwa seluruh perjalanan hidupnya senantiasa dipimpin oleh Tuhan. Demikian juga pemazmur menyadari bahwa kalau dirinya kuat dan mampu menghadapi persoalan hidupnya itu karena semata-mata pertolongan Tuhan. Tidak cukup sampai di situ bahwa keberhasilan Daud menjadi penguasa atas Yehuda dan seluruh wilayah Israel itu karena perbuatan tangan TUHAN. Dengan demikian Daud dengan lugas berkata,”Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang [ay.5-6].” Saudara-saudara kekasih Tuhan, sudah semestinya bahwa kita harus melakukan segala kehidupan ini. Banyak hal yang dilakukan dengan baik, tetapi dalam kehidupan ini kita sering menghadapi kenyataan yang di luar kemampuan. Kita sudah memeras seluruh kemampuan tetapi berakhir dengan nihil, dan akhirnya kita sampai pada perasaan lelah dan kepayahan. Dalam keadaan seperti ini kita diingatkan kembali akan pentingnya berserah dalam pimpinan Tuhan. Dari persoalan hidup yang ringan sampai yang berat, mari kita serahkan kepada Tuhan. Biarkan tangan Tuhan yang turut memainkan “tuts” kehidupan, karena Dia sang pencipta atas kita, ijinkan Dia memimpin seluruh hidupmu, Tuhan memampukan kita menjalani kehidupan ini dengan baik dan penuh keberhasilan. Berserahlah kepada Tuhan.
Pada suatu hari ketika saya sedang berjalan-jalan di taman bermain, disitu banyak anak-anak kecil yang sedang asik bermain di wahana bermain yang ada. Tapi ada yang menarik perhatian saya yaitu, ada seorang anak kecil berdiri sendirian dipojokkan ruangan itu sambil membawa banyak mainan ditangannya. Dan tiba-tiba dia menghampiri seorang anak kecil lainnya dan tanpa alasan yang jelas lalu ia memukul anak tersebut dan merebut mainan yang dibawa anak itu. Sehingga anak yang dipukulnya langsung menangis sejadi-jadinya. Entah siapa yang mengajarkan anak itu untuk berbuat demikian dan tidak ada yang menyuruhnya. Dia hanya melakukan apa yang benar menurut keinginannya sendiri. Tidak dapat dipungkiri terkadang kita bertindak seperti anak kecil tersebut, dimana kita melakukan hal-hal yang menurut kita benar menurut keinginan daging kita tanpa melihat apakah itu sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Hal itulah yang disebut sebagai tabiat dosa, karena diri kita dilahirkan ke dunia telah membawa benih dosa. Namun jangan sampai hal itu menjadikan kita untuk seenaknya berbuat dosa terus menerus, melainkan harus bisa meninggalkan kehidupan dosa itu dengan menjaga hidup kudus dihadapan-Nya. [Roma 12:1-2] dijelaskan bahwa kita tidak mungkin dapat berkenan kepada Allah jika kita tidak memberikan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan yang kudus kepada Allah. Dan hal tersebut hanya dapat dilakukan apabila kita hidup seturut dengan Firman-Nya dan tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Sehingga kita dapat membedakan apa yang baik dan apa yang tidak berkenan dihadapan Allah. Menjaga kekudusan hidup melalui perbuatan dan tindakan sesuai dengan Firman-Nya merupakan keharusan sebagai anak-anak Allah. Itu merupakan hal yang harus kita kerjakan terus menerus selama kita hidup di dunia ini. Karena kita mempunyai tanggung jawab kepada Allah untuk hidup benar dan memberikan yang terbaik bagi Allah. Marilah kita sebagai jemaat dan tubuh Kristus selalu memperbaharui tindakan kita sesuai dengan Firman Tuhan, maka di situlah terlihat kesungguhan kita dalam mengikut Kristus. Serta menjalani hidup yang tidak lagi diperhamba oleh dosa.
Cerita dari teman kalimantan mengisahkan tentang jemaat yang digembalakan mengalami kelimpahan karena panen karet dan sawitnya melimpah. Sebagai petani yang sukses, jemaat ini ingin sekali memiliki barang-barang yang bagus. Kemudian ia pergi ke kota untuk jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Dalam perjalannya di kota, ia melihat iklan air mineral yang sejuk dari televisi. Ia mulai tertarik untuk bisa merasakan kesejukan yang dilihat di iklan itu. Akhirnya ia membeli lemari Es, televisi, DVD dan alat elektronik yang lainnya karena sedang banyaknya uang. Sesampai dirumah, ia ketemu dengan bapak pendetanya, kemudia terjadi percakapan Pendeta : “banyak sekali barang belanjaannya pak!” Jemaat : “iya pak, saya beli Lemari Es, TV, DVD, kipas angin, setrika dll [ dengan sombongnya ] Pendeta : “wah hebat ya, lalu nanti cara pakainya gimana ? la daerah kita kan belum ada listrik terus nyalahkanya bagaimana ?” Jemaat : “oh iya ya [ sambil pegangan kepala ] [ untuk menghindari malu ] ia mengatakan ndak papa pak pendeta, nanti lemari Es bisa dibuat lemari baju, dan yang penting punya.” Pendeta : heem Kisah ini bagi kita akan punya penafsiran sendiri, namun ketika saya perhatikan dari cerita tersebut saya melihat bagian yang prinsip dari jemaat ini yaitu tidak paham, dan hanya mau mengikuti kesenangan karena harta kepemilikan. Keadaan kurang paham sering kali terjadi dalam hidup kebanyakan orang ketika menerima pesan, entah tidak memperhatikan, cuek, menganggap sudah tahu dll. Dan hal inilah yang menyebabkan terbengkalainnya suatu misi atau tujuan karena kurang paham. Dalam perjalanan bersama Yesus sering kali para murid belum mengerti maksud dari Yesus ketika Tuhan Yesus memberikan suatu pesan. Dalam injil Yohanes 4 ditunjukkan bagaimana murid-murid Tuhan Yesus tidak mengerti jika Yesus sedang berbicara masa penuaian. Namun yang dipikirkan adalah makanan bukan pengajaran tentang bagaimana saat penuaian yang harus dikerjakan. Persolannya karena mereka terlalu asik dengan kondisi mereka. Bersama Yesus yang serba ada dan selama mereka bersama dengan Yesus mereka hanya melakukan kegiatan rutin tanpa memahami maksud Gurunya. Kita sering melakukan yang justru tidak berfaedah dan jauh dari maksud dan rencana Tuhan. Kecenderungan kita hanya berputar-putar dengan kegiatan yang sama dan menghabiskan energi. Oleh karenanya kita perlu memahami secara benar maksud Tuhan yang ditaruh dalam diri kita jemaat agar sesuai dengan maksud Tuhan yaitu fokus pada jiwa2 bukan asesoris yang tidak ada hubungan dengan maksud Tuhan dibumi.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tugas Generasi Kita
10 Juni '18
Kurang Paham
28 Mei '18
Belenggu Takhayul
04 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang